Samarinda, Kabar SDGs – Ketidaksukaan terhadap pisang justru membawa berkah bagi Ruslina, perwakilan DPD IPPRISIA Kalimantan Timur. Dengan tangan kreatifnya, ia berhasil meraih Juara I Kategori Kudapan Non Beras Non Terigu dalam ajang Lomba Kreasi Menu B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) yang digelar Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim bersama Tim Penggerak PKK Kaltim di Gedung Olah Bebaya, Samarinda, Sabtu (11/10/2025).
Mengusung konsep pangan lokal tanpa gluten, Ruslina menghadirkan dua menu inovatif: Hokkaido Banana Cheese Tart dan Banana Sorbet. Keduanya menggunakan pisang dan tepung singkong (mocaf) sebagai bahan utama, menggantikan tepung terigu agar sesuai dengan tema non-gluten dan berbasis pangan lokal.
“Awalnya saya memang tidak suka pisang, bahkan anak-anak saya pun sama. Tapi dari situ muncul ide: bagaimana caranya membuat olahan pisang yang disukai semua kalangan,” ujar Ruslina sambil tersenyum.
Dalam waktu total dua setengah jam, Ruslina berhasil memadukan cita rasa, estetika, dan nilai gizi. “Satu jam untuk persiapan bahan, satu jam untuk memanggang, dan sisanya untuk pendinginan supaya set sebelum disajikan,” jelasnya.
Ruslina mengaku kemenangan ini tak lepas dari dukungan penuh DPD IPPRISIA Kaltim. Ketua organisasi tersebut disebutnya memberikan semangat dan bantuan modal yang membuatnya percaya diri tampil di ajang tersebut. “Alhamdulillah, IPPRISIA Kaltim benar-benar mendukung saya. Tanpa dorongan itu, mungkin hasilnya tidak seperti ini,” ungkapnya.
Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana, menegaskan bahwa lomba B2SA bukan hanya adu keterampilan memasak, melainkan juga bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah dengan memanfaatkan potensi bahan pangan lokal. “Bahan bergizi itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Hanya saja, masih banyak yang belum tahu cara mengolahnya secara kreatif,” kata Yana.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan dalam memperluas edukasi konsumsi pangan lokal. “Dengan dukungan TP PKK, sosialisasi bisa lebih efektif karena langsung menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Bagi Ruslina, kemenangan ini bukanlah akhir, tetapi awal dari langkah baru untuk menginspirasi masyarakat agar lebih mencintai pangan lokal. Ia percaya generasi muda kini semakin sadar akan gaya hidup sehat dan siap menjadikan bahan pangan lokal sebagai pilihan utama.
“Sekarang anak-anak muda lebih melek kesehatan. Saya yakin pangan lokal yang sehat dan kreatif akan jadi tren baru ke depan,” tutupnya penuh optimisme.












Discussion about this post