Purwakarta, Kabar SDGs – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, aktivitas di pasar tradisional Kabupaten Purwakarta mengalami peningkatan signifikan. Sejak dini hari, arus pembeli mulai memadati kawasan pasar, khususnya di sepanjang Jalan KK Singawinata menuju Pasar Rebo.
Keramaian ini dipicu meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam mempersiapkan berbagai keperluan Lebaran. Sejumlah pedagang musiman pun turut meramaikan area tersebut, menawarkan berbagai barang khas yang banyak dicari menjelang hari raya.
Salah satu komoditas yang menjadi incaran adalah urung ketupat berbahan janur. Tingginya permintaan membuat dagangan ini laris manis sejak pagi hari, bahkan sebelum seluruh barang tertata rapi.
“Dari subuh sudah ramai, bahkan sebelum dagangan selesai ditata pembeli sudah datang,” ujar Asep (45), salah satu pedagang urung ketupat, Jum’at (20/3).
Ia menyebutkan, pendapatannya meningkat tajam dibanding hari biasa. Untuk harga, urung ketupat kini dijual berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per ikat, tergantung kualitas bahan dan ukuran anyaman.
Meski mengalami kenaikan harga, minat masyarakat tetap tinggi. Banyak pembeli memilih datang lebih awal demi memastikan kebutuhan Lebaran terpenuhi.
“Takut habis kalau siang, jadi mending beli pagi. Soalnya ketupat wajib ada saat Lebaran,” kata Siti (38), salah seorang pembeli.
Selain ketupat, penjualan bunga juga mulai mengalami peningkatan. Warga membeli bunga untuk berbagai keperluan, mulai dari dekorasi hingga tradisi ziarah kubur menjelang hari raya.
“Penjualan bunga mulai naik dalam beberapa hari ini. Biasanya makin dekat Lebaran makin ramai,” kata Rina (42), pedagang bunga di kawasan tersebut.
Peningkatan aktivitas jual beli ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga malam takbiran. Tingginya mobilitas masyarakat dalam mempersiapkan Idulfitri menjadi faktor utama yang mendorong perputaran ekonomi di pasar tradisional semakin bergairah.












Discussion about this post