• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
6 Agustus 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home OPINION

Rebut Balung Tanpo Isi

by SDGS Admin
28 Maret 2025
Rebut Balung Tanpo Isi
35
SHARES
218
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Hari itu panas terik sekali serasa menyengat ubun-ubun; sekalipun matahari tidak begitu tampak, namun karena udara terperangkap pada awan yang mulai menghitam, akibatnya udara menjadi serasa di dalam oven. Pada kondisi itu alat media cakap berdering berarti ada yang masuk; tetapi karena situasi tidak mendukung maka tidak ada keinginan untuk menyambutnya; lagi pula jika suara keras seperti itu berarti tidak ada pada buku telpon sehingga bisa dipastikan itu pendatang baru. Namun karena sudah lebih dari tiga kali berdering, maka dengan kemalasan yang ada, terpaksa alat cakap itu diangkat. Ternyata, di seberang sana ada sahabat yang sudah lama sekali tidak jumpa meminta waktu untuk bicara, dan beliau mengonfirmasi bahwa mendapatkan nomor dari salah seorang mahasiswa program doktor di satu universitas ternama di daerah ini.

Percakapan dimulai dari yang ringan-ringan sampai pada titik tertentu membicarakan hal yang serius dari satu persoalan. Beliau menggunakan diksi dalam bahasa Jawa yang sudah lama tidak terdengar yaitu istilah seperti judul tulisan ini. Sontak ingatan menerawang jauh kepada kedua almarhum orang tua yang pernah menggunakan diksi itu dalam menasehati kami anak-anaknya, bahasa lengkapnya begini: “Anak-anakku kabeh, Bapak-Ibumu orak ninggalke bondo dunyo, mung ninggalke kepintaran ono sirahmu; mergo nek bondo dunyo mengko kuwe podo rebutan koyo dene rebutan balung tanpo isi; luwih becik taktinggali kepinteran supoyo kowe kabeh podo jajah deso milangkori”. Terjemahan bebasnya kira-kira “Anak-anakku, Bapak-Ibumu tidak mewariskan harta dunia, tetapi hanya meninggalkan kepandaian yang ada di kepalamu, sebab kalau harta dunia nanti kalian akan rebutan bagai berubut tulang tanpa isi, lebih baik saya tinggalkan kepandaian supaya kalian bisa keliling dunia”.

BACA JUGA

Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

4 Juni 2026
Usulan Smart State Trading dan Tata Kelola Ekspor SDA Indonesia

Usulan Smart State Trading dan Tata Kelola Ekspor SDA Indonesia

27 Mei 2026
Dolar, Wakaf, dan Pembangunan Berkelanjutan: Peluang di Tengah Krisis

Dolar, Wakaf, dan Pembangunan Berkelanjutan: Peluang di Tengah Krisis

25 Mei 2026

Seputus bicara dengan sohib lama tadi, kenangan lama bersama saudara-saudara dan orang tua terbayang kembali dalam ingatan. Bagaimana orang tua dahulu berkorban dengan berbagai cara agar anak-anaknya harus bersekolah di tengah situasi sulit saat itu. Alhamdullilah, kami semua sekarang menikmati hasilnya sesuai dengan doa beliau dan menjalankan kodratnya masing-masing.

Sebelum lebih jauh membumikan istilah diatas, sebaiknya kita pahami terlebih dahulu apa konsep dari rebut balung tanpo isi itu. Dari penelusuran digital ditemukan jejak sebagai berikut: Ungkapan “rebut balung tanpo isi” berasal dari kearifan lokal dalam filsafat Jawa yang menekankan kebijaksanaan dalam bertindak dan memahami nilai sejati dalam kehidupan.

Meskipun tidak memiliki catatan sejarah formal yang jelas, konsep ini erat kaitannya dengan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam budaya Jawa, terutama dalam ajaran keselarasan (harmoni), kebijaksanaan, dan eling lan waspada (kesadaran dan kewaspadaan).

Asal-Usul dan Konteks Sejarah :

1. Era Kerajaan Jawa (Mataram Kuno hingga Mataram Islam). Dalam masa kerajaan-kerajaan Jawa, persaingan dan perebutan kekuasaan sering terjadi, baik antarsaudara maupun antarabangsawan. Banyak perang saudara atau konflik yang justru menghancurkan tatanan masyarakat karena perebutan sesuatu yang tidak benar-benar bernilai (misalnya, tahta tanpa legitimasi atau wilayah yang miskin sumber daya). Konsep “rebut balung tanpo isi” muncul sebagai kritik terhadap perebutan kekuasaan yang tidak membawa manfaat bagi rakyat, tetapi hanya melayani ambisi pribadi.

2. Filosofi Wayang dan Serat Kuno
Dalam wayang kulit, ada banyak kisah yang menggambarkan tokoh-tokoh yang bertarung demi sesuatu yang sia-sia. Misalnya, dalam kisah Mahabharata, tokoh seperti Duryudana dan Karna bisa dianggap “merebut balung tanpa isi” karena memperebutkan kerajaan secara tidak adil, meskipun akhirnya kehancuranlah yang mereka dapatkan.
Dalam serat-serat kuno seperti Serat Wulangreh (oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV), ajaran kebijaksanaan sering kali menyoroti pentingnya memahami mana yang benar-benar berharga dan mana yang hanya ilusi duniawi.

3. Pengaruh Filsafat Jawa
Dalam ajaran budaya Jawa, manusia diajarkan untuk selalu mempertimbangkan apakah sesuatu layak diperjuangkan atau tidak. Sejatining urip(hakikat hidup) tidak terletak pada harta atau kekuasaan, melainkan pada keseimbangan dan kebijaksanaan. Prinsip ini juga sejalan dengan konsep “sabar, nrimo, lan waskita” (kesabaran, penerimaan, dan kebijaksanaan dalam melihat masa depan).

Oleh sebab itu dalam konteks kehidupan, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan: Pertarungan sia-sia – misalnya, perebutan kekuasaan, jabatan, atau harta yang sebenarnya tidak membawa kesejahteraan atau kebahagiaan sejati. Keserakahan tanpa esensi – orang yang hanya mengejar keuntungan materi tanpa memperhatikan nilai moral dan spiritual. Pertarungan demi harga diri semu – ketika orang bertengkar atau bersaing hanya demi gengsi atau ego, tanpa melihat apakah hal yang diperebutkan benar-benar bermanfaat.

Ungkapan ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam ambisi kosong yang hanya membawa kehancuran. Filsafat Jawa menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam memilih perjuangan, sehingga hidup tidak hanya sekadar mengejar sesuatu yang tampaknya berharga, tetapi sebenarnya kosong dan tidak bermakna.

Ternyata rebut balung tanpo isi itu sekarang tidak hanya melanda keluarga, akan tetapi juga merambah ke warga negara terhadap negaranya. Hanya bedanya sekarang berubah “rebut balung,sementara isinya sudah disedot orang lain duluan”; bisa dibayangkan kita berteriak basmi korupsi, basmi nepotisme dan lain sebagainya. Ternyata diseberang sana mereka berpesta dalam ruangan berpendingin sejuk dengan tertawa-tawa menikmati hasil korupsi berjamaah; sebagai misal korupsi di anak usaha Pertamina.

Semula semua ingin jadi pahlawan, seiring perjalanan waktu karena mengetahui aliran dana bagai Bengawan Solo yang mengalir sampai jauh, semua membisu. Kita berteriak pagar laut yang ilegal, dari rakyat sampai pejabat; ternyata yang punya sedang minum kopi panas bersama ketua. Sekali lagi, kita semua sedang berebut balung yang sudah tidak bersumsum. Buktinya hutang bejibun tapi mau diselesaikan dengan cara “melamun”. Salam Waras

Sujarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

 

Share14SendTweet9
Previous Post

Rekayasa Lalu Lintas One Way Nasional Cikampek-Kalikangkung Resmi Diberlakukan

Next Post

Mbak Vinanda dan Gus Qowim Serahkan Santunan Kepada 180 Anak Yatim

Next Post
Mbak Vinanda dan Gus Qowim Serahkan Santunan Kepada 180 Anak Yatim

Mbak Vinanda dan Gus Qowim Serahkan Santunan Kepada 180 Anak Yatim

Polisi Kawal Upacara Melasti di Pringsewu

Polisi Kawal Upacara Melasti di Pringsewu

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Jayapura Siapkan Lahan untuk Pembangunan Sekolah Rakyat

Jayapura Siapkan Lahan untuk Pembangunan Sekolah Rakyat

6 Agustus 2026
Hyundai Luncurkan STARIA Electric dan Hybrid di GIIAS 2026

Hyundai Luncurkan STARIA Electric dan Hybrid di GIIAS 2026

6 Agustus 2026
Indonesia Tambah Tiga Medali di Kejuaraan Taekwondo Asia

Indonesia Tambah Tiga Medali di Kejuaraan Taekwondo Asia

6 Agustus 2026
Jember Perkuat Posisi Sebagai Kota Cerutu Dunia

Jember Perkuat Posisi Sebagai Kota Cerutu Dunia

6 Agustus 2026
Pertamina Lubricants Latih Guru 54 SMK dari Seluruh Indonesia Menjadi ‘Teacherpreneur’ Otomotif

Pertamina Lubricants Latih Guru 54 SMK dari Seluruh Indonesia Menjadi ‘Teacherpreneur’ Otomotif

5 Agustus 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    1674 shares
    Share 670 Tweet 419
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    1394 shares
    Share 558 Tweet 349
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    1386 shares
    Share 554 Tweet 347
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    1374 shares
    Share 550 Tweet 344
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    1374 shares
    Share 550 Tweet 344

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.