Jakarta, Kabar SDGs – Peppermint telah lama menjadi rasa yang identik dengan musim dingin dan perayaan Natal, jauh sebelum pumpkin spice mendominasi musim gugur. Permen tongkat, peppermint bark, hingga peppermint mocha kini menjadi penanda kuat datangnya akhir tahun. Namun, keterkaitan peppermint dengan musim dingin sejatinya menyimpan tanda tanya, mengingat tanaman ini justru dipanen pada musim semi dan panas, berbeda dengan labu dan apel yang jelas berakar pada musim gugur.
Sejumlah sejarawan menilai keterikatan peppermint dengan Natal kemungkinan besar berawal dari popularitas candy cane atau permen tongkat. Carly Schildhaus, Direktur Komunikasi National Confectioners Association, menyebut permen ini sebagai ikon utama liburan musim dingin. “Permen tongkat adalah salah satu kudapan paling populer di musim liburan musim dingin, dan 75 persen orang Amerika lebih menyukai permen tongkat peppermint klasik dibandingkan jenis lainnya,” ujarnya.
Jejak sejarah candy cane diperkirakan bermula pada abad ke-17 di Eropa. Kisah yang banyak beredar menyebut seorang pemimpin paduan suara di Katedral Cologne, Jerman, meminta pembuat kue setempat membuat batang gula putih yang dibentuk menyerupai tongkat gembala. Tujuannya bukan hanya agar anak-anak tetap tenang selama misa Natal, tetapi juga untuk mengenalkan kisah kelahiran Yesus. Bentuk melengkung tersebut melambangkan tongkat para gembala yang mengunjungi bayi Yesus, memberi makna simbolik pada permen tersebut.
Memasuki awal abad ke-20, permen tongkat mulai dikenal luas di Amerika Serikat. Pola garis merah dan putih yang kini ikonik konon diciptakan oleh seorang pembuat permen di Albany, Georgia, meski asal-usul pastinya tidak pernah benar-benar terkonfirmasi. Hingga kini, candy cane menjadi bagian tak terpisahkan dari Natal, bahkan memicu perdebatan kecil tentang cara terbaik menikmatinya. “Ketika ditanya cara yang benar untuk memakan permen tongkat, 54 persen orang mengatakan mereka memulai dari ujung lurus, sementara 30 persen dari ujung melengkung,” kata Schildhaus. “Sebanyak 16 persen lainnya memilih mematahkan permen tersebut menjadi beberapa bagian.”
Namun, sejarah peppermint tidak berhenti pada permen tongkat. Tanaman ini telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan tradisional. Kandungan mentol di dalamnya memberikan sensasi dingin yang efektif meredakan gangguan pencernaan seperti sakit perut serta membantu melegakan pernapasan, keluhan yang kerap muncul pada musim dingin.
Sensasi dingin peppermint berasal dari mentol, senyawa kimia alami yang memengaruhi persepsi suhu tubuh. Rasheed Perry, ilmuwan di Departemen Studi Pangan dan Gizi Universitas New York, menjelaskan, “Mentol berinteraksi dengan sistem pengatur suhu internal tubuh, yaitu kompas alami yang memberi tahu kita apakah sesuatu terasa panas atau dingin. Zat ini menipu tubuh seolah-olah merasakan sesuatu yang dingin, padahal suhunya tidak berubah.”
Meski peppermint memberikan efek menyejukkan, muncul pertanyaan mengapa rasa dingin justru digemari saat musim dingin yang sudah terasa menusuk. Jika musim gugur memunculkan selera terhadap rasa hangat seperti kayu manis dan rempah, musim dingin justru memicu keinginan terhadap sensasi mentol yang dingin. Helene Hopfer, profesor madya ilmu pangan di Pennsylvania State University, mengakui belum ada jawaban pasti. “Kami sebenarnya tidak benar-benar tahu mengapa hal ini berkembang seperti itu,” ujarnya. “Saat musim dingin, cuaca terasa dingin. Bisa jadi ini adalah cara menikmati sensasi dingin tanpa harus benar-benar berada di luar dalam udara dingin.”
Terlepas dari asal-usulnya, keterikatan peppermint dengan Natal tampaknya akan terus bertahan. Candy cane dan aneka kudapan peppermint masih menjadi bagian penting dari suasana liburan, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena asosiasi emosional yang menyertainya. Hopfer menilai makanan musiman berperan besar dalam membentuk perasaan tersebut. “Semua ini berkaitan dengan bagaimana, di sekitar hari raya, kita menikmati makanan khas tertentu bersama orang-orang terdekat, biasanya pada masa ketika kita tidak terlalu tertekan,” katanya.
Ia menambahkan, “Tidak umum orang memakan peppermint bark di luar musim liburan. Semua ini membentuk asosiasi di otak kita ketika mengonsumsi makanan tertentu, bahwa ‘saya merasa rileks, saya merasa bahagia, saya merasa gembira’.” Dengan demikian, peppermint bukan sekadar rasa, melainkan simbol musim dingin yang sarat kenangan dan kehangatan emosional.












Discussion about this post