Balikpapan, Kabar SDGs – Lonjakan harga bahan baku mulai dirasakan pelaku usaha tahu rumahan di sentra produksi Tahu-tempe Somber. Di tengah meningkatnya biaya produksi, para pengusaha memilih bertahan dengan tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan tetap setia.
Kenaikan harga kedelai sebagai bahan utama, ditambah mahalnya plastik untuk kemasan, membuat beban produksi semakin berat. Kondisi ini mendorong para pelaku usaha mencari cara agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pasar yang sudah dibangun.
Aktivitas produksi di sejumlah tempat masih berlangsung seperti biasa. Namun, tekanan biaya sudah mulai dirasakan, termasuk oleh Sri, salah satu pemilik usaha tahu di kawasan tersebut. Ia mengaku kenaikan harga bahan baku dan kemasan cukup berdampak pada usaha yang dijalankannya.
“Biaya naik dari kedelai sama plastik, tapi produksi masih jalan,” terangnya, Selasa 7 April 2026.
Menurutnya, menaikkan harga bukanlah pilihan yang mudah karena dikhawatirkan akan berpengaruh langsung terhadap jumlah pembeli. Ia memilih menahan harga jual sambil melihat situasi pasar, meskipun harus menghadapi peningkatan biaya produksi.
“Kalau harga dinaikkan terlalu cepat, pembeli bisa berkurang,” tuturnya.
Sementara itu, sebagian pelaku usaha lainnya mulai mengambil langkah dengan menaikkan harga secara bertahap, dari sekitar Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu. Namun, kenaikan tersebut belum mampu menutupi seluruh biaya produksi yang terus meningkat.
“Pasti berkurang, karena bahan baku naik semua,” katanya.
Meskipun keuntungan semakin menipis, para pelaku usaha tetap mempertahankan produksi dan tidak mengurangi tenaga kerja. Mereka berharap harga bahan baku dapat segera stabil agar usaha tahu tempe rumahan tetap bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.












Discussion about this post