Kampar, Kabar SDGs – Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Melayu di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, kembali menggelar tradisi turun-temurun Mandi Balimau Kasai. Tradisi ini dilaksanakan sehari sebelum memasuki bulan puasa, tepatnya pada sore hari menjelang petang atau yang dikenal dengan istilah potang mogang, yakni rentang waktu antara salat Asar hingga Magrib.
Mandi Balimau Kasai telah menjadi agenda wisata budaya tahunan yang selalu dinantikan. Ribuan masyarakat tumpah ruah di tepian sungai maupun lokasi-lokasi yang telah ditetapkan untuk mengikuti prosesi mandi bersama sebagai simbol penyucian diri.
Secara etimologis, balimau berasal dari bahasa Ocu (Kampar) yang berarti mandi menggunakan air bercampur perasan jeruk. Jenis jeruk yang biasa digunakan antara lain jeruk nipis, jeruk purut, dan jeruk kapas. Air perasan jeruk tersebut dipercaya mampu membersihkan tubuh sekaligus menghilangkan bau tidak sedap.
Sementara itu, kasai merujuk pada wewangian atau lulur tradisional yang diracik dari campuran air beras, kunyit, daun serai, serta daun jeruk. Ramuan ini digunakan sebagai pengharum badan, penyegar tubuh, hingga penyejuk kepala.
Seorang tokoh masyarakat Kampar, Datuk Marwan, mengatakan tradisi ini bukan sekadar mandi bersama, melainkan sarat makna spiritual.
“Balimau Kasai adalah simbol pembersihan diri, lahir dan batin. Kita ingin menyambut Ramadhan dalam keadaan suci, baik secara jasmani maupun rohani,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, penggunaan jeruk dan kasai memiliki filosofi mendalam sebagai lambang penyucian diri sebelum memasuki bulan penuh berkah. “Ini bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga bagian dari dakwah dan pengingat agar kita memperbaiki diri sebelum berpuasa,” tambahnya.
Tradisi Balimau Kasai diyakini telah berlangsung sejak berabad-abad silam, seiring masuknya Islam ke wilayah Kampar yang dikenal sebagai salah satu pusat awal penyebaran agama tersebut di Riau. Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi atraksi budaya yang memperkuat identitas masyarakat Melayu.
Selain prosesi mandi balimau, rangkaian kegiatan biasanya turut diisi dengan ziarah kubur, pengajian, pertunjukan seni tradisional, hingga permainan rakyat. Momentum ini dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan mempererat kebersamaan antarwarga.
Salah seorang warga, Rina (34), mengaku selalu menantikan momen tersebut setiap tahun. “Setiap tahun kami sekeluarga ikut balimau. Rasanya ada ketenangan tersendiri sebelum memasuki Ramadhan. Ini juga jadi ajang kumpul keluarga,” tuturnya.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai religius yang kuat, Mandi Balimau Kasai terus lestari sebagai warisan budaya masyarakat Melayu Kampar dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.












Discussion about this post