Padang, Kabar SDGs – Di Sumatera Barat, tradisi makan bersama yang dikenal dengan sebutan makan bajamba masih terus dijalani hingga kini. Tradisi ini tidak sekadar menghadirkan suasana makan ramai-ramai, tetapi menyimpan nilai kebersamaan dan tata krama yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Makan bajamba kerap dilakukan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara adat, perayaan keagamaan, hingga kegiatan bersama di kampung. Suasananya sederhana, namun terasa hangat. Orang-orang duduk bersama tanpa jarak, berbagi hidangan dari wadah yang sama, dan menikmati kebersamaan yang tercipta secara alami.
Dalam pelaksanaannya, beberapa orang makan bersama dari satu wadah besar yang disebut dulang. Di dalam dulang tersaji nasi dan aneka lauk yang telah disiapkan sebelumnya. Jumlah orang dalam satu dulang biasanya sudah ditentukan. Tidak ada piring pribadi, semua duduk melingkar, menandai kebersamaan sejak awal acara dimulai.
Posisi duduk juga menjadi bagian penting dari tradisi ini. Seluruh peserta duduk bersila di lantai, saling berhadapan, tanpa menggunakan kursi. Posisi tersebut menciptakan suasana yang lebih akrab. Obrolan ringan kerap muncul di sela-sela makan, meski tetap dalam koridor sopan santun yang dijaga bersama.
Makan bajamba memiliki aturan tidak tertulis yang dipatuhi oleh semua orang. Saat mengambil lauk, tidak boleh sembarangan atau berlebihan. Biasanya, lauk diambil dari bagian luar dulang agar semua kebagian. Tidak ada sikap memilih-milih makanan, karena rasa saling menghormati menjadi nilai utama dalam tradisi ini.
Hidangan yang disajikan umumnya merupakan masakan khas Minangkabau. Rendang, gulai ayam, gulai ikan, sambal lado, serta aneka sayur menjadi menu yang sering hadir. Masakan tersebut biasanya dimasak bersama-sama oleh warga sebelum acara dimulai, sehingga proses kebersamaan sudah terasa sejak tahap persiapan.
Nilai kesetaraan sangat kental dalam satu dulang makan bajamba. Tidak ada perbedaan status sosial. Tua, muda, tokoh adat, maupun warga biasa duduk dan makan bersama. Dari sini, makna makan tidak lagi sekadar soal mengenyangkan perut, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama.
Di tengah perubahan zaman, makan bajamba masih bertahan di banyak nagari, terutama di daerah yang kuat memegang adat. Meski sejumlah acara kini beralih menggunakan katering atau sistem prasmanan, tradisi ini tetap dipertahankan dalam acara adat dan keagamaan karena dianggap sebagai bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.
Kesederhanaan menjadi kekuatan utama makan bajamba. Duduk bersama, berbagi hidangan, dan saling menghargai membuat tradisi ini tetap relevan. Di tengah gaya hidup yang semakin individual, makan bajamba hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat.












Discussion about this post