Jakarta, KabarSDGs-Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Diseminasi Hasil Riset Sawit dengan tema “Pengaruh Stres Peran, Emosi Negatif, dan Kecerdasan Emosi dalam Meminimalisir Penyimpangan Kerja pada Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit”.
Kegiatan diselenggarakan pada Selasa, 16 Desember 2025 di kantor BPDP, Jakarta Pusat.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim mengatakan, pihaknya telah mengimplementasikan pengarusutamaan gender (PUG) sebagai upaya mendukung terciptanya kesetaraan di sektor perkebunan.
Hal ini dilakukan untuk memastikan implementasi PUG berjalan efektif dan berkelanjutan. Setiap tahun, kata dia, BPDP membentuk tim yang bertugas untuk memperkuat integrasi perspektif gender dalam perumusan program penyelenggaraan layanan, serta tata kelola oranisasi.
“Langkah ini sejalan dengan Kementerian Keuangan selaku pembina BPDP, untuk mewujudkan kebijakan dan pelaksanaan yang lebih inklusif dan berkeadilan,” ujarnya, dalam pemaparan, di Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025.
Beberapa program PUG sudah banyak dilakukan, diantaranya Wirausaha Kuliner Berbasis Sawit, Sosialisas dan Workshop Perlindungan Pekerja Perempuan, Pelatihan Wirausaha Kuliner bagi Perempuan Disabilitas, Peningkatan Penerima Beasiswa Sawit dari Daerah 3T, hingga Diseminasi Hasil Grant Riset Sawit (Gender dan Emosi Kerja).
“BPDP juga berupaya untuk mengampliikasi PUG melalui media sosial,” kata dia.
Zaid mengatakan, BPDP akan terus berkomitmen memperluas Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui pelaksanaan program-program yang konkret, inklusif, dan berbasis data.
Upaya ini difokuskan pada pemberdayaan perempun, perluasan pemenuhan hak dan inklusi kelompok rentan.
“Implementasi PUG ini menjadi bagian integrasi dan tata kelola yang baik dan mendukung keberlanjutan sektor perkebunan,” katanya.
Sesditjen Perbendaharaan Kemenkeu, Arif Wibawa mengatakan, PUG bukanlah isu semata-mata tentang gender, perempuan atau laki-laki saja. pendekatan ini semakin relevan dengan perkebunan sawit yang bergantung pada kualitas dan kesejahteraan manusia, sebagai sektor utama untuk keberlanjutan industri.
Namun dibalik itu ada tantangan, terkait kesehatan mental, status gizi, keselamatan dan kesehatan kerja, serta kesehatan reproduksi kerja.
“Hal ini berkaitan dengan produksi kerja, kemudian beban peran, relasi sosial pada kelompok tertentu termasuk pekerja perempuan yang sering kali menghadapi peran ganda,” ujar Arief.
Ditingkat nasional, ungkapnya, komitmen PUG telah memiliki landasan hukum yang kuat yaitu mulai Instruksi Presiden No 9 Tahun 2000 hingga integrasinya dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional.
Kemudian dalam konteks ini, ujar dia, kemenkeu punya peran strategis sebagai pengelola kebijakan viskal dan APBN. Sehingga punya tanggung jawab besar untuk mengelola kebijakan viskal menjadi instrumen yang kuat dalam pembangunan berkeadilan dan nklusif, dan juga berkelanjutan.
Stres Kerja Mempengaruhi Produktivitas
Sementara Peneliti Universitas Lambung Mangkurat Kalsel, Dr Silvia Syahadatina Noor mengatakan, pihaknya telah melakukan riset terhadap pekerja perkebunan sawit di dua perusahaan berbeda.
Hasil riset membutikan bahwa, antara pekerja sawit di lapangan dengan di kantoran memiliki tingkat stress yang berbeda. Pekerja kebun memiliki kecenderungan stres kerja yang lebih besar sebab dihadapi dengan target kerja.
Faktor lain karena mayoritas individu pekerja sawit memilki kecenderungan pengelolaan emosi yang kurang baik. Sehingga perlu pendampingan dalam hal psikologis untuk meminimalisir stres kerja yang bisa berakibat atal dalam keselamatan kerja.
Dia menjelaskan hasil pengukuran psikopatologi yng dilakukannya terhadap pekerja sawit di dua perusahaan berbeda menjelaskan, pekerja sawit membutuhkan komunikasi yang lancar dan adanya support sistem antara atasan dan bawahan.
Mereka juga berhadap, ujarnya, adanya peraturan kerja yang lebih fleksibel agar bisa membagi waktu yang optimal antara pekerjaan dengan keluarga.
“Namun dari segi gaji atau pendapatan memang diakui sudah sesuai ya,” ungkapnya.
Sementara pada kondisi kerja, kata Silvi, pekerja membutuhkan ruang kerja yang lebih sejuk. Khususnya bagi pekerja kantor, mereka membutuhkan adanya tambahan pendingin ruangan agar lebih nyaman.
“Sedangkan di lapangan memang kondisinya sangat panas. Ini memang kondisi yang tidak bisa dihindari bagi pekerja lapangan,” katanya.
Selain itu pekerja menjelaskan bahwa ruang komunikasi dengan manajemen masih terbatas. Sedangkan peraturan sering kali berubah-ubah dan antara manajemen dengan karyawan harus saig mengharga dan membantu.
Dia menyarankan perlu adanya intervensi dan pendampingan psikologis untuk pekerja agar menjaga SDM industri sawit lebih sehat secara mental dan produktif berkelanjutan.
Pada segi kesehatan kerja, dr Meitria Syahadatina Noor yang juga merupakan peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat Kalsel menjelaskan terdapat kekurangan asupan zat gizi makro dan mikro pada karyawan di perusahaan sawit.
“Khususnya gizi mikro seperti zat besi dan vitamin,” katanya.
Hingga adanya residu pestisida, bagi pekerja khususnya perempuan yang malas sekali menggunakan APD lengkap saat bersentuhan langsung dengan pestisida. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan kerja sehingga perlu menjadi perhatian besar perusahaan.
“Terdapat perbedaan kadar residu pestisida karyawan kantor dan kebun. Karyawan kebun memiliki kadar residu pestisida yang tinggi karena bersentuhan langsung,” ungkapnya.
Head of Humn Capital Wilmar Internasional Indonesia, Erlina Panitri menyambut baik hasil penelitian dari dua peneliti Universitas Lambung Mangkurat terhadap stres kerja dan kesehatan pekerja.
“Memang harus diakui bapak ibu karena kalau faktor teknis itu biasanya lebih mudah kita selesaikan. Namun untuk yang non teknis ini memang perlu banyak belajar dan masukan,” ungkapnya.
Kondisi nyata di perusahaan sawit, kata dia, SDM yang padat karya ini harus dikelola dengan baik. Terlebih Wilmar memiliki sekitar 45. 000 karyawan dan mayoritas padat karyanya di wilayah perkebunan.
“Nah apa yang tadi disampaikan bahwa konsep kita membenahi SDM dari faktor ini, memang tidak mudah kami juga mendapat materi juga catatan bagaimana kita mengontrol mengelola dan melihat langsung lokasi yang kita tahu perkebunan itu enggak sederhana,” ungkapnya.
Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI, Sumarjono Saragih mengatakan, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Sebab, ungkap dia, bahwa 30 persen waktu terbaik ada di tempat kerja.
Sementara sekitar 90 persen orang terpaksa bekerja walau tidak menyukainya. “Sekarang tugas kita menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik,” katanya.
Dia juga menekankan bahwa tempat kerja yang aman dan sehat adalah hak fundamental bagi seiap pekerja. Hal ni sudah diaki sebagai standard dari ILO (Organisasi Perburuhan Internasional,” katanya.
Perusahaan juga harus aktif dalam membuka dialog dengan pekerja, mulai dari bertukar informasi, konsultasi hingga bernegosasi. Bahkan pihaknya meyakini bahwa dengan berdialog bersama buruh bisa menyelesaikan setengan masalah di perusahaan.
“Gagal dialog bisa berujung perang. Dialog dibutuhkan untuk mengakhiri perang,” katanya.
Dia mengatakan, sawit itu serba besar, tak hanya besar secara potensi tapi juga besar secara kontroversi. Oleh karena itu, kata dia, sawit membutuhkan aksi plus narasi.
“Sawit adalah tentang kita, tentang kehidupan ekonomi sosial jutaan manusia. Sebagai petani, buruh tani, MKM, buruh dan pekerja korporasi,” ujarnya.
Maka tidak berlebihkan jika kita bicara sawit maka kita berbicara tentang manusia. Menurutnya menata sawit artinya juga menata kehidupan manusia yang lebih baik.
“Sawit yang berpusat pada manusia, akan menopang agenda Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran menuju impian Indonesia Emas 2045,” kata dia. ***









Discussion about this post