TANGERAG SELATAN, KabarSDGs – Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan industri di kota-kota besar Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Namun, dampak negatif yang dihasilkan dari perkembangan tersebut salah satunya adalah kebisingan.
Menurut Sasa Sofyan Munawar, Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRLTB BRIN), kebisingan merupakan hal yang menarik dan perlu diperhatikan.
“Saat ini, regulasi terkait kebisingan belum diperbarui sejalan dengan pertumbuhan industri. Kebisingan ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, termasuk dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya dalam siaran tertulis BRIN.
Sofyan menerangkan, kota-kota besar dengan jumlah kendaraan yang tinggi dan adanya pemukiman di sekitar kompleks industri dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia. Namun, upaya dalam mengatasi masalah kebisingan ini masih minim dibandingkan dengan dampak lingkungan lainnya. Monitoring dan pengendalian kebisingan perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.
“PRLTB BRIN melakukan berbagai riset dengan tujuan meningkatkan kontribusi dalam pemulihan dan peningkatan kualitas lingkungan. Riset-riset tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, terutama di Indonesia,” ungkapnya.
Menuruntnya, kolaborasi riset antara PRLTB BRIN dan para pemangku kepentingan di bidang teknologi lingkungan dan teknologi bersih juga diharapkan dapat terjalin.
Menurut Dodi Rusjadi, seorang peneliti di PRLTB BRIN, dirinya mendefinisikan kebisingan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu kesehatan manusia serta kenyamanan lingkungan.
“Kebisingan lingkungan berasal dari berbagai sumber bunyi yang berbeda dan dapat berubah seiring waktu,” jelasnya.
Ia melanjutkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Keputusan No 48 pada tahun 1996 yang mengatur tentang baku tingkat kebisingan.
“Baku tingkat kebisingan ini menetapkan batas maksimum tingkat kebisingan yang diperbolehkan dari kegiatan industri agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan lingkungan,” ungkapnya.
Sebagai upaya mengatasi masalah kebisingan, imbuhnyam PRLTB BRIN sedang mengembangkan riset yang melibatkan aplikasi Onlimo atau Online Monitoring Kebisingan Sound Level Meter (SLM).
“Alat ini digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan secara real-time dengan menggunakan parameter tingkat kebisingan equivalen, minimum (Lmin), dan maksimum (Lmax),” ungkapnya.
Arini Wresta, seorang peneliti dari PRLTB BRIN membahas analisis kinerja reaktor anaerobik berbahan baku limbah tahu untuk pembuatan biogas.
“Indonesia memiliki potensi limbah tahu yang cukup besar, namun kurangnya instalasi pengolahan limbah menyebabkan pencemaran. Limbah tahu mengandung bahan organik yang tinggi dan memiliki kelebihan seperti tidak beracun bagi mikroba, kandungan protein yang dapat berfungsi sebagai buffer, dan kemampuan diolah secara kontinyu,” jelasnya.
Arini menerangkan, air limbah tahu dapat diolah menjadi biogas melalui reaktor anaerobik. Menurutnya, biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber energi.
“Di beberapa daerah di Indonesia, seperti Banyumas, Probolinggo, dan BLH Jawa Tengah, telah dilakukan pembuatan reaktor unggun tetap dengan pendanaan dari Pemda Provinsi Jawa Tengah,” pungkasnya.












Discussion about this post