Jakarta, Kabar SDGs – Film Pangku karya Reza Rahadian resmi mengakhiri penayangan di bioskop pada 19 Desember 2025 setelah mencatatkan 562.332 penonton selama 41 hari tayang di seluruh Indonesia. Meski telah turun layar, film ini kembali menarik perhatian publik setelah dirilis di platform digital dan langsung menempati posisi teratas di Netflix Indonesia sejak 23 April 2026.
Film ini dibintangi oleh Claresta Taufan sebagai Sartika, bersama Fedi Nuril, Christine Hakim, Shakeel Fauzi, serta Jose Rizal Manua. Diproduksi oleh Gambar Gerak, film ini pertama kali diperkenalkan di Busan International Film Festival ke-30 sebelum akhirnya tayang di bioskop nasional mulai 6 November 2025.
Kesuksesan Pangku tidak hanya terlihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari prestasi yang diraih. Film ini membawa pulang empat penghargaan di ajang BIFF serta meraih empat penghargaan di Festival Film Indonesia 2025, termasuk kategori Film Terbaik.
Karya ini terinspirasi dari pengalaman langsung Reza Rahadian saat melakukan pengambilan gambar di kawasan Pantura dalam proyek serial mini sebelumnya. Dari sana, ia melihat fenomena warung kopi pangku yang menjadi ruang interaksi antara sopir truk dan para perempuan pelayan, sebuah realitas sosial yang jarang diangkat dalam perfilman Indonesia, terutama dari sudut pandang perempuan.
Seorang penggemar film, Rukimawan, membagikan kesannya setelah menonton film tersebut. “Film Pangku masuk kategori kedua, dan sekarang ada di Netflix,” tulisnya, merujuk pada film yang menyisakan keheningan setelah selesai ditonton. Ia juga menilai karya ini lahir bukan sekadar dari riset, melainkan dari pengalaman emosional yang mendalam. “Film ini bukan dibuat dari riset semata, tapi dari rasa yang sudah lama disimpan,” tulisnya.
Rukimawan turut memuji akting para pemain, khususnya Claresta Taufan yang dinilai mampu memerankan kompleksitas karakter sebagai perempuan, ibu, dan istri dalam satu sosok. Ia juga menyoroti penampilan Shakeel Fauzi serta Christine Hakim yang berhasil menghadirkan karakter dengan lapisan emosi yang kuat.
Menurutnya, kekuatan utama film ini terletak pada karakter yang tidak hitam putih, melainkan penuh konflik dan latar belakang masing-masing. Cerita yang disuguhkan menggambarkan realitas kehidupan yang keras, khususnya bagi perempuan dari kalangan bawah yang harus bertahan dalam kondisi sulit.
Film berdurasi 1 jam 44 menit ini juga disebut sebagai bentuk penghormatan Reza Rahadian kepada ibunya yang membesarkannya sebagai orang tua tunggal. Narasi yang dibangun menghadirkan perjalanan hidup Sartika yang penuh tekanan, tanpa ruang aman yang benar-benar stabil sepanjang cerita.
Respon penonton di platform digital pun menunjukkan dampak emosional yang kuat. Salah satu penonton menuliskan kesannya tentang suasana film yang terasa begitu nyata. “Kumuh banget tempatnya, kita yang nonton berasa ada di situ,” tulisnya.
Penonton lain, Meldha Bernas, juga mengungkapkan kesan mendalam setelah menyaksikan film tersebut. “Film ini jangan Cuma ditonton, tapi dirasain. Kalo perasaan kalian sama kaya aku (terganggu) berarti film ini keren dan bagus. Ini yang mau disampaikan sama Reza Rahadian di kehidupan Tika bener-bener nyampe ke kita,” tulisnya.
Dengan capaian penonton, penghargaan, serta respons emosional dari publik, Pangku dinilai bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga menjadi karya penting yang mengangkat realitas sosial secara jujur dan menyentuh.










Discussion about this post