• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
4 Juni 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home OPINION

Tradisi Nyadran, Wisata Religi Menjelang Ramadhan

by SDGS Admin
15 Maret 2023
Tradisi Nyadran, Wisata Religi Menjelang Ramadhan
68
SHARES
426
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Banyak kegiatan sosial, keagamaan, dan budaya muncul saat menjelang bulan suci Ramadhan di Indonesia, khususnya di wilayah yang banyak warganya bersuku Jawa. Salah satu kegiatan tersebut adalah tradisi Nyadran.

Kegiatan Nyadran tersebar di dalam masyarakat suku Jawa, terkait tata cara dan waktu pelaksanaannya tidaklah sama di setiap wilayah. Ada yang menyelenggarakannya di awal bulan Sya’ban (Ruwah), ada yang di pertengahan, bahkan ada juga yang di akhir bulan atau meper bulan Ramadhan.

BACA JUGA

Wamenpar Apresiasi Tradisi Blangikhan sebagai Penggerak Pariwisata Berbasis Budaya di Lampung

Wamenpar Apresiasi Tradisi Blangikhan sebagai Penggerak Pariwisata Berbasis Budaya di Lampung

24 Februari 2026
Simardangiang Bangun Benteng Budaya dan Ekonomi Hijau

Simardangiang Bangun Benteng Budaya dan Ekonomi Hijau

15 Februari 2026
Makan Bajamba Tradisi Kebersamaan yang Bertahan di Sumatera Barat

Makan Bajamba Tradisi Kebersamaan yang Bertahan di Sumatera Barat

7 Januari 2026

Biasanya, umat Islam yang menyelenggarakan kegiatan Nyadran adalah wilayah yang mayoritas warganya lekat dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Hal tersebut bisa dimaklumi, dikarenakan NU dikenal menghormati dan mengayomi tradisi-tradisi Nusantara yang dianggap baik dan Islami.

Khusus di wilayah yang basis warganya berorganisasi Muhammadiyah, mayoritas tidak melaksanakan kegiatan tradisi Nyadran. Meskipun begitu, tetapi banyak juga warga Muhammadiyah yang menghormati tradisi tersebut. Sehingga, ada harmoni dan toleransi meskipun berbeda pendapat.

Mendoakan Leluhur dan Ingat Kematian

Nyadran merupakan sebuah tradisi dalam kehidupan masyarakat Jawa yang pada awal merupakan budaya untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal. Seiring berjalannya waktu, Nyadran mengalami proses perkembangan hingga menjadi adat dan tradisi hingga saat ini. Nyadran pun saat ini menjadi salah satu tradisi masyarakat Jawa yang diselenggarakan setiap menjelang datangnya bulan Ramadan.

Nyadran biasa dikenal juga dengan sebutan Ruwahan. Hal itu dikarenakan dilakukan pada bulan Ruwah, yaitu sebuah bulan dalam penanggalan Jawa yang sama dengan Bulan Sya’ban dalam penanggalan Hijriyah. Jadi, tradisi Nyadran ini merupakan sebuah produk akulturasi antara budaya Jawa dengan Islam.

Salah satu inti dari tradisi Nyadran adalah mendoakan orang tua atau leluhur yang sudah meninggal dunia. Dalam agama Islam, mendo’akan orang meninggal, khususnya orang tua, guru, dan yang seseorang dikenal merukapan amalan yang sangat dianjurkan. Bagi orang yang meninggal, kiriman do’a merupakan hadiah yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu.

Selain itu, tradisi nyadran juga bertujuan untuk mengingat kematian. Kematian merupakan hal yang pasti bagi semua manusia yang pernah hidup. Diharapkan, ketika manusia mengingat kematian, maka akan memperbanyak amal kebaikan dan mengurangi amal yang buruk. Diketahui, mengingat kematian merupakan amalan yang diutamaan juga dalam Islam.

Tradisi Nyadran juga dianggap baik dalam dalam bidang sosial. Kegiatan ini dapat berfungsi untuk melestarikan budaya gotong royong di wilayah tersebut. Contohnya, dengan menghadiri acara tersebut, masyarakat bersama-sama membersihkan makam para leluhur. Orang yang kesehariannya jarang berkunjung dan membersihkan makam leluhurnya, jadi ikut hadir dan bergotong royong karena hadir di acara tersebut.

Wisata Religi dan Magnet Ekonomi

Tradisi Nyadran juga dapat menjadi bagian dari wisata religi. Banyak tokoh ulama penyebar agama Islam terkenal yang makamnya tersebar di wilayah DIY.

Saat bulan Ruwah atau menjelang Ramadhan, makam tersebut selalu ramai peziarah, bukan hanya dari DIY saja, tetapi juga datang wilayah lain di pulau Jawa dengan rombongan. Terkait hal itu, maka peziarah tersebut bisa juga disebut wisatawan dan makamnya bisa disebut tempat wisata.

Selain makam, wisata religi juga bertempat di tempat ibadah seperti masjid. Saat ini, banyak wisatawan yang berwisata ke masjid, bisa karena sejarahnya dan bisa juga karena bentuknya yang unik dan megah. Sehingga, masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga tempat wisata dan sebagai magnet ekonomi.

Tradisi Nyadran bisa menjadi magnet ekonomi wilayah sekitarnya. Ketika suatu makam dan masjid menjadi lokasi nyadran, maka secara otomatis banyak pedagang yang membuka lapak untuk berdagang di sekitar lokasi. Para pedagang ada yang berjualan di bidang kuliner, pakaian, souvenir, dan sebagainya. Bisa dikatakan, tradisi Nyadran menyentuh berbagai segi, mulai dari bidang ibadah, sosial, hingga ekonomi.

*Penulis merupakan Jurnalis KabarSDGs.com lulusan jurusan Tafsir dan Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga menjadi Guru TIK dan Jurnalistik di SDNU Pemanahan Pleret

Share27SendTweet17
Previous Post

Indonesia Ajak Australia Tingkatkan Komitmen Menjaga Keamanan Maritim Bersama

Next Post

Perusahaan BUMN Didorong untuk Tingkatkan Kinerja Komunikasi dan TJSL Berkelanjutan

Next Post
Perusahaan BUMN Didorong untuk Tingkatkan Kinerja Komunikasi dan TJSL Berkelanjutan

Perusahaan BUMN Didorong untuk Tingkatkan Kinerja Komunikasi dan TJSL Berkelanjutan

Wow, Menteri Perdagangan akan Musnahkan Pakaian Bekas Impor Senilai Puluhan Miliar Rupiah

Wow, Menteri Perdagangan akan Musnahkan Pakaian Bekas Impor Senilai Puluhan Miliar Rupiah

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Sepuluh Tokoh Dikukuhkan Sebagai Warga Kehormatan Suku Tengger

Sepuluh Tokoh Dikukuhkan Sebagai Warga Kehormatan Suku Tengger

3 Juni 2026
DPRD Surabaya Soroti Potensi Pajak Rumah Kos

DPRD Surabaya Soroti Potensi Pajak Rumah Kos

3 Juni 2026
Pemerintah Percepat Pemulihan UMKM Pascabencana Sumatera

Pemerintah Percepat Pemulihan UMKM Pascabencana Sumatera

3 Juni 2026
PLN Lampung Perluas Infrastruktur Kendaraan Listrik

PLN Lampung Perluas Infrastruktur Kendaraan Listrik

3 Juni 2026
Unwar olah Bonggol Pisang jadi Produk Pangan Bernilai Ekonomi

Unwar olah Bonggol Pisang jadi Produk Pangan Bernilai Ekonomi

2 Juni 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    454 shares
    Share 182 Tweet 114
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    180 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    184 shares
    Share 74 Tweet 46
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    178 shares
    Share 71 Tweet 45

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.