Jakarta, Kabar SDGs – Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menghadirkan program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 sebagai upaya memperkuat kapasitas dan keberlanjutan komunitas seni pertunjukan di Indonesia. Program ini menjadi ruang pengembangan yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga pada peningkatan manajemen, jejaring, dan profesionalisme pelaku seni.
Program yang sebelumnya digelar pada 2016 hingga 2019 ini kini hadir dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap perkembangan industri seni. Melalui inisiatif ini, para pelaku seni didorong untuk tidak hanya menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga mampu membangun sistem kerja yang terstruktur dan berkelanjutan.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menegaskan komitmen jangka panjang lembaganya dalam membangun ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. “Bakti Budaya Djarum Foundation memiliki komitmen jangka panjang dalam membangun ekosistem seni pertunjukan yang berkelanjutan di Indonesia. Melalui Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026, kami ingin menciptakan ruang yang tidak hanya mendorong lahirnya karya-karya berkualitas, tetapi juga memperkuat fondasi para pelaku seni, mulai dari proses kreatif, manajerial, hingga bagaimana karya tersebut dapat bertemu dengan publik secara lebih luas dan terstruktur,” ujarnya.
Program ini terbuka bagi komunitas dan sanggar seni dari seluruh Indonesia yang mengangkat nilai budaya dan kearifan lokal, baik dalam bentuk tari, musik, teater, sastra, maupun pertunjukan kontemporer. Sebagai tahap awal, kegiatan akan diawali dengan roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan yang digelar di empat kota, yaitu Kupang, Banjarmasin, Tasikmalaya, dan Lampung.
Peserta yang dapat mengikuti program ini merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 hingga 35 tahun yang mewakili komunitas seni dengan rekam jejak di bidang pertunjukan. Pendaftaran telah dibuka sejak 13 April hingga 31 Mei 2026 dengan mekanisme pengajuan proposal karya yang memuat konsep kreatif, profil tim, hingga rencana produksi.
Dari seluruh peserta, akan dipilih 13 proposal terbaik yang berhak mendapatkan dukungan dana produksi, workshop, serta pendampingan dari para praktisi seni berpengalaman. Program ini akan melalui sejumlah tahapan seleksi dan pengembangan hingga akhirnya karya terpilih dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada akhir tahun 2026.
Proses kurasi melibatkan sejumlah tokoh seni seperti Keni Soeriaatmadja dan Mitae Mita, sementara tahap penjurian akhir akan menghadirkan Garin Nugroho dan Toto Arto. Keterlibatan para praktisi ini diharapkan mampu menjaga kualitas artistik sekaligus kesiapan produksi karya.
Keni Soeriaatmadja menilai program ini memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan seniman muda di Indonesia. “Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia menurut saya jadi inisiatif yang penting karena bukan hanya memberi ruang, tapi benar-benar merawat tumbuhnya seniman muda. Di sini, ide dan praktik mereka punya kesempatan untuk berkembang dan dikenal lebih luas, bahkan hingga ke level internasional. Yang menarik, program ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses, bagaimana ruang belajar yang kritis, dialog yang terbuka, dan dokumentasi bisa berjalan beriringan. Hal-hal seperti ini yang justru memperkaya perjalanan seni pertunjukan kita. Saya percaya, selama ruang-ruang seperti ini terus dijaga dan dikembangkan, ekosistem seni kita akan semakin hidup, inklusif, dan punya relevansi yang kuat dengan perkembangan zaman,” tuturnya.
Melalui program ini, Bakti Budaya Djarum Foundation berharap dapat menjadi penggerak lahirnya karya-karya inovatif sekaligus memperkuat jaringan antar pelaku seni di Indonesia. “Kedepannya, kami berharap semakin banyak komunitas yang tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki sistem kerja yang kuat dan berkelanjutan. Ekosistem seni pertunjukan yang sehat hanya bisa terbangun jika seluruh elemennya, mulai dari seniman, manajer, hingga audiens bertumbuh bersama. Dan kami di Bakti Budaya Djarum Foundation berupaya untuk mewujudkan hal tersebut,” kata Renitasari.










Discussion about this post