• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
23 September 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home TRAVEL & LIFESTYLE

Workshop Onang-Onang Dorong Literasi Budaya Generasi Muda

by SDGS Admin
23 Juni 2026
Workshop Onang-Onang Dorong Literasi Budaya Generasi Muda
19
SHARES
117
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Padangsidimpuan, Kabar SDGs – Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) menggelar workshop tradisi lisan onang-onang di Kelurahan Lubuk Raya, Simapil-apil, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Kota Padangsidimpuan, pada 18 Juni 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh Kemendiktisaintek untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan literasi masyarakat berbasis kearifan lokal.

Ketua Pengusul PISN, Dedi Zulkarnain Pulungan, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghadirkan inovasi dalam pertunjukan onang-onang agar lebih mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

BACA JUGA

Budaya Melayu Jadi Fondasi Pariwisata Batam

Budaya Melayu Jadi Fondasi Pariwisata Batam

17 September 2026
Mambesak Akustik Hidupkan Kembali Semangat Seni Papua

Mambesak Akustik Hidupkan Kembali Semangat Seni Papua

7 Agustus 2026
Dairi Tampilkan Sendratari Meraleng Tendi di PRSU

Dairi Tampilkan Sendratari Meraleng Tendi di PRSU

22 Juli 2026

“Program Inovasi Seni Nusantara ini bertujuan melakukan inovasi pertunjukan onang-onang. Secara lisan budaya onang-onang untuk meningkatkan Indeks pembangunan literasi masyarakat desa,” kata Ketua Pengusul PISN Dedi Zulkarnain, Pulungan kepada Nusantaraterkini.co, Senin (22/6/2026).

Menurut Dedi, seni tradisi onang-onang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menurunnya minat generasi muda, dominasi hiburan digital, hingga minimnya dokumentasi yang memadai. Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan pewarisan nilai sejarah, kearifan lokal, dan identitas budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut.

“Tanpa adanya intervensi maka seni tradisi lisan ini berpotensi mengalami kepunahan pemakaiannya, dimana masyarakat hanya mengenal onang-onang secara permukaan tanpa memahami makna dan konteks budayanya,” kata Dedi.

Ia menjelaskan bahwa dari sisi sosial dan budaya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kesenian masih relatif rendah karena pertunjukan tradisional dianggap kurang menarik dan minim interaksi. Sementara dari sisi teknologi, onang-onang belum banyak memanfaatkan media digital maupun platform kreatif yang dapat memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat.

“Menurunnya minat generasi muda terhadap onang-onang menunjukkan adanya pergeseran nilai dan identitas budaya, di mana seni tradisi dianggap kurang relevan dengan kehidupan modern. Hal ini berpotensi melemahkan rasa memiliki terhadap budaya lokal,” ungkap Dedi.

Selain persoalan pelestarian budaya, Dedi menilai potensi ekonomi kreatif dari onang-onang juga belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, seni tradisi tersebut berpeluang dikembangkan menjadi pertunjukan edukatif, atraksi wisata budaya, maupun produk literasi berbasis budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Seni lisan yang tidak terdokumentasi juga sulit dikembangkan menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Dalam konteks budaya, onang-onang menghadapi risiko punah karena pewarisan masih bersifat lisan dan informal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dedi mengatakan nilai-nilai moral, sejarah, dan identitas kolektif yang terkandung dalam onang-onang belum tersampaikan secara optimal kepada generasi muda. Akibatnya, mereka cenderung lebih akrab dengan budaya populer dibandingkan budaya lokal yang menjadi bagian dari identitas daerah.

“Kondisi dalam masyarakat luas semakin menurunnya eksistensi onang-onang dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Dedi.

Ia menambahkan bahwa kesenian tradisional tersebut kini semakin jarang ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat maupun sosial karena dianggap kurang praktis dibandingkan bentuk hiburan modern. Situasi ini turut mempersempit ruang ekspresi budaya lokal di tengah masyarakat.

“Disamping itu rendahnya literasi budaya masyarakat terhadap onang-onang yang terkandung dalam seni lisan ini belum dipahami secara mendalam, terutama oleh generasi muda,” ungkap Dedi.

Dedi menilai Perkumpulan Kesenian Lubuk Raya memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian budaya karena selama ini berperan sebagai penjaga tradisi onang-onang di wilayah tersebut.

“Perkumpulan kesenian Lubuk Raya memiliki pengalaman, pengetahuan, dan jaringan komunitas yang menjadi modal utama dalam mendokumentasikan dan mentransmisikan seni tradisi lisan onang-onang,” kata Dedi.

Melalui program ini, pelestarian seni tradisi diharapkan dapat dipadukan dengan strategi peningkatan literasi budaya melalui pelatihan, dokumentasi digital, serta pengembangan metode penyampaian yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Ini bertujuan untuk menjembatani generasi muda dengan warisan budaya lokal sehingga nilai-nilai moral, sosial, dan identitas komunitas yang terkandung dalam onang-onang dapat dipahami, diapresiasi, dan diteruskan secara berkelanjutan dan berkolaborasi dengan mitra perkumpulan kesenian lubuk raya,” terangnya.

Menurut Dedi, program tersebut tidak hanya berfokus pada upaya menjaga keberadaan onang-onang, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat.

“Pencapaian dalam pelaksanaan program ini terciptanya pertunjukan seni tradisi lisan yang komprehensif dan pendokumentasi yang sistematis baik dalam bentuk tertulis maupun digital, sehingga mempermudah akses masyarakat dan generasi muda untuk mempelajari seni tradisi lisan,”kata Dedi.

Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, pihak penyelenggara berencana menggelar Festival Onang-Onang pada 8 Agustus 2026. Kegiatan itu akan melibatkan peserta berusia 13 hingga 30 tahun dengan format tim yang terdiri dari satu orang par onang-onang dan dua orang parnotor. Setiap kelompok peserta akan menampilkan pertunjukan berdurasi sekitar 20 menit sebagai bagian dari upaya regenerasi pelaku seni tradisi di daerah tersebut.

Share8SendTweet5
Previous Post

Soechi Lines Tawarkan Sukuk Rp500 Miliar untuk Refinancing Utang

Next Post

SLPI Fase II Diluncurkan untuk Perkuat Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

Next Post
SLPI Fase II Diluncurkan untuk Perkuat Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

SLPI Fase II Diluncurkan untuk Perkuat Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

PORSEROSI Purwakarta Perkuat Motivasi Atlet Jelang Porprov Jabar 2026

PORSEROSI Purwakarta Perkuat Motivasi Atlet Jelang Porprov Jabar 2026

Discussion about this post

NEWS UPDATE

PLN Nusantara Power Raih 71 Penghargaan ENSIA 2026

PLN Nusantara Power Raih 71 Penghargaan ENSIA 2026

22 September 2026
BMKG: El Nino Sangat Kuat sedang Terjadi, Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Datang Lebih Lambat

BMKG: El Nino Sangat Kuat sedang Terjadi, Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Datang Lebih Lambat

22 September 2026
AMVESINDO Perkuat Akses Pendanaan Startup Lokal, Menuju Naik Kelas

AMVESINDO Perkuat Akses Pendanaan Startup Lokal, Menuju Naik Kelas

22 September 2026
19 Lokasi Kampung Nelayan Merah Putih Riau Mulai Dikerjakan

19 Lokasi Kampung Nelayan Merah Putih Riau Mulai Dikerjakan

22 September 2026
JUMBO X Discovery Ancol Hotel Perkuat Ekosistem Kekayaan Intelektual Lokal

JUMBO X Discovery Ancol Hotel Perkuat Ekosistem Kekayaan Intelektual Lokal

22 September 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    3268 shares
    Share 1307 Tweet 817
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    2940 shares
    Share 1176 Tweet 735
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    2953 shares
    Share 1181 Tweet 738
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    2908 shares
    Share 1163 Tweet 727
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    2938 shares
    Share 1175 Tweet 735

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.