Tokyo, Kabar SDGs – Jepang dipastikan akan memasuki babak baru tanpa kehadiran panda untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir. Pemerintah Jepang memutuskan mengembalikan dua panda raksasa yang selama ini dipelihara di Kebun Binatang Ueno, Tokyo, ke China pada Januari 2026. Kepulangan ini sekaligus menandai berakhirnya perjalanan panjang diplomasi panda yang telah berlangsung sejak setengah abad lalu.
Sepasang panda kembar bernama Lei Lei dan Xiao Xiao selama ini menjadi penghuni tetap Kebun Binatang Ueno. Keberadaan keduanya tidak hanya menjadi daya tarik publik, tetapi juga simbol persahabatan Jepang dan China sejak kedua negara menormalkan hubungan diplomatik pada 1972. Pemerintah Metropolitan Tokyo menjelaskan bahwa pemulangan dilakukan lebih cepat dari masa pinjaman yang telah ditetapkan. “Si kembar akan dipulangkan sebulan sebelum masa pinjaman mereka berakhir pada bulan Februari,” demikian keterangan Pemerintah Metropolitan Tokyo selaku pengelola Kebun Binatang Ueno.
Lei Lei dan Xiao Xiao lahir pada 2021 dari induknya, Shin Shin, yang didatangkan ke Jepang pada 2011. Pemerintah Kota Tokyo sempat berharap kedua panda tersebut dapat tetap tinggal lebih lama, namun permintaan tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari pihak China. Keputusan ini memicu kesedihan di kalangan warga, mengingat Lei Lei dan Xiao Xiao telah menjadi satwa favorit masyarakat Tokyo.
Sebelumnya, pada September 2024, publik Tokyo juga harus melepas kepulangan Shin Shin dan pasangannya ke Beijing. Ribuan pengunjung memadati kebun binatang untuk memberikan salam perpisahan terakhir, menunjukkan ikatan emosional yang kuat antara warga dan panda-panda tersebut. Kehilangan itu kini kembali terulang dengan rencana pemulangan dua panda muda tersebut.
Media Jepang, Asahi Shimbun, melaporkan bahwa Pemerintah Kota Tokyo masih berupaya mencari kemungkinan peminjaman pasangan panda baru. Namun, kedatangan panda pengganti sebelum Lei Lei dan Xiao Xiao kembali ke China dinilai tidak memungkinkan, sehingga Jepang dipastikan akan berada tanpa panda untuk sementara waktu.
Di tengah kabar tersebut, hubungan Jepang dan China sempat diwarnai ketegangan setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait kemungkinan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan. Pernyataan itu menuai respons keras dari Beijing yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Meski demikian, Pemerintah Jepang menilai peran panda tetap penting dalam menjaga hubungan antarmasyarakat kedua negara. Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menyampaikan harapan agar diplomasi panda tetap berlanjut. “Pertukaran melalui panda telah berkontribusi untuk meningkatkan perasaan antara masyarakat Jepang dan China. Kami berharap pertukaran seperti itu akan terus berlanjut,” kata Kihara dalam konferensi pers.
Selama puluhan tahun, Kebun Binatang Ueno menjadi salah satu simbol keberhasilan diplomasi panda, berkat kerja sama jangka panjang dengan lembaga konservasi di China dan Amerika Serikat. Kolaborasi tersebut tidak hanya mempererat hubungan internasional, tetapi juga mencatat keberhasilan dalam upaya pengembangbiakan panda raksasa, yang kini menjadi bagian penting dari sejarah hubungan Jepang dan China.












Discussion about this post