• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
6 Oktober 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY EKONOMI

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Hingga Akhir 2026

by SDGS Admin
21 Agustus 2026
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Hingga Akhir 2026
24
SHARES
151
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

BACA JUGA

Ekonomi Global Berubah Indonesia Diminta Adaptif

Ekonomi Global Berubah Indonesia Diminta Adaptif

21 April 2026
Cirebon Jadi Simpul Penting Pergerakan Wisata dan Ekonomi Selama Nataru 2025/2026

Cirebon Jadi Simpul Penting Pergerakan Wisata dan Ekonomi Selama Nataru 2025/2026

5 Januari 2026
Dampak Luapan Banjir antara Stasiun Alastua – Semarang Tawang, KAI Berlakukan Pola Operasi Perjalanan Kereta Api

Kinerja KAI Group Tumbuh 8,15 Persen

12 November 2025

Jakarta, Kabar SDGs – Federal Reserve atau The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026. Perkiraan tersebut kembali menguat berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom pada 12–17 Agustus 2026, meskipun sejumlah indikator menunjukkan perekonomian Amerika Serikat mulai mengalami perlambatan.

Sebanyak 94 dari 104 ekonom yang mengikuti survei, atau sekitar 90 persen responden, memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50–3,75 persen dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September mendatang.

Ekspektasi tersebut sejalan dengan pandangan mayoritas ekonom dalam beberapa bulan terakhir yang memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tidak akan mengubah tingkat suku bunga hingga penghujung tahun.

Perubahan kondisi ekonomi AS sebelumnya sempat meningkatkan peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada September. Pasar memperkirakan probabilitas penahanan suku bunga mendekati 70 persen setelah data menunjukkan jumlah pekerjaan di Amerika Serikat secara tak terduga menurun pada Juli.

Tekanan untuk mempertahankan suku bunga juga diperkuat oleh angka inflasi konsumen yang berada di bawah perkiraan serta melemahnya penjualan ritel. Kedua indikator tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi AS mulai kehilangan momentum.

Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga. Konflik Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki bulan keenam turut menjaga harga minyak sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Tekanan harga energi tersebut berpotensi membuat inflasi kembali meningkat.

Situasi itu membuat sebagian pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga Desember 2026.

Perdebatan mengenai kebijakan moneter juga masih berlangsung di internal The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke sasaran 2 persen. Target tersebut hingga kini belum tercapai secara konsisten.

Sejumlah anggota FOMC juga masih membuka peluang penerapan kebijakan yang lebih ketat apabila tekanan inflasi bertahan. Tiga anggota komite yang sebelumnya berbeda pandangan dan memilih kenaikan suku bunga masih termasuk dalam kelompok yang mendorong kebijakan lebih ketat.

“Perdebatan tersebut jelas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga,” ujar ekonom AS dari HSBC, Ryan Wang, dikutip dari Reuters, Selasa, 18 Agustus 2026.

Wang menilai data inflasi Juli belum memberikan dasar kuat bagi The Fed untuk langsung menaikkan suku bunga. Di sisi lain, perkembangan terbaru pada aktivitas ekonomi mulai memperlihatkan tanda perlambatan.

“Kita telah melewati angka inflasi Juli, dan hasilnya pada dasarnya netral. Dari sisi aktivitas, data terbaru memang menunjukkan adanya pelemahan. Hal itu dapat mendorong lebih banyak pembuat kebijakan FOMC masuk ke kubu yang memilih menunggu dan melihat, daripada kubu yang menginginkan kenaikan suku bunga segera,” katanya.

Survei Reuters juga memperlihatkan sekitar 80 dari responden memperkirakan tingkat suku bunga tidak berubah sampai akhir tahun. Jumlah tersebut relatif konsisten dengan hasil jajak pendapat dalam tiga bulan terakhir.

Namun, jumlah ekonom yang memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini jauh lebih besar dibandingkan mereka yang memproyeksikan penurunan. Sebanyak 22 ekonom memperkirakan setidaknya satu kenaikan pada 2026, sementara hanya dua ekonom yang memperkirakan adanya pemangkasan.

Median proyeksi para ekonom menunjukkan suku bunga The Fed kemungkinan tetap berada pada kisaran tersebut hingga akhir tahun berikutnya.

Sebagian kecil ekonom bahkan memperkirakan kenaikan dapat dilakukan pada September. Beberapa di antaranya berasal dari dealer utama yang berhubungan langsung dengan bank sentral AS. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa arah kebijakan moneter masih menghadapi ketidakpastian.

Pandangan serupa terlihat dalam survei Reuters terhadap ahli strategi obligasi. Mereka masih memperkirakan imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun akan mengalami penurunan. Namun, posisi imbal hasil tersebut dinilai lebih berpeluang berada di atas proyeksi sebelumnya dibandingkan bergerak lebih rendah.

Kepala Ekonom AS di Santander U.S. Capital Markets, Stephen Stanley, menilai keputusan The Fed pada September akan sangat ditentukan oleh perkembangan inflasi.

“Perdebatan FOMC bulan depan sepenuhnya akan bergantung pada prospek inflasi,” kata Stanley.

Ia memperkirakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti atau core PCE deflator dapat meningkat mendekati 3 persen secara tahunan.

“Belum cukup baik. Jadi, dengan kondisi seperti sekarang, saya masih memperkirakan FOMC akan memperketat kebijakan bulan depan,” ujarnya.

Dalam survei Reuters, ekonom memperkirakan inflasi PCE rata-rata mencapai 3,5 persen pada tahun ini. Proyeksi tersebut tidak berubah dibandingkan hasil survei sebelumnya.

Tekanan inflasi juga diperkirakan belum kembali ke sasaran bank sentral dalam waktu dekat. Berdasarkan median proyeksi, inflasi masih akan berada di atas target 2 persen hingga setidaknya 2028.

Sebelum menentukan kebijakan pada September, The Fed masih akan memperoleh sejumlah data penting. Salah satunya adalah data PCE Juli yang menjadi salah satu indikator utama yang digunakan bank sentral dalam menilai perkembangan inflasi. Pada Juni, indikator tersebut tercatat sebesar 3,7 persen.

Data ketenagakerjaan terbaru juga akan menjadi pertimbangan penting. Kedua indikator tersebut dapat membantu menentukan apakah perlambatan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk membuat The Fed mempertahankan kebijakan, atau tekanan inflasi justru kembali mendorong kenaikan suku bunga.

Dari sisi politik, tingginya biaya hidup juga menjadi persoalan bagi pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada November. Salah satu janji utama Trump ketika memenangkan pemilu 2024 adalah menekan harga barang.

Namun, tekanan harga yang masih tinggi membuat persoalan inflasi belum mudah diselesaikan. Bagi The Fed, kondisi tersebut sekaligus mempersempit ruang untuk melakukan pemangkasan suku bunga.

Dengan demikian, perekonomian Amerika Serikat saat ini menghadapi dilema. Aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda pelemahan, tetapi inflasi masih berada cukup jauh dari target bank sentral.

Di tengah ketidakpastian geopolitik yang turut menjaga harga minyak tetap tinggi, The Fed masih harus menentukan apakah akan membiarkan perekonomian terus mendingin atau mempertahankan bahkan memperketat kebijakan moneter demi memastikan tekanan inflasi tidak kembali meningkat.

Share10SendTweet6
Previous Post

Google Izinkan Watermark Konten AI Dihapus

Next Post

Kementerian PU Percepat Identifikasi Kerusakan Infrastruktur Irigasi Pasca Gempa di NTT

Next Post
Kementerian PU Percepat Identifikasi Kerusakan Infrastruktur Irigasi Pasca Gempa di NTT

Kementerian PU Percepat Identifikasi Kerusakan Infrastruktur Irigasi Pasca Gempa di NTT

Investasi Baru Perkuat Ekosistem Nusantara

Investasi Baru Perkuat Ekosistem Nusantara

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Presiden FIFA Temui Prabowo di Istana

Presiden FIFA Temui Prabowo di Istana

5 Oktober 2026
PLN Energize Trafo 2 di Tanah Bumbu

PLN Energize Trafo 2 di Tanah Bumbu

5 Oktober 2026
Pertamina Perkuat Kapasitas UMKM di Kalimantan

Pertamina Perkuat Kapasitas UMKM di Kalimantan

5 Oktober 2026
Jaya Negara Lakukan Ngayah di Upacara Ukir Gigi Massal

Jaya Negara Lakukan Ngayah di Upacara Ukir Gigi Massal

5 Oktober 2026
Telkom Alihkan Bisnis Fiber Connectivity ke TIF

Telkom Alihkan Bisnis Fiber Connectivity ke TIF

4 Oktober 2026

POPULAR

  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    3449 shares
    Share 1380 Tweet 862
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3440 shares
    Share 1376 Tweet 860
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    3407 shares
    Share 1363 Tweet 852
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    3454 shares
    Share 1382 Tweet 864
  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    3763 shares
    Share 1505 Tweet 941

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.