Jakarta, Kabar SDGs – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mempercepat transformasi energi melalui pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif di pembangkit listrik. Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menegaskan biomassa menjadi pilar penting untuk mencapai target Nationally Determined Contributions (NDC) dan Net Zero Emission (NZE) nasional.
Tahun ini PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa mencapai 3 juta ton atau setara dengan tiga persen dari volume batu bara yang dikelola PLN. Target tersebut diperkirakan mampu menekan emisi hingga 3,3 juta ton CO2e per tahun. “Cofiring biomassa menjadi langkah cepat untuk menurunkan emisi tanpa perlu membangun PLTU baru,” ujar Rakhmad di Jakarta, Jumat (5/9).
PLN EPI memastikan ketersediaan energi primer seiring naiknya kebutuhan listrik nasional. Pasokan batu bara ditargetkan 99,76 juta ton pada 2025, sementara gas mencapai 1.329 BBTUD atau hampir 40 persen dari kebutuhan nasional. Di sisi lain, perusahaan juga mengembangkan regasifikasi LNG, memperkuat logistik BBM, serta membangun rantai pasok biomassa nasional dengan menggandeng mitra di berbagai wilayah.
Program cofiring kini dijalankan di 52 PLTU, dengan komposisi penggunaan biomassa antara 10 hingga 70 persen tergantung tipe boiler. Realisasi pemanfaatan biomassa terus meningkat, dari 312 ribu ton pada 2021 menjadi 1,8 juta ton pada 2024. PLN EPI optimistis target 3 juta ton tahun ini dapat tercapai, mengingat potensi biomassa Indonesia yang mencapai 130 juta ton per tahun dari limbah pertanian, limbah industri, hingga hutan tanaman energi.
Rakhmad menyebut pihaknya tengah membangun ekosistem biomassa terpadu, mulai dari pengumpulan bahan baku, sub-hub, hingga main hub dengan fasilitas mixing dan quality control. “Kami siap menjadi pelopor biomassa nasional, bukan hanya untuk kebutuhan listrik, tetapi juga industri dan ekspor,” tegasnya.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum ASPEBINDO sekaligus Komisaris PLN EPI, Anggawira, menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong transisi energi. HIPMI, kata dia, siap berperan dalam pengembangan biomassa di pasar domestik maupun internasional. “Potensinya luar biasa, Indonesia butuh lebih banyak pengusaha tangguh untuk mengoptimalkan peluang biomassa,” ujarnya.
Pemerintah menempatkan biomassa sebagai elemen strategis dalam roadmap transisi energi menuju NZE 2060 atau lebih cepat. Pada 2030 Indonesia menargetkan penurunan emisi 358 juta ton CO2e, dengan kontribusi sektor energi yang telah mencapai 147 juta ton pada 2024. Hingga semester I 2025, bauran energi baru terbarukan tercatat 15,2 persen, di mana biomassa menjadi salah satu kontributor terbesar, khususnya untuk pemanfaatan langsung non-listrik.












Discussion about this post