Sawahlunto, Kabar SDGs – Koperasi Produsen Swarna Migas Mandiri resmi mengoperasikan pabrik pengolahan limbah fly ash and bottom ash (FABA) yang berlokasi di Jalan Raya Kolok Rawang, Dusun Guguk Sumbayang, Desa Kolok Nan Tuo, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto. Peresmian fasilitas tersebut dilakukan langsung oleh Ketua Koperasi Erichan R.B.Ac., Dt. Malin Panghulu pada Senin (18/05/2026).
Koperasi yang berdiri sejak Desember 2025 dengan Nomor AHU 0087719.AH.01.29 Tahun 2025 itu menunjukkan perkembangan cukup pesat dalam membangun usaha berbasis potensi lokal. Dalam kurun waktu sekitar lima bulan, koperasi tersebut telah mengembangkan tiga sektor usaha utama, yakni pengolahan limbah FABA, produksi pupuk organik, serta pengelolaan pangkalan LPG.
“Kami memilih bentuk koperasi agar masyarakat bisa langsung terlibat. Potensi Sawahlunto sangat besar kalau dikelola secara kolektif, dan manfaatnya harus berputar di daerah sendiri,” ujar Erichan di sela peresmian.
Unit usaha pengolahan limbah FABA menjadi sektor pertama yang mulai berjalan. Bahan baku berasal dari limbah PLTU Ombilin yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan lingkungan. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut kini diubah menjadi berbagai produk seperti batako, paving block, u-ditch, hingga kanstin.
Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, koperasi telah menjalin kerja sama awal dengan PT Energi Prima Nusantara yang merupakan anak perusahaan PT PLN Indonesia Power UBPO Ombilin.
“Limbah FABA memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dengan teknologi yang tepat. Usaha ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan menyediakan bahan bangunan berkualitas dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat Sawahlunto,” jelas Erichan.
Saat ini, produk batako hasil olahan koperasi mulai dipasarkan di wilayah Sawahlunto. Pihak pengurus berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, agar pemasaran produk dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.
Selain itu, koperasi juga mengembangkan sektor pupuk organik melalui kerja sama dengan PT Prinaltia Junta Perkasa. Produk pupuk organik dengan merek MDK tersebut telah mengantongi izin usaha melalui perusahaan mitra dan diarahkan untuk mendukung sektor pertanian serta ketahanan pangan daerah.
Namun dalam proses pengembangannya, usaha tersebut masih menghadapi tantangan teknis. Tingkat kehalusan bahan baku yang tersedia saat ini baru mencapai Mesh 60, sedangkan kebutuhan pasar mensyaratkan standar minimal Mesh 100.
“Kami sangat membutuhkan mesin penggiling agar kualitas produk memenuhi standar. Jika kendala ini teratasi, pupuk MDK bisa bersaing di pasar dan benar-benar memberi manfaat langsung bagi petani,” kata Erichan.
Sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi, koperasi juga telah mengoperasikan dua pangkalan LPG yang berada di Kecamatan Barangin dan Lembah Segar. Unit usaha tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan yang menopang kebutuhan 23 anggota koperasi.
Ke depan, koperasi juga menyiapkan langkah diversifikasi usaha dengan menjajaki sektor pertambangan batu bara. Saat ini proses pengurusan perizinan tengah dilakukan sebagai bagian dari strategi pengembangan jangka panjang.
“Kami tidak ingin berhenti di sini. Visi kami adalah menjadikan koperasi sebagai wadah ekonomi masyarakat yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Setiap unit usaha yang kami bangun harus memberi dampak nyata bagi anggota dan warga Sawahlunto,” tegas Erichan.
Pihak koperasi berharap dukungan pemerintah daerah dapat diperluas, tidak hanya dalam proses administrasi, tetapi juga melalui fasilitasi pengembangan usaha, penyediaan sarana produksi, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.
“Kami ingin pemerintah daerah hadir secara aktif. Bukan hanya dalam proses administrasi, tetapi juga membantu membuka pasar agar produk kami dapat menjangkau masyarakat luas. Jika usaha ini berjalan baik, dampaknya akan langsung dirasakan warga melalui penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi lokal,” tutup Erichan.












Discussion about this post