Jakarta, Kabar SDGs – PT Prodia Diagnostic Line Tbk resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham PRDL, Kamis (9/7/2026). Kehadiran PRDL sebagai perusahaan tercatat menjadikannya emiten keenam yang melantai di pasar modal Indonesia sepanjang 2026 sekaligus menambah jumlah emiten di BEI menjadi 962 perusahaan.
Pencatatan tersebut memperkuat peran pasar modal Indonesia sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjang yang semakin diminati berbagai sektor usaha. Masuknya perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan juga dinilai memperkaya ragam industri yang memanfaatkan pasar modal untuk mendukung pengembangan bisnis.
Direktur Bursa Efek Indonesia, Saidu Solihin, mengatakan pencatatan saham PRDL menjadi langkah penting bagi perusahaan maupun perkembangan pasar modal nasional.
“Momentum ini penting bukan hanya bagi perusahaan tercatat, tetapi juga bagi pasar modal Indonesia sebagai tempat yang dipercaya dunia usaha sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang strategis,” ujar Saidu saat seremoni pencatatan saham PRDL, Kamis (9/7/2026).
PT Prodia Diagnostic Line Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dalam pembuatan dan pengolahan alat kesehatan untuk kebutuhan diagnosis medis. Kehadiran perusahaan ini di pasar modal diharapkan dapat memperkuat industri alat kesehatan yang memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Saidu menjelaskan, status sebagai perusahaan terbuka memberikan peluang bagi PRDL untuk memperoleh akses pendanaan yang lebih luas guna memperkuat kapasitas usaha, sekaligus mendorong penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance.
“Bursa Efek Indonesia senantiasa berkomitmen menjaga ekosistem pasar modal yang dihuni emiten berkualitas. Kami berharap perseroan terus memperkuat tata kelola perusahaan, menjaga keterbukaan informasi secara konsisten, mengedepankan kepentingan pemegang saham dan perlindungan investor, serta mengembangkan usaha secara sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, Bursa Efek Indonesia akan terus memberikan pendampingan kepada PRDL sebagai perusahaan publik agar kualitas emiten terus meningkat dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia semakin kuat.
Sementara itu, Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, menyampaikan bahwa pencatatan saham perdana menjadi tonggak penting dalam perjalanan perusahaan sejak didirikan pada 2016 sebagai bagian dari upaya mendukung sistem kesehatan nasional.
Cristina mengungkapkan proses menuju pasar modal membutuhkan persiapan panjang dan kerja keras hingga akhirnya perusahaan berhasil mewujudkan target menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia.
Ia juga mengungkapkan tingginya minat investor terhadap penawaran umum saham PRDL. Hingga dua hari sebelum pencatatan saham, perseroan mencatat sekitar 1,2 juta pesanan dari investor ritel, yang menjadi jumlah pemesanan ritel terbesar dalam sejarah IPO di Indonesia. Selain itu, penawaran umum saham perusahaan mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 700 kali.
Menurut Cristina, status sebagai perusahaan publik bukan hanya berkaitan dengan penghimpunan modal, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi perusahaan menuju standar pengelolaan yang lebih baik.
“Menjadi perusahaan publik bukan hanya sebuah milestone keuangan. Ini adalah upaya untuk meningkatkan kualitas perusahaan kami,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa PRDL akan memasuki fase baru yang berorientasi pada pertumbuhan usaha, transparansi, dan inovasi. Perseroan juga berkomitmen menjaga tata kelola perusahaan yang baik serta memberikan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham.
“Kami menatap masa depan dengan optimisme yang tinggi dan sangat senang para investor menjadi bagian dari perjalanan ini,” kata Cristina.
Cristina turut menyampaikan apresiasi kepada para pemegang saham, penjamin emisi, dan seluruh pihak yang telah mendukung proses penawaran umum hingga pencatatan saham berlangsung dengan baik. Pada perdagangan perdana, saham PRDL dibuka menguat 35 persen atau naik 42 poin dari harga penawaran Rp120 menjadi Rp162 per lembar saham.












Discussion about this post