Asahan, Kabar SDGs – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Utara Kahiyang Ayu mengunjungi sentra pengrajin songket di Desa Silo Bonto, Kecamatan Silau Laut, pada Senin (4/8). Dalam kunjungan itu, ia memborong beragam motif kain songket khas Asahan seperti Pucuk Rebung, Bunga Tulip, Motif Kapal dan Ikan, hingga Motif Asahan Klasik.
Kehadiran Kahiyang menjadi bentuk dukungan nyata Dekranasda Sumut bagi pelestarian budaya dan penguatan usaha mikro kecil menengah di daerah. “Motif yang ada di songket biasanya menggambarkan kearifan lokal dan sejarah dari suatu daerah. Hari ini Dekranasda hadir di Desa Silo Bonto, tempat komunitas pengrajin songket khas Asahan berada. Kita harapkan ini menjadi bagian dari promosi agar produk lokal semakin dikenal dan diminati masyarakat luas,” ujar Kahiyang.
Bersama jajaran pengurus Dekranasda Sumut, Kahiyang berdialog langsung dengan pengrajin untuk mendengar tantangan yang mereka hadapi. Salah satu keluhan yang mencuat adalah keterbatasan bahan baku, di mana benang togak dan benang pakan masih harus didatangkan dari Sumatera Barat.
Pengrajin songket Zul Asmal menjelaskan bahwa komunitas di Desa Silo Bonto telah aktif lebih dari satu dekade dengan anggota sekitar 15 hingga 20 orang yang menghasilkan kain songket bermotif khas Asahan. “Harga kain songket bervariasi, mulai dari Rp350.000 hingga Rp650.000, tergantung tingkat kerumitan motif dan kualitas bahan,” jelas Zul.
Ia menambahkan, hasil tenunan para pengrajin dipasarkan ke Medan, Jakarta, Bukittinggi, serta kepada masyarakat lokal di Silau Laut dan lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan. Atas kunjungan Kahiyang, Zul menyampaikan rasa terima kasih. “Terima kasih Ibu Gubernur atas kunjungan dan dukungannya dengan membeli produk kami. Semoga dengan ini UMKM kami semakin dikenal dan songket khas Asahan semakin diminati,” ucap Zul yang hadir bersama istrinya Emi.












Discussion about this post