Gresik, Kabar SDGs – Di tengah dominasi kawasan industri Kabupaten Gresik, hadir sebuah kebun kecil yang menawarkan kesegaran dan ketekunan, menghadirkan jeruk Jepang unggulan sebagai hasil uji coba yang tak biasa. Terletak di Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, kebun milik Wito, seorang pedagang ikan manyung berusia 60 tahun, menjadi pelopor budidaya jeruk Dekopon di kota ini.
Jeruk Dekopon dikenal sebagai varietas premium karena ukurannya besar, tidak berbiji, dan memiliki cita rasa manis segar. Keunggulannya membuat buah ini tergolong langka dan bernilai tinggi di pasaran. Siapa sangka, pohon jeruk asal Jepang ini kini tumbuh subur di lahan berkapur seluas 700 meter persegi yang dulunya terbengkalai.
Kisahnya bermula pada tahun 2021 ketika Wito berkunjung ke Bandung dan melihat langsung kebun jeruk Jepang. Ketertarikannya mendorongnya membeli 25 bibit dan membawanya ke Gresik untuk ditanam. Berbekal lahan bagi hasil, ia nekat memulai, meski menyadari kondisi iklim panas dan tanah kapur di Gresik berbeda jauh dari dataran tinggi yang sejuk.
Usahanya tidak sia-sia. Kini kebunnya telah berkembang menjadi 100 pohon yang mulai berbuah. Dengan pupuk organik hasil olahan limbah perut sapi, ia menyiasati keterbatasan tanah. Hasilnya, satu pohon bisa menghasilkan rata-rata 23 buah dengan bobot per buah mencapai setengah kilogram.
Tak hanya jeruk Jepang, ia juga menanam jeruk siem Banyuwangi dan stroberi. Pengunjung bisa memetik buah langsung dari pohon, namun karena pengelolaan masih sederhana, kunjungan dilakukan dengan reservasi. Harga tiket masuk hanya Rp10 ribu per orang, sementara harga jeruk Jepang Rp45 ribu per kilogram dan jeruk siem Rp15 ribu.
Kebun ini telah mencuri perhatian publik, termasuk anggota DPRD Gresik Komisi II, Ricke Mayumi. Ia mengapresiasi keberanian Wito dalam mengembangkan tanaman unggulan yang tidak umum ditanam di wilayah ini. Ia bahkan berencana menjembatani ketersediaan limbah sapi dari RPH untuk dijadikan bahan baku pupuk organik.
Sementara itu, Ketua GOW Gresik, dr. Shinta Puspita Sari, juga mendukung pengembangan kebun ini sebagai wahana edukasi keluarga. Ia mengaku kebun ini menawarkan suasana yang asri dan cocok untuk wisata petik buah yang menyenangkan.
Di balik sederhananya kebun Wito, tersimpan semangat inovasi dan keberanian mencoba hal baru, sekaligus memberikan inspirasi bahwa pertanian perkotaan pun bisa tumbuh subur di tengah kerasnya lingkungan industri, sejalan dengan semangat keberlanjutan yang didorong oleh tujuan pembangunan berkelanjutan.












Discussion about this post