Sidoarjo, Kabar SDGs – Kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan dampaknya oleh para agen di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Setelah momentum Idulfitri 2026, para pembeli disebut mulai mengeluhkan lonjakan harga yang terjadi di pasaran.
Salah satu agen kedelai impor, Muhammad Fardani, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga sudah terlihat sejak menjelang Lebaran. Bahkan setelah hari raya, harga kembali naik sekitar Rp200 per kilogram.
“ Harga kedelai impor kualitas bagus, saat ini saya jual di harga 10.600 rupiah. Sebelumnya di harga 10.400 hingga 10.500 rupiah,” ucap pria yang akrab disapa Dani.
Kenaikan harga tersebut tidak hanya berdampak pada pembeli, tetapi juga memengaruhi ketersediaan pasokan. Dani mengaku sempat menerima informasi dari distributor terkait keterlambatan pengiriman kedelai akibat kondisi harga yang tidak stabil. Hal serupa juga terjadi di tingkat agen, di mana distribusi yang biasanya rutin setiap pekan sempat mengalami penundaan.
“Saya biasanya diberi tahu oleh distributor jika pasokan kedelai telat. Bahkan di agen sini, juga sempat telat dua harian. Penyebabnya apa, saya juga tidak tahu,” ujar Dani.
Untuk menjaga kelangsungan usahanya, Dani menyiasati kondisi tersebut dengan menyediakan beberapa merek kedelai impor asal Amerika Serikat dengan variasi harga dan kualitas. Langkah ini dilakukan agar pelanggan tetap bisa mendapatkan pasokan meski harus menyesuaikan pilihan produk.
“Disini saya menjual empat merek, hiu, bola, senggigi dan BW. Keempatnya memiliki harga yang berbeda, namun kualitasnya tidak terlalu beda jauh,” jelas Dani.
Ia menambahkan, untuk kualitas unggulan biasanya berasal dari merek hiu dan bola yang banyak digunakan oleh perajin tahu. Sementara jenis senggigi lebih diminati oleh perajin tempe. Harga keempat jenis kedelai tersebut berkisar antara Rp10.450 hingga Rp10.600 per kilogram.
Meski harga kedelai impor terus mengalami kenaikan setiap tahun, para perajin di wilayah tersebut masih enggan beralih ke kedelai lokal. Hal ini menjadi alasan Dani tidak menyediakan stok kedelai dalam negeri, selain karena ketersediaannya yang dinilai terbatas.
“Kalau perajin tahu dan tempe disini, tidak mau pakai kedelai lokal, karena katanya hasil produksinya tidak sebagus jika memakai kedelai impor,”
Dalam operasionalnya, Dani rutin mendatangkan kedelai impor sebanyak sembilan ton setiap pekan. Pelanggannya tidak hanya berasal dari wilayah Sidoarjo, tetapi juga dari luar provinsi hingga luar pulau, yang sebagian besar merupakan perajin tahu dan tempe.
Di tengah kondisi ini, Dani berharap harga kedelai dapat kembali stabil agar para pelaku usaha tetap bisa menjalankan produksinya dengan lancar. Ia menilai keberlangsungan produksi tahu dan tempe sangat penting karena kedua jenis makanan tersebut menjadi sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat.












Discussion about this post