Jakarta, Kabar SDGs – Danantara Investment Management resmi membentuk anak usaha baru bernama PT Daya Energi Bersih Nusantara yang akan fokus mengelola proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau waste to energy (WtE). Pembentukan perusahaan ini disampaikan dalam diskusi media di Wisma Danantara, Kamis (9/4/2026).
Director of Investment Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa perusahaan tersebut akan menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan proyek PSEL yang berada di bawah naungan Danantara. “PT Daya Energi Bersih Nusantara ini adalah perusahaan yang baru dibentuk oleh Danantara Investment Management di 1 April 2026 kemarin yang memiliki fokus untuk menjalankan program PSEL,” kata Fadli.
Ia menambahkan bahwa Denera tidak hanya berperan sebagai pemegang saham, tetapi juga akan bertindak sebagai operator dalam proyek-proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik. Menurutnya, pengembangan PSEL harus terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. “Satu hal yang harus difokuskan betul adalah PSEL, tetapi seperti yang saya sampaikan sebelumnya di awal bahwa PSEL atau WtE ini merupakan katalis dari pengelolaan sampah yang terintegrasi,” ujarnya.
Pengelolaan tersebut mencakup seluruh rantai proses, mulai dari sampah yang dihasilkan di tingkat rumah tangga, pengangkutan, hingga pengolahan di fasilitas terpadu. Ke depan, sistem ini juga direncanakan mencakup sampah industri serta limbah berbahaya.
Sementara itu, Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, menyoroti bahwa persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Ia mengutip data World Bank yang menunjukkan sekitar 50 persen sampah di Indonesia belum tertangani dengan baik dan berakhir di lingkungan terbuka seperti jalanan dan sungai. “Sampah di Indonesia itu 50%, ini World Bank ya, tidak ada Indonesia-nya sama sekali, 50% sampah di Indonesia lari di jalanan dan di kali (sungai), based on surveinya World Bank,” kata Rohan.
Menurutnya, konsep waste to energy dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi permasalahan tersebut, karena sampah tidak hanya ditumpuk tetapi langsung diolah menjadi energi listrik. Ia juga menilai sistem ini dapat mendorong mekanisme pengangkutan sampah yang lebih tertata dari tingkat rumah tangga. “Konsep waste-to-energy supaya orang buang sampah di tempatnya, artinya dia akan pasti diangkut, berarti yang angkut gratis dari rumah. Mulainya dari situ, itu dilakukan oleh Pemda,” jelasnya.
Selain itu, model ini dinilai mampu mengurangi beban anggaran pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan lahan tempat pembuangan akhir yang selama ini membutuhkan biaya besar.












Discussion about this post