Medan, Kabar SDGs – Tahun Baru Imlek bukan sekadar hari libur, melainkan momentum penting bagi masyarakat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga, merayakan kebersamaan, sekaligus menyambut awal yang baru. Perayaan ini menjadi penanda berakhirnya tahun lama dan tumbuhnya harapan akan kemakmuran, kesehatan, serta kebahagiaan di tahun yang akan datang.
Menjelang Imlek, suasana rumah biasanya dipenuhi aktivitas membersihkan dan menghias. Poster merah berisi bait puisi, gambar khas Tahun Baru Imlek, serta lampion merah menghiasi berbagai sudut rumah. Tradisi tersebut diyakini sebagai simbol menyambut keberuntungan sekaligus menyingkirkan hal-hal buruk. Momen ini juga sering dimanfaatkan untuk pulang kampung dan berkumpul bersama sanak keluarga yang jarang bertemu.
Pada malam pergantian tahun, bunyi petasan dan kembang api kerap memecah langit sebagai perlambang pengusir nasib buruk. Anak-anak menerima angpao atau uang keberuntungan, sementara orang dewasa saling bertukar ucapan selamat Tahun Baru Imlek. Beragam kesenian tradisional seperti tabuhan gendang, gong, hingga tarian naga dan barongsai turut menambah semarak suasana.
Di balik kemeriahan itu, Imlek selalu identik dengan kehadiran kue keranjang. Kue bertekstur kenyal dan bercita rasa manis ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol yang sarat makna bagi masyarakat Tionghoa. Kue keranjang dikenal dengan sebutan nian gao dalam bahasa Mandarin atau ti kwe dalam dialek Hokkien, yang berarti kue tahun.
Keberadaan kue keranjang memiliki sejarah panjang yang lekat dengan berbagai cerita dan kepercayaan. Dalam legenda Tiongkok, kue ini diyakini sebagai persembahan untuk menghindari gangguan makhluk buas bernama Nian. Ada pula kepercayaan bahwa kue keranjang disajikan untuk “menutup mulut” Dewa Dapur agar tidak menyampaikan hal buruk kepada Kaisar Giok menjelang pergantian tahun.
Sejarah lain mengaitkan kue keranjang dengan kisah Wu Zixu, jenderal Kerajaan Wu pada masa Periode Musim Semi dan Gugur. Dalam cerita tersebut, fondasi tembok kota yang terbuat dari bahan mirip tepung beras ketan mampu menyelamatkan rakyat dari kelaparan saat pengepungan. Dari kisah inilah, nian gao kemudian dibuat untuk mengenang jasanya dan berkembang menjadi sajian khas Imlek.
Bentuk kue keranjang yang bulat melambangkan keutuhan dan kebersamaan keluarga, sementara rasa manisnya merepresentasikan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Seiring waktu, kue keranjang hadir dalam berbagai inovasi rasa seperti cokelat, keju, hingga pandan, tanpa meninggalkan makna filosofis yang melekat.
Lebih dari sekadar makanan, kue keranjang menjadi media pewarisan nilai budaya dan kekeluargaan dari generasi ke generasi. Melalui aroma dan cita rasanya, kue ini menyatukan kenangan, tradisi, dan harapan, menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek hingga saat ini.












Discussion about this post