Beijing, Kabar SDGs – Dalam rangka merayakan 70 tahun Konferensi Bandung dan 75 tahun hubungan diplomatik antara China dan Indonesia, Pusat Inovasi Transportasi Berkelanjutan Universitas Jiaotong Beijing bersama dengan Sekolah Pendidikan Internasional Universitas Jiaotong Beijing mengadakan sebuah acara bertema “Gema Bandung: Dialog Ramah antara Pemuda China dan Indonesia” pada hari Kamis lalu (27/3) yang berlangsung pada Senin (31/3/2025).
Sembilan pelajar asal Indonesia yang tengah belajar di China dari berbagai universitas mempersepsikan Semangat Bandung sebagai “Persatuan, Persahabatan, Kerja Sama” melalui pandangan generasi muda. Di tengah geliat kereta cepat dan sistem logistik canggih, mereka bersama-sama membentuk visi baru untuk pembangunan komunitas yang memperlihatkan masa depan kolaboratif bagi manusia di Asia.
Integrasi antar budaya bukan hanya sekadar lapisan simbolis yang sederhana, tetapi juga merupakan interaksi alami dari berbagai perayaan, seperti perayaan Imlek dan tarian Dayak. Marvell Millensza, seorang mahasiswa dari Institut Teknologi Beijing dan presiden Perhimpunan Mahasiswa Indonesia China di Beijing, menekankan bahwa dalam era baru, kerjasama yang harmonis antara China dan Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada langkah-langkah pemerintah, tetapi juga perlu keterlibatan aktif dari masyarakat kedua negara.
Pada tahun 1955, Konferensi Asia Afrika berhasil diadakan di Bandung. “Ini merupakan pencapaian yang sangat berarti pada masa itu, dan sebagai warga Indonesia, saya merasa sangat bangga,” ungkap Jessica, seorang pelajar yang mempelajari diplomasi di Universitas Renmin China. Sebagai bagian dari Generasi Z, ia menyoroti pentingnya mengingat kembali sejarah serta semangat untuk menyebarluaskan nilai-nilai Bandung.
Jessica menjelaskan bahwa semakin eratnya hubungan antara China dan Indonesia, kemampuan berbahasa Mandarin telah menjadi pintu menuju peluang baru dalam perkembangan kariernya. “Ketika mencari informasi mengenai pekerjaan, saya menemukan banyak lowongan di Indonesia kini mencantumkan ‘kemahiran berbahasa Mandarin’ sebagai syarat tambahan,” ungkapnya.
Dulu, perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih banyak mengutamakan karyawan yang fasih berbahasa Inggris, namun kini, kemampuan berbahasa Mandarin telah muncul sebagai keterampilan yang sangat berharga, dan dalam beberapa kasus, bahkan menjadi salah satu persyaratan yang tegas.
Ini mengindikasikan bahwa penguasaan bahasa Mandarin telah berkembang dari sekadar nilai tambah menjadi elemen penting dalam daya saing karier. Saya berharap bisa memanfaatkan pengalaman serta kemampuan bahasa yang saya dapatkan di China untuk memfasilitasi kerjasama antara Indonesia dan China di sektor ekonomi, budaya, dan pendidikan, serta berkontribusi pada perkembangan Indonesia, ujar Jessica.
Semangat Bandung tetap terjaga relevansinya, mengedepankan kemakmuran dan pembangunan kolaboratif, serta terwujud dalam infrastruktur terhubung dalam era digital. Wynne Florencia, mahasiswa jurusan manajemen logistik di Universitas Jiaotong Beijing, menyatakan bahwa kemajuan yang pesat di China dan sistem logistiknya yang canggih mendorong banyak orang untuk belajar di sana.
Dia berkeinginan untuk membawa kembali inovasi dalam logistik pintar dan manajemen rantai pasokan ke Indonesia untuk mendukung kerjasama bilateral di bidang logistik, pertukaran perusahaan, dan pendidikan budaya.
“Sistem logistik di China sangat maju dengan rantai pasokan yang terintegrasi, sementara Indonesia, yang merupakan salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terus memperbaiki infrastruktur logistiknya. Saya bermimpi dapat menerapkan pengetahuan manajemen logistik yang saya peroleh di China untuk mengoptimalkan sistem logistik di Indonesia dan mendorong kolaborasi di berbagai sektor, seperti e-commerce, perdagangan maritim, dan manajemen rantai pasokan,” kata Wynne.
Tujuh dekade lalu, Perdana Menteri China Zhou Enlai menanamkan prinsip-prinsip “Persatuan, Persahabatan, Kerja Sama” di Bandung. Tujuh puluh tahun kemudian, generasi muda di China dan Indonesia mengartikan semangat Bandung dalam konteks modern dengan berbagai cara, berambisi untuk meraih lebih banyak manfaat dari teknologi melalui kolaborasi mereka.
Seperti yang diungkapkan oleh Marvell, “Gema sejati dari Bandung tidak terletak dalam pameran museum, tetapi dalam perjalanan masa depan yang kita ciptakan bersama.”











Discussion about this post