Kota Tanjungpinang, Kabar SDGs – PT Indojaya Agrenusa (PT Japfa) angkat bicara menanggapi isu kelangkaan stok ayam di pasar lokal Kepulauan Riau yang dinilai terjadi bersamaan dengan besarnya pengiriman ke wilayah Batam. Manajemen perusahaan menegaskan distribusi ayam ras potong tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah operasional utama, yakni Pulau Bintan yang meliputi Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang.
Perwakilan Manajemen PT Japfa, Roberto Cozyro, mengatakan bahwa pengiriman ayam ke Batam hanya dilakukan setelah pasar lokal dinyatakan terpenuhi. Menurutnya, Bintan dan Tanjungpinang merupakan prioritas utama dalam sistem distribusi perusahaan. “Prioritas kami tetap Bintan dan Tanjungpinang. Setelah tercukupi, baru kelebihannya kami kirim ke Batam,” ujar Roberto saat dihubungi seputarkita.co, Selasa, 13 Januari 2026.
Roberto menjelaskan, kapasitas panen harian PT Japfa saat ini berada di kisaran 6.000 hingga 10.000 ekor ayam. Distribusi hasil panen tersebut dilakukan melalui mekanisme delivery order (DO) yang aktif setiap hari. “Tiga DO untuk wilayah Bintan-Tanjungpinang dan tiga DO untuk wilayah Batam,” katanya.
Terkait keluhan masyarakat soal tingginya harga ayam di Pulau Bintan, Roberto menegaskan bahwa harga ayam dari kandang tetap stabil dan mengacu pada ketentuan pemerintah. Ia menyebut harga jual di tingkat kandang mengikuti harga acuan yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). “Harga ayam dari kandang kami mengikuti harga yang ditetapkan BAPANAS, yaitu Rp25.000 per kilogram,” jelasnya.
PT Japfa juga membantah anggapan bahwa pengiriman ayam ke Batam didorong oleh keinginan mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi. Menurut Roberto, harga jual dari kandang dipastikan sama untuk pasar Bintan maupun Batam. Batam, kata dia, diposisikan sebagai pasar strategis untuk mengantisipasi kelebihan stok di wilayah produksi. “Harga jual dari kandang dipastikan sama baik untuk pasar Bintan maupun Batam. Pasar Batam dipandang strategis untuk mengantisipasi kelebihan stok atau overstock,” ujarnya.
Selain melayani pasar domestik, PT Japfa juga menjalankan pengiriman ayam untuk kebutuhan ekspor dengan volume sekitar 25.000 ekor dalam sekali pengiriman. Sementara itu, menanggapi dugaan adanya permainan harga atau penimbunan di tingkat distribusi, perusahaan menegaskan hanya bekerja sama dengan broker yang memiliki komitmen menjaga stabilitas harga.
“Kami melakukan seleksi ketat terhadap para mitra. Audit internal kami lakukan dengan hanya mempertahankan broker yang bersedia menjaga integritas rantai pasok demi melindungi pedagang kecil serta konsumen akhir,” pungkas Roberto.












Discussion about this post