Badung, Kabar SDGs – Pemerintah Kabupaten Badung terus mengembangkan pengelolaan sampah berbasis teknologi sebagai bagian dari upaya membangun sistem persampahan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menguji kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mengwitani pada Selasa (18/8).
Pengujian tersebut ditinjau langsung oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung, Made Rai Warastuthi, serta jajaran terkait. Penggunaan teknologi RDF diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daerah dalam mengolah sampah sekaligus mengurangi beban penanganan sampah di wilayah Badung.
Bupati Badung menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia satu unit mesin RDF dengan kemampuan mengolah hingga 100 ton sampah per hari. Pemerintah daerah juga menyiapkan tambahan dua unit mesin dengan kapasitas masing-masing 100 ton per hari sehingga kapasitas pengolahan nantinya ditargetkan mencapai 300 ton per hari.
“Sementara ini untuk baru tersedia 1 mesin RDF dengan kapasitas 100 ton per hari. Dan kita rencananya juga akan menyiapkan lagi dua mesin dengan kapasitas masing-masing 100, sehingga totalnya ada 300 ton/per hari,” jelas Bupati Badung.
Menurut Wayan Adi Arnawa, keberadaan satu unit mesin RDF yang telah beroperasi sudah memberikan dampak cukup besar terhadap penanganan sampah di Badung. Penambahan dua mesin yang masih melalui tahapan uji coba diharapkan semakin meningkatkan kapasitas pengolahan sehingga persoalan sampah di daerah tersebut dapat ditangani secara lebih menyeluruh.
“Kelihatannya dari satu mesin ini yang berkapasitas 100 ton saja sudah terjadi perubahan yang sangat signifikan, terutama dalam penanganan sampah yang ada di Badung. Mudah-mudahan dengan penambahan dua mesin lagi yang sedang dicoba, persoalan sampah di Badung benar-benar bisa tuntas,” ujarnya.
Di samping mengandalkan teknologi pengolahan, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengurangi persoalan sampah sejak dari sumbernya. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dinilai dapat membuat proses pengolahan pada tahap berikutnya menjadi lebih cepat dan efisien.
Bupati mengingatkan bahwa keberadaan mesin pengolahan tidak dapat menjadi satu-satunya solusi. Perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memilah sampah sejak awal tetap menjadi bagian penting untuk memastikan sistem pengelolaan sampah berjalan secara optimal.
“Kalau sampah itu dipilah dari sumber, jauh akan lebih cepat dan lebih efektif. Walaupun kita sudah memiliki mesin seperti sekarang ini, saya tetap berharap dukungan masyarakat itu penting. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa tergantung dengan mesin saja, tetapi dukungan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan serta memilah sampah sangat diperlukan. Kalau ini sudah dilakukan masing-masing masyarakat, saya kira akan jauh lebih efektif mesin-mesin yang akan kita persiapkan,” ujarnya.
Pengembangan fasilitas RDF di TPST Mengwitani bersama dengan penguatan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi bagian dari strategi Badung untuk membangun pengelolaan persampahan yang lebih terintegrasi. Kombinasi antara teknologi dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengolahan sampah sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.











Discussion about this post