Jakarta, Kabar SDGs – Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) meluncurkan aplikasi dan sistem informasi Harga Sawit Indonesia melalui platform hargasawitindonesia.id. Kehadiran platform ini ditujukan untuk meningkatkan keterbukaan informasi harga Tandan Buah Segar (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO) bagi petani serta pelaku industri kelapa sawit di seluruh Indonesia.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, menjelaskan bahwa pengembangan sistem tersebut berangkat dari kondisi turunnya harga TBS yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani sawit.
“Kami dari DPP APKASINDO, setelah melalui perjalanan cukup panjang, khususnya pasca ambruknya harga TBS petani sawit dalam tiga minggu terakhir, menyadari betapa pentingnya informasi terkini terkait harga TBS petani sawit, baik swadaya maupun bermitra. Informasi tersebut harus terhubung dengan harga CPO global maupun domestik, terutama harga tender KPBN dan bursa CPO ICDX yang diumumkan setiap hari,” ujar Gulat, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, kebutuhan terhadap data harga yang akurat, cepat, dan mudah diakses mendorong organisasi untuk membangun sistem informasi yang terintegrasi dengan jaringan teknologi informasi APKASINDO.
“Berdasarkan hal tersebut, kami membuat sistem informasi yang terkait dengan harga TBS dan CPO yang terkoneksi langsung melalui IT APKASINDO, bernama hargasawitindonesia.id,” katanya.
Gulat menambahkan, platform tersebut masih dalam tahap penyempurnaan dan telah dibuka untuk masyarakat umum agar dapat menerima berbagai masukan guna meningkatkan kualitas sistem yang dikembangkan.
“Aksesnya kami buka kepada masyarakat umum untuk memberikan saran dan masukan demi perbaikan dan penyempurnaan, karena sistem ini baru dikembangkan kurang lebih dalam 14 hari terakhir,” tambahnya.
Ia berharap aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam sektor sawit, mulai dari petani, perusahaan, pemerintah, hingga aparat penegak hukum.
“Kami berharap sistem ini bisa berguna bagi semua stakeholder sawit, khususnya pemerintah dan Satgas Pangan Mabes Polri, untuk memonitor perkembangan harian harga TBS petani swadaya, petani mitra, serta harga CPO,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris APKASINDO Riau, Djono Albar Burhan, memaparkan sejumlah fitur yang tersedia dalam aplikasi tersebut. Pada halaman utama, pengguna dapat mengakses informasi harga TBS nasional untuk petani swadaya maupun plasma, termasuk analisis harga yang dinilai wajar serta perbandingan harga tertinggi di 22 provinsi sentra sawit.
Selain menyajikan harga TBS, aplikasi juga menyediakan informasi perkembangan harga CPO di pasar domestik dan internasional, termasuk harga Rotterdam, Malaysia, tender KPBN, serta bursa CPO ICDX.
“Melalui fitur wilayah, pengguna dapat melihat data harga TBS dari berbagai daerah secara nasional, baik dalam rentang tiga bulan maupun enam bulan terakhir,” ujarnya.
Platform ini juga dilengkapi fitur tren yang menampilkan pergerakan harga TBS dari waktu ke waktu, baik untuk petani swadaya maupun plasma. Selain itu, tersedia fitur proyeksi yang memberikan gambaran mengenai kemungkinan arah pergerakan harga TBS dalam satu bulan ke depan.
“Fitur proyeksi ini memang bukan acuan utama, tetapi dapat menjadi gambaran apakah harga TBS berpotensi naik atau turun,” jelas Djono.
Berbagai fitur pendukung lainnya juga tersedia, seperti menu dunia yang menampilkan grafik harga CPO global dan domestik, fitur info yang berisi berbagai informasi dan berita terkait industri kelapa sawit, serta fitur disparitas yang menunjukkan perbedaan harga antara TBS petani plasma dan petani swadaya.
Selain itu, pengguna juga dapat memanfaatkan fitur rangkuman yang menyajikan berbagai data penting yang telah dihimpun dalam sistem secara lebih ringkas dan mudah dipahami.
Melalui peluncuran sistem informasi Harga Sawit Indonesia, APKASINDO berharap transparansi tata niaga kelapa sawit semakin meningkat. Dengan akses data yang lebih terbuka dan mudah diperoleh, petani diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat sehingga gejolak harga yang berpotensi merugikan mereka dapat diminimalkan.
“Melalui sistem ini, kami yakin transparansi akan meningkat, sehingga tidak terjadi lagi permasalahan goncangan harga seperti yang terjadi beberapa minggu terakhir,” pungkasnya.










Discussion about this post