Cianjur, Kabar SDGs – Diskusi buku Cinta Kopi dan Kekuasaan Kesaksian Nyai Apun Gencay karya Saep Lukman digelar di Teater Kecil Kopi Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Rabu (16/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif sastra, sejarah, dan realitas sosial dalam satu forum terbuka.
Puluhan peserta dari berbagai kalangan hadir dalam diskusi tersebut, mulai dari mahasiswa, akademisi, petani kopi, hingga budayawan dan peneliti. Selain menghadirkan penulis, kegiatan ini juga melibatkan Tosca Santoso dan Hendi Jo sebagai narasumber.
Diskusi berlangsung interaktif dengan menyoroti persoalan sejarah kopi, kolonialisme, hingga perubahan sosial yang terjadi di Cianjur. Dalam pemaparannya, Saep Lukman menyampaikan bahwa novel yang ia tulis merupakan bentuk interpretasi terhadap sejarah yang selama ini dinilai terlalu berpihak pada kelompok tertentu.
“Sejarah tidak hanya milik mereka yang berkuasa, tetapi juga milik mereka yang hidup dan merasakannya. Novel ini adalah upaya menghadirkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan,” ujar Saep.
Dalam pembahasan, terungkap bahwa wilayah Priangan, termasuk Cianjur, pernah menjadi pusat produksi kopi dunia pada masa kolonial melalui sistem tanam paksa atau Preangerstelsel. Sistem tersebut menjadikan kopi sebagai komoditas ekspor utama, namun di sisi lain membawa dampak sosial yang berat bagi masyarakat setempat.
Saep menggambarkan tokoh Apun dalam novelnya sebagai representasi pengalaman kolektif masyarakat. Hubungannya dengan Ambu menjadi ruang penting dalam mewariskan nilai, tradisi, dan ketahanan hidup di tengah tekanan. Sementara itu, tokoh Yudira hadir sebagai simbol kesadaran kritis generasi muda yang mulai mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi.
“Perlawanan itu tidak selalu lantang. Kadang ia hadir dalam diam, dalam pilihan kecil yang penuh risiko,” tambahnya.
Sementara itu, Tosca Santoso menyoroti sisi lain sejarah kopi yang menurutnya sarat dengan praktik eksploitasi, meskipun membawa nama besar bagi Cianjur di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa petani pada masa itu kerap tidak memiliki pilihan selain mengikuti sistem yang ada.
“Dalam sejarahnya, kopi adalah simbol kekuasaan. Ia menghubungkan pasar global, tetapi memutus kedaulatan lokal. Itu yang harus kita pahami secara kritis hari ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam konteks saat ini, industri kopi seharusnya bergerak menuju sistem yang lebih adil dengan memastikan kesejahteraan petani sebagai aktor utama. Transparansi dalam rantai distribusi menjadi kunci agar praktik serupa tidak kembali terulang.
Hendi Jo dalam kesempatan tersebut mengaitkan isi novel dengan sejarah lokal Cianjur, khususnya pada masa pemerintahan Raden Aria Wiratanu Datar III. Ia menilai relasi antara elite lokal dan kekuasaan kolonial menjadi faktor penting dalam memahami dinamika sosial pada masa itu.
“Sejarah tidak pernah tunggal. Apa yang dilakukan Saep adalah menghadirkan kemungkinan tafsir lain yang lebih dekat dengan pengalaman manusia,” terang Hendi.
Ia juga mengapresiasi keberanian penulis dalam mengangkat isu ketimpangan sosial dan relasi kuasa yang masih relevan hingga saat ini. Menurutnya, diskusi semacam ini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus mendorong perbaikan di masa depan.
“Diiskusi semacam ini tentu menjadi penting, sebab kita berbicara tidak hanya berhenti pada pembacaan masa lalu, tetapi juga menyoroti pentingnya membangun masa depan industri kopi yang lebih berkeadilan. Sebab sejarah harus menjadi pelajaran agar praktik eksploitasi tidak terulang,” paparnya.
Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan tari dari anak-anak petani Sarongge, yang menambah nuansa kultural dalam forum diskusi. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kolaborasi antara sastra, sejarah, dan kebijakan publik dapat terus diperkuat guna menciptakan pemahaman yang lebih utuh terhadap dinamika sosial masyarakat.












Discussion about this post