Bengkalis, Kabar SDGs – Di sudut halaman rumah warga, semerbak rimpang jahe yang baru dipotong menguar menyatu dengan udara pagi yang masih basah oleh embun. Bagi sebagian orang, wangi itu tak lebih dari aroma dapur. Namun bagi Murni (37), Ketua Kelompok PKK di lingkungannya, harum tersebut adalah tanda kebangkitan. Tanaman yang kerap dianggap biasa justru ia maknai sebagai penopang kesehatan sekaligus simbol berdirinya kemandirian keluarga.
Peringatan World Wildlife Day tahun ini mengangkat tema “Tanaman Obat dan Aromatik: Melestarikan Kesehatan, Warisan, dan Mata Pencaharian.” Tema tersebut seakan merekam persis langkah yang ditempuh Murni bersama para ibu dalam Program Puteri Proklim Melayu Lestari. Di tengah arus modernisasi, mereka memilih kembali menanam dan merawat tanaman obat sebagai bentuk perlawanan sunyi terhadap lunturnya pengetahuan tradisional.
Bagi masyarakat Melayu di Bengkalis, jahe merah, kunyit, dan beragam rimpang bukan sekadar pelengkap masakan, melainkan simpanan kesehatan yang diwariskan turun-temurun. Jahe dipercaya membantu menghangatkan tubuh dan meredakan gejala flu ringan, sementara kunyit kerap diracik untuk menjaga pencernaan serta kebugaran. Namun kebiasaan meramu sendiri perlahan tersisih oleh produk instan dan obat kimia yang serba cepat.
Momentum peringatan global itu juga mengingatkan bahwa seperempat obat modern berakar dari flora liar. Kesadaran inilah yang mendorong Murni dan kelompoknya menanam kembali Jahe Putih, Jahe Merah, hingga Ompu Kunyit di lahan fasilitas umum. Apa yang mereka lakukan mungkin tampak sederhana, tetapi sejatinya merupakan langkah konservasi dalam skala kecil—menjaga keberlanjutan tanaman aromatik sekaligus merawat ingatan kolektif agar tak terputus di generasi mereka.
Awalnya, lahan kosong di RW 29 Bumi Hijau, Kelurahan Air Jamban, hanya ditumbuhi semak dan dilewati tanpa arti. Keinginan menghadirkan kebun Tanaman Obat Keluarga sempat muncul, tetapi rasa ragu kerap membayangi. Mereka takut tenaga dan bibit terbuang percuma di tanah yang keras dan tak terurus.
“Dulu lahan ini membisu melihat keraguan kami. Niat mandiri itu ada, tapi nyali kami ciut sebelum mencoba,” kenang Murni dengan senyum tipis.
Perubahan mulai terasa setelah mereka mendapatkan pelatihan serta pendampingan berkelanjutan dari PT Pertamina Hulu Rokan. Sentuhan tangan para ibu mengubah wajah lahan tersebut. Tunas-tunas hijau bermunculan, menjadi saksi keberanian mereka yang tak lagi surut. Mereka belajar menyemai Jahe Putih, Jahe Merah, Ompu Kunyit, hingga merawat tanaman hortikultura dengan pupuk organik.
Dampaknya terasa nyata. Warga kini lebih mudah memperoleh tanaman obat tanpa harus ke pasar. Pengeluaran rumah tangga dapat ditekan, terutama ketika harga rempah melonjak. Anak-anak pun kembali mengenal rupa tanaman obat yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua.
“Dulu lahan ini hanya tanah kosong yang kami lewati setiap hari, sekarang setiap tunas yang tumbuh di sini seperti mengingatkan bahwa kami juga bisa tumbuh dan berubah bersama,” ujar Murni penuh haru.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengaku tersentuh melihat kegigihan para ibu tersebut. Baginya, keberhasilan yang lahir dari sebidang lahan sederhana adalah cerminan kemandirian yang tumbuh dari pola pikir.
“Menyaksikan perjuangan Ibu Murni dan kawan-kawan adalah pelajaran tentang ketangguhan. Mereka membuktikan bahwa dari sepetak lahan jahe dan kunyit, kita bisa menjaga kesehatan keluarga sekaligus melestarikan warisan leluhur,” ungkap Iwan.
Peringatan World Wildlife Day sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa menjaga flora liar berarti menjaga denyut kehidupan manusia. Di Bumi Hijau, langkah itu telah dimulai. Di tangan para perempuan yang tekun merawat tanah, sebatang rimpang tak lagi sekadar komoditas, melainkan warisan, kebanggaan, dan martabat yang terus bertunas.












Discussion about this post