Krui, Kabar SDGs – Musim penangkapan ikan Blue Marlin, yang biasa disebut “Tuhuk” oleh masyarakat Pesisir Barat Lampung, kembali hadir dan menarik perhatian para nelayan. Ikan ini sering tampak dengan banyak jumlah di perairan lepas Dermaga Kuala Stabas, Krui, antara bulan Maret hingga Juni.
Tuhuk merupakan ikan dari kedalaman laut dalam yang termasuk dalam keluarga Istiophoridae, memiliki bentuk moncong panjang yang mirip dengan tombak dan sirip punggung yang menyerupai layar. Bobot ikan ini bisa mencapai 150 kilogram per individu.
Para nelayan setempat mengungkapkan bahwa mereka bisa menangkap tiga hingga empat ekor sekaligus saat musimnya sedang baik. Mereka biasanya memulai perjalanan di siang hari dan memerlukan waktu sekitar dua jam untuk mencapai lokasi penangkapan di lautan terbuka.
“Apabila musimnya tepat, dalam sehari kami dapat menangkap tiga sampai empat ekor,” ungkap Zahlo (57), seorang nelayan Kuala Stabas yang selama puluhan tahun bergantung pada hasil laut. Ia menyampaikan pernyataan tersebut ketika bertemu di tepi dermaga pada Minggu (8/6/2025).
Tuhuk tidak hanya menjadi andalan dalam penangkapan, tetapi juga menjadi bahan utama untuk kuliner khas daerah. Ikan ini sering diolah menjadi pempek, sate ikan, pindang, hingga gulai taboh yang disajikan saat acara besar atau perayaan.
“Ketika ada resepsi pernikahan, warga di sini lebih memilih memasak gulai taboh dengan ikan tuhuk dibandingkan dengan rendang,” kata Zahlo. Dia merasa bahwa citarasanya lebih cocok dengan selera masyarakat Krui.
Di pasar tradisional Krui, ikan tuhuk dijual dengan harga berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Pembeli juga bisa membelinya langsung dari nelayan yang baru kembali dari melaut.
“ Ikan ini cepat laku terjual karena banyak wisatawan yang mencarinya, terutama saat puncak musim ombak besar seperti sekarang,” tambah Zahlo. Saat ini, momen tersebut bersamaan dengan banyaknya wisatawan yang datang untuk mengikuti kejuaraan selancar.
Pesisir Barat sedang bersiap menyambut kejuaraan dunia World Surf League (WSL) Krui Pro 2025. Acara internasional ini akan diikuti oleh 302 peselancar dari 17 negara yang berlangsung pada 10–17 Juni 2025.
Kedatangan ratusan peserta dan wisatawan diperkirakan memberikan dampak positif bagi para nelayan serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang kuliner. Warung makan lokal semakin ramai, dan permintaan akan ikan tuhuk meningkat pesat.
“Kami berharap acara seperti ini dapat terus diselenggarakan setiap tahun,” tutup Zahlo. Ia percaya bahwa sektor perikanan dan kuliner lokal akan berkembang lebih pesat jika event pariwisata berlangsung secara rutin.
Jika Anda mengunjungi Krui, luangkan waktu untuk mencicipi hidangan khas yang berbahan dasar ikan tuhuk di warung-warung dekat dermaga. Rasa gurih dan kelembutannya pasti akan memanjakan lidah, sambil menikmati pemandangan laut di Pesisir Barat.











Discussion about this post