SLEMAN, KabarSDGs – Ekosistem adalah suatu kesatuan tempat hidup yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan. Komponen-komponen tersebut dapat berupa makhluk hidup (biotik) maupun unsur-unsur non-hidup (abiotik), dan mereka memiliki hubungan ketergantungan satu sama lain melalui berbagai interaksi.
Aktivitas manusia sebagai salah satu komponen ekosistem memiliki dampak yang dapat berupa manfaat atau kerusakan terhadap komponen lainnya, baik itu komponen biotik maupun abiotik. Oleh karena itu, pengelolaan ekosistem di masa depan menghadapi tantangan yang besar, terutama dalam hal keberlanjutan ekologis, jasa ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Dalam konteks ekosistem, penting untuk melakukan monitoring secara terus-menerus. Namun, di Indonesia, pelaksanaan monitoring masih memiliki keterbatasan, terutama dalam hal ketersediaan data secara real-time. Salah satu peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan monitoring adalah berkembangnya konsep Internet of Things (IoT) sebagai hasil dari revolusi industri 4.0 yang mendorong perkembangan sistem informasi berbasis teknologi cyber.
Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) dan Organisasi Hayati dan Lingkungan (ORHL) telah sepakat untuk melakukan kerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) dalam pengembangan sistem dan instrumen monitoring ekosistem berbasis Internet of Things (IoT). Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan dokumen kerja sama yang dilakukan secara hybrid di Auditorium A1.06 FMIPA UGM pada Senin (26/06/2023).
Peneliti dan Koordinator Periset dari PREE BRIN, Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho yang mewakili Kepala PREE BRIN, Anang Setiawan Achmadi menyatakan, output utama dari kegiatan riset dan inovasi di BRIN adalah publikasi ilmiah tingkat internasional dan pengembangan prototipe yang dapat mengarah pada paten. Salah satu mitra potensial untuk mencapai tujuan tersebut adalah Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) di FMIPA UGM.
“Melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini, diharapkan terjadi kolaborasi antara para peneliti di PREE dan FMIPA UGM dalam hal pengetahuan dan teknologi. PKS ini didahului oleh Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang mencakup lima topik pengembangan sistem dan instrumen monitoring ekosistem,” ujarnya dalam siaran tertulisnya.
Hunggul menerangkan, salah satu instrumen yang sedang dikerjakan adalah ModATHUS, yang merupakan modifikasi alat pengukur curah hujan untuk mengumpulkan data hujan secara real-time. Saat ini, proses pengajuan paten untuk ModATHUS sedang berlangsung.
“Selain itu, sedang dikembangkan instrumen berbasis sensor yang bersifat mobile untuk monitoring pencemaran udara di perkotaan secara real-time. Kolaborasi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta, serta Balai Pengelolaan Transportasi Darat Jawa Tengah dan DIY telah dilakukan untuk melakukan riset dan inovasi dalam monitoring pencemaran udara secara temporal dan spasial menggunakan instrumen mobile,” ungkapnya.
Hunggul menyatakan, setelah berkolaborasi dengan DIKE FMIPA UGM, ide-ide mengenai eksekusi instrumen tersebut telah ditemukan. Instrumen lain yang akan dikembangkan bersama DIKE adalah instrumen berbasis sensor untuk monitoring pencemaran air di sungai dan danau, yang mencakup pemantauan dari hulu ke hilir.
“Selain instrumen, pengembangan jaringan sensor nirkabel (wireless sensor network) dan sistem manajemen basis data juga sedang dilakukan untuk monitoring ekosistem,” jelasnya.
Hunggul juga melanjutkan, tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mengembangkan sistem monitoring dan instrumen yang terkait dengan ekosistem hutan, ekosistem perairan, kualitas udara perkotaan, dan kebencanaan. Dia berharap dengan kerja sama antara BRIN dan FMIPA UGM, hasil dari riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah dan paten, tetapi juga dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat.
Dekan FMIPA UGM, Kuwat Triyana berharap, setelah penandatanganan PKS, tindakan nyata dapat dilakukan untuk mewujudkan apa yang telah diidamkan.
“FMIPA UGM siap dan senang untuk bekerja sama dengan PREE BRIN dalam hal pengembangan sistem basis data. FMIPA UGM juga siap membantu para peneliti dalam mengkomersialisasikan produk riset yang telah mendapatkan paten,” ujarnya.
Kuwat menjelaskan, FMIPA UGM sangat terbuka untuk melakukan kerja sama dalam mengembangkan riset unggulan dengan berbagai pihak, termasuk dengan BRIN.
“Berbagai kegiatan yang telah disampaikan terhubung dengan berbagai program studi di FMIPA,” pungkasnya.












Discussion about this post