Kuantan Singingi, Kabar SDGs – Seekor tapir sumatera (Tapirus indicus) jantan dengan bobot sekitar 300 kilogram ditemukan mati di tepi jalan koridor milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Peristiwa ini kembali menyoroti dampak pembangunan infrastruktur yang melintasi kawasan habitat satwa liar dan pentingnya upaya perlindungan terhadap satwa dilindungi.
Lokasi penemuan bangkai tapir berada sekitar dua kilometer dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Kedekatan lokasi tersebut dengan kawasan konservasi menunjukkan bahwa jalur transportasi yang digunakan untuk aktivitas logistik perusahaan berada di area yang juga menjadi lintasan alami satwa liar.
Hasil pemeriksaan di lapangan mengindikasikan bahwa kematian tapir tersebut diduga akibat tertabrak kendaraan yang melintas di jalan koridor. Dugaan itu diperkuat setelah tim pemeriksa tidak menemukan tanda-tanda perburuan maupun luka yang disebabkan oleh senjata.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Ujang Holisudin mengatakan, “Tapir ditemukan di pinggir jalan dengan luka benturan pada bagian belakang tubuh. Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan indikasi perburuan.”
Tim Wildlife Rescue Unit yang melakukan pemeriksaan terhadap bangkai satwa menemukan sejumlah cedera serius pada bagian panggul, paha kiri, dan perut sebelah kanan. Benturan keras yang dialami satwa juga menyebabkan pendarahan terbuka yang terlihat keluar melalui hidung sebelum akhirnya tapir tersebut mati di lokasi kejadian.
Kejadian ini kembali memunculkan perhatian terhadap pengelolaan kawasan hutan produksi dan area konsesi yang berbatasan dengan wilayah konservasi. Keberadaan jalan yang membelah habitat satwa tanpa dukungan langkah mitigasi yang memadai dinilai meningkatkan risiko konflik antara aktivitas manusia dan kehidupan satwa liar.
Berbagai upaya pencegahan seperti pemasangan rambu peringatan, pembatasan kecepatan kendaraan, hingga pembangunan jalur khusus atau terowongan satwa dinilai penting untuk mengurangi potensi kecelakaan yang melibatkan fauna endemik Sumatera.
Sebagai bagian dari prosedur penanganan satwa mati, bangkai tapir telah dikuburkan di sekitar lokasi penemuan guna mencegah kemungkinan penyebaran penyakit. BBKSDA Riau juga mendorong perusahaan serta pengguna jalan yang beroperasi di sekitar kawasan habitat Tesso Nilo agar meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap armada kendaraan, terutama pada waktu-waktu yang berpotensi menjadi periode aktif pergerakan satwa liar.











Discussion about this post