Balikpapan, Kabar SDGs – Dinas Kesehatan Kota (Dinkes) Balikpapan mencatat 1.310 kasus diare selama periode 1 hingga 19 September 2026. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada pekan ke-36 dengan catatan sebanyak 597 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiati mengatakan, peningkatan kasus tersebut salah satunya berkaitan dengan kondisi musim kemarau yang memengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Memang pada musim kemarau biasanya tren kasus diare meningkat. Penggunaan air bersih dan ketersediaan air juga sangat terbatas di Kota Balikpapan,” kata Alwiati pada Kamis, 24 September 2026.
Menurut Alwiati, kondisi keterbatasan air bersih membuat sebagian warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi tersebut, masyarakat perlu memastikan air yang digunakan tetap bersih dan memiliki kualitas yang aman, terutama untuk kebutuhan minum dan memasak.
Selain persoalan air bersih, kasus diare pada anak juga dapat disebabkan oleh infeksi virus. Salah satu virus yang dapat memicu kondisi tersebut adalah rotavirus.
Pencegahan melalui imunisasi rotavirus pada bayi menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mengurangi risiko diare. Imunisasi juga diharapkan dapat membantu mencegah infeksi berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
“Rotavirus terutama pada anak-anak kita. Itulah sebabnya pada bayi kita harus melakukan imunisasi rotavirus untuk mencegah diare ataupun jika terinfeksi tidak menjadi parah,” ujarnya.
Meski jumlah kasus mengalami peningkatan, Alwiati menyebut kondisi tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan pada kasus diare berat maupun tingkat keterisian fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, pasien dengan diare berat yang membutuhkan penanganan di rumah sakit masih dalam jumlah yang relatif terbatas.
“Enggak terlalu, karena kalau disentri yang dirujuk ke rumah sakit biasanya kasus diare yang berat. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak,” katanya.
Dinkes Balikpapan juga mengingatkan masyarakat, terutama orang tua, untuk lebih memperhatikan kebersihan ketika menyiapkan susu formula bagi bayi dan balita.
Keterbatasan air selama musim kemarau membuat kebersihan air yang digunakan untuk menyiapkan susu perlu mendapat perhatian lebih. Air harus dipastikan aman dan tidak tercemar agar tidak menjadi media penularan penyakit.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Balikpapan terus mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), baik di lingkungan masyarakat, sekolah maupun tempat kerja.
Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir menjadi salah satu hal yang kembali ditekankan. Masyarakat dianjurkan mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah melakukan berbagai aktivitas.
“Cuci tangan ini yang paling penting. Sebelum makan juga harus cuci tangan. Cuci tangan tidak cuma membasuh tangan saja, tapi mencuci dengan air sabun di air mengalir,” tutup Alwiati.










Discussion about this post