SURABAYA, KabarSDGs – Dampak pemanasan global yang terjadi saat ini sudah terasa oleh para penghuni bumi. Salah satu contohnya adalah perubahan iklim yang akan datang, seperti El Nino, yang diprediksi sulit untuk dihindari dalam beberapa bulan mendatang. Oleh karena itu, diperlukan tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sangat prihatin dengan isu-isu lingkungan, terutama yang terkait dengan perubahan iklim. Misalnya, dalam sektor energi, BRIN mendorong riset untuk mengembangkan sumber energi yang ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil melalui program energi baru dan terbarukan.
seorang Perekayasa Ahli Madya di Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, Tata Sutardi mengatakan, BRIN juga melakukan riset dan pengembangan teknologi energi surya, energi hidro (air), pengembangan bahan bakar dari biomassa (biofuel/bioenergy), bahan bakar hidrogen, teknologi konservasi, teknologi co-firing, dan lain-lain.
“Salah satu contohnya adalah pengembangan teknologi co-firing biomassa, di mana BRIN berusaha menciptakan inovasi dalam pemanfaatan biomassa agar dapat digunakan bersama dengan boiler/pembangkit batu bara. Dengan mengembangkan aditif untuk mengurangi masalah operasional di boiler batu bara, hal ini mendukung langkah pemerintah dalam transisi energi menuju Indonesia NZE 2060,” ujarnya dalam siaran tertulis BRIN.
Menurut Tata, kegiatan ICCEF sangat penting untuk mengedukasi masyarakat tentang perubahan iklim di Indonesia. Melalui kegiatan ini, BRIN ingin menyampaikan apa yang sudah dilakukan untuk menghadapi berbagai masalah lingkungan.
“Selain itu, partisipasi dalam kegiatan ini juga bertujuan untuk berinteraksi dengan publik dan membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Daerah, Swasta, dan BUMN yang ingin mengembangkan hasil riset dan inovasi BRIN,” ungkapnya.
Menurutnya, BRIN berperan aktif dalam perjuangan menghadapi perubahan iklim dan dampak lingkungan yang semakin parah di masa depan. Dalam partisipasinya dalam pameran Indonesia Climate Change Expo & Forum 2023 (ICCEF 2023), BRIN menunjukkan tindakan nyata melalui riset dan inovasi.
“Perubahan iklim yang terjadi saat ini adalah fakta. Pemanasan global telah terjadi dengan peningkatan suhu Bumi di berbagai belahan dunia,” jelas Tata.
Ia melanjutkan, bumi menghadapi tantangan yang berat akibat perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan peningkatan polusi.
“Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak untuk menghadapi tantangan ini,” pungkas Tata.
Agus Justianto, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerangkan, melalui ICCEF, semua pihak dapat bekerja sama untuk menciptakan tindakan yang sejalan dalam mengatasi perubahan iklim dan saling bertukar informasi tentang isu-isu lingkungan.
“Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat, terutama generasi muda, tentang isu-isu perubahan iklim agar mereka dapat berpartisipasi dengan tindakan nyata dalam mengatasi perubahan iklim,” jelasnya.
Diketahui, kegiatan Indonesia Climate Change Expo & Forum 2023 (ICCEF 2023) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejalan dengan program pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya yang dikenal sebagai Indonesia FoLU Net-Sink 2030. Ini merupakan implementasi dari kebijakan jangka panjang Long-term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR 2050) menuju Net-Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.












Discussion about this post