Batam, Kabar SDGs – Negara Indonesia memiliki banyak ciri unik, salah satunya adalah penutup kepala berwarna hitam dengan tekstur yang mirip bludru, yang dikenal oleh masyarakat sebagai Peci Hitam.
Bagi umat muslim di Indonesia, benda ini sudah pasti menjadi hal biasa, terutama digunakan oleh pria saat menjalani ibadah sholat atau dalam acara-acara tertentu yang memiliki nuansa religius. Dikatakan bahwa latar belakang sejarahnya sangat erat kaitannya dengan gerakan nasional Indonesia, hingga melibatkan berbagai tokoh penting di negara ini.
Selain membahas asal usul Peci Hitam, tulisan ini juga akan menerangkan mengapa Peci Hitam banyak dikenakan oleh tokoh-tokoh nasional serta figur-figur lain yang sangat dihormati.
Dalam Buku Api Sejarah edisi pertama yang ditulis oleh sejarawan terkenal Ahmad Mansyur Suryanegara, diceritakan bahwa pelopor Peci Hitam adalah Hadji Omar Said Cokroaminoto, atau lebih dikenal sebagai HOS Cokroaminoto, sekitar tahun 1916.
Selain itu, berdasarkan buku otobiografi karya Cindy Adams, sosok seperti Bung Karno menceritakan betapa besar tekadnya untuk mengenakan Peci sebagai simbol pergerakan.
Pada waktu itu, kalangan intelektual yang mendukung gerakan nasional tidak mau mengenakan blangkon, yaitu penutup kepala tradisional Jawa. Jika kita mengamati foto Wahidin dan Cipto yang mengenakan blangkon, itu terjadi sebelum tahun 1920-an. Ada aspek sejarah politik yang terkait dengan penutup kepala ini.
Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial memberlakukan peraturan: siswa “inlander” (pribumi) tidak diperbolehkan mengenakan pakaian Eropa.
Sehingga siswa yang berasal dari Jawa biasanya mengenakan blangkon dan sarung batik. Sedangkan siswa yang berasal dari Maluku atau Menado, yang umumnya Kristen, diperbolehkan memakai pakaian Eropa seperti celana panjang, jas, dasi, dan kadang-kadang topi. Dari sejarah ini, kita bisa melihat upaya pemerintah kolonial untuk membedakan masyarakat berdasarkan asal-usul etnis dan agama.
Banyak aktivis gerakan nasional pun menolak untuk mengenakan blangkon. Apalagi mereka umumnya memiliki semangat untuk mencapai “kemajuan” dan modernisasi. Oleh karena itu, penolakan terhadap busana tradisional juga menunjukkan penolakan terhadap kebijakan kolonial “divide et impera” serta tradisi lama. Lalu, apa alternatifnya?
Pada Juni 1921, Bung Karno menemukan solusinya. Dia memilih untuk menggunakan Peci. Saat itu, diadakan pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang dan mengenakan Peci, meskipun ia merasa takut akan diejek. Namun, ia meyakinkan dirinya bahwa untuk menjadi pemimpin, bukan pengikut, ia harus berani untuk memulai sesuatu yang baru.
Waktu itu, menjelang dimulainya rapat, suasana mulai gelap. Bung Karno berhenti sejenak. Ia menyembunyikan diri di belakang penjual sate. Setelah ragu sejenak, ia berucap pada dirinya sendiri:
“Beranikan dirimu. Kenakan peci itu. Tarik napas dalam-dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Kemudian dia melangkah masuk ke dalam ruang rapat. “Setiap orang menatapku dengan penuh keheranan tanpa sepatah kata,” kenang Bung Karno mengenai momen tersebut.
Untuk mengatasi rasa canggung, Bung Karno mulai berbicara. “Kita butuh sebuah simbol yang mencerminkan identitas Indonesia.” Peci, menurut Bung Karno, “digunakan oleh para pekerja dari bangsa Melayu.”
Dan itu “merupakan bagian yang hakiki dari rakyat kita. Bung Karno menjelaskan bahwa istilah “peci” berasal dari “pet” (topi) dan “je,” yang dalam bahasa Belanda menggambarkan sesuatu yang kecil. Dari sejarah penggunaan serta penamaannya, peci mencerminkan Indonesia: suatu struktur “inter-kultur.”
Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika apapun latar belakangnya, dan agama apa pun yang dianut, para aktivis mengenakan peci. Kesimpulan mendasar adalah peci bukan sekadar lambang agama, melainkan simbol budaya bangsa Indonesia secara khusus dan Melayu secara umum.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” di The Brunei Times, 23 September 2007, songkok pertama kali dikenalkan oleh pedagang Arab yang juga menyebarluaskan agama Islam. Bersamaan dengan itu, dikenal pula serban.
Namun demikian, serban diperuntukkan bagi para cendekiawan Islam atau ulama, bukan masyarakat umum.
“Menurut para ahli, songkok mulai menjadi hal biasa di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, ketika Islam mulai melekat,” tulis Rozan.
Ironisnya, para pedagang Arab yang dianggap sebagai penyebar peci atau songkok di tanah Melayu justru meninggalkan tradisi tersebut. Sehingga para sejarawan berspekulasi mengenai keberadaan peci di Indonesia.
Di beberapa negara Islam, bentuk yang mirip dengan songkok masih banyak dikenakan. Di Turki, ada fez, sedangkan di Mesir dikenal dengan sebutan tarboosh. Fez itu sendiri asalnya dari Yunani Kuno dan kemudian diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi.
Di Asia Selatan, seperti India, Pakistan, dan Bangladesh, fez dikenal sebagai Roman Cap atau Rumi Cap. Topi ini menjadi simbol bagi identitas Islam dan mencerminkan dukungan komunitas Muslim di India terhadap kekhalifahan yang dipimpin oleh Kekaisaran Ottoman.
Namun, desain peci memiliki perbedaan tersendiri. Di bagian atas, peci mempunyai jahitan yang lebih kaku dibandingkan dengan penutup kepala dari negara-negara Arab. Hal ini membawa beberapa orang untuk menganggap bahwa peci adalah modifikasi dari blangkon Jawa yang dipadukan dengan surban Arab.
Terdapat anggapan bahwa peci merupakan inovasi dari Sunan Kalijaga. Pertama kali, ia menciptakan mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang dinamai Kuluk, yang memiliki bentuk lebih sederhana dibandingkan mahkota milik ayahnya, Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V.
Kuluk ini mirip dengan kopiah, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Hal ini sesuai dengan prinsip egaliter dalam ajaran Islam. Dalam pandangan Allah SWT, raja dan rakyat setara, dan yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan.
Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa peci diperkenalkan ke Indonesia oleh Laksmana Ceng Ho. Kata PECI berasal dari istilah PE, yang berarti delapan, dan CHI, yang berarti energi, sehingga makna peci adalah penutup kepala yang bisa memancarkan energi ke delapan arah.
Tidak ada sumber yang jelas mengenai siapa pencipta peci, dan berbagai versi sejarah tentang peci beredar di masyarakat. Salah satunya menyatakan bahwa para pedagang Arab yang menyebarkan Islam di tanah Melayu pada abad ke-13 mengenalkan peci. Ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia juga membawa pulang peci tersebut sebagai oleh-oleh.
Seorang sejarawan Belanda bernama Jean Gelman Taylor pernah meneliti interaksi antara pakaian Jawa dan Belanda antara tahun 1800 sampai 1940. Dalam penelitiannya, ia mencatat bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh ini terlihat dalam adopsi elemen tertentu dari pakaian Barat. Pria Jawa yang bergaul dengan orang Belanda mulai mengenakan pakaian bergaya Barat, namun menariknya, blangkon atau peci tetap menjadi bagian penting dari penampilan mereka.
Menyusuri sejarah peci, terlihat bahwa pengaruh pedagang Timur Tengah yang masuk ke Nusantara memainkan peranan awal. Berasal dari sorban yang berkembang menjadi peci atau dari topi Fez khas Turki yang dimodifikasi oleh penduduk setempat; akan tetapi, peci tidak selalu identik dengan Islam.
Peci adalah penutup kepala yang dapat dipakai oleh individu dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Secara umum, peci bukanlah syarat atau sunnah untuk beribadah. Peci juga tidak merefleksikan tingkat keimanan atau kesalehan seseorang, tetapi lebih merupakan warisan budaya yang sepatutnya dihormati dan dilestarikan.












Discussion about this post