JAKARTA, KabarSDGs – Sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang mengawasi riset, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki visi untuk membentuk ekosistem riset di Indonesia bagi masyarakat dan industri. BRIN menciptakan berbagai program dan skema pendanaan yang dapat diikuti oleh industri dengan bekerja sama dengan para peneliti BRIN.
Salah satu contohnya adalah kerjasama antara PT Elevasi Teknologi Aeronautika (INAERO) dan Pusat Riset Teknologi Terbang (PRTP) yang merupakan bagian dari BRIN, dalam Program Pengusaha Pemula berbasis Riset (PPRBR) pada tahun 2022.
Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Fadilah Hasim menerangkan, kerjasama ini bertujuan untuk mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) dengan kemampuan peluncuran dan pendaratan secara vertikal.
“Salah satu pengujian yang dilakukan pada sistem PUNA adalah pengujian sistem autopilot di laboratorium DO-178C yang terletak di PRTP-BRIN,” ujarnya dalam siaran tertulis resmi BRIN.
Fadilah melanjutkan, PUNA yang dikembangkan melalui skema pendanaan PPRBR ini menggunakan basis AEROpro B type. AEROpro B type adalah salah satu jenis PUNA dengan sayap tetap (fixed wing) yang diproduksi oleh INAERO. PUNA ini menggunakan bahan berupa serat karbon komposit.
“Pada saat melakukan misi terbang, PUNA diluncurkan menggunakan tali pelontar dan memerlukan lahan dengan luas tertentu. Hal yang sama berlaku untuk pendaratannya,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, Misi terbang peluncuran dan pendaratan dikendalikan secara manual dengan menggunakan remote kontrol. Ketika mencapai ketinggian terbang yang ditentukan, PUNA akan beralih ke mode otonom, di mana sistem autopilot akan mengambil alih kendali penerbangan dari pilot untuk mengikuti misi terbang yang telah ditentukan.
Berdasarkan AEROpro B type tersebut, INAERO dan PRTP-BRIN mengembangkan PUNA menjadi tipe AEROpro BX. Tipe ini memiliki kemampuan lepas landas dan pendaratan secara vertikal (VTOL). AEROpro BX dapat digunakan untuk pemetaan presisi dalam skala luas, dengan kemampuan mencakup area seluas 300-500 hektar dalam setiap penerbangan. Selain itu, dengan mengganti muatan (payload) menjadi kamera infra merah (FLIR), AEROpro BX juga dapat digunakan sebagai platform untuk pemantauan dalam skala terbatas.
Fadilah menyebutkan, AEROpro BX memiliki fleksibilitas untuk melakukan lepas landas dan pendaratan dari berbagai tempat tanpa memerlukan landasan, sehingga dapat digunakan untuk misi pemetaan atau pemantauan di daerah-daerah yang tidak memiliki landasan atau lapangan.
“Namun, tipe AEROpro BX juga memiliki kelemahan. Tipe ini memiliki daya tahan terbang yang lebih rendah dibandingkan dengan versi non-VTOL dengan kapasitas baterai yang sama. Selain itu, kapasitas angkut muatan juga lebih kecil dibandingkan dengan versi non-VTOL, karena versi VTOL membawa beban tambahan berupa komponen VTOL seperti mesin, baling-baling, dan rangka penyangga mesin,” jelas Fadilah.
Fadilah meneruskan, pada tahun 2023 ini, tujuan utamanya adalah menguji sistem autopilot yang telah dikembangkan untuk PUNA tipe AEROpro BX di laboratorium DO-178C. Hal ini bertujuan untuk memverifikasi dan memvalidasi persyaratan dari sistem autopilot yang telah ditentukan pada tahun 2022.
“Jika sesuai dengan rencana awal, diharapkan PUNA tipe AEROpro BX ini dapat memasuki tahap pengujian akhir pada tahun 2024 dan dapat mulai dipasarkan pada tahun 2025,” tambahnya.
BRIN telah memiliki Laboratorium DO-178C yang dapat digunakan untuk verifikasi dan validasi perangkat lunak flight control law yang terpasang dalam sistem autopilot UAV. Dengan melakukan verifikasi dan validasi di darat, kita dapat memiliki keyakinan bahwa sistem autopilot yang dikembangkan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah keamanan sistem autopilot saat beroperasi.
“Jika sistem autopilot ini diuji secara menyeluruh di darat dan terbukti aman untuk diuji terbang, maka sistem autopilot ini dapat dipasang pada UAV untuk dilakukan uji terbang lanjutan guna memverifikasi dan memvalidasi hasil pengujian di laboratorium DO-178C,” terang Fadilah.
Kerjasama dengan industri merupakan salah satu langkah BRIN untuk membangun ekosistem riset yang kuat di Indonesia. Selain PPRBR, kerjasama antara INAERO dan PRTP-BRIN juga melibatkan kegiatan penelitian dan pengembangan lainnya.
Ia memberi contoh, pada bulan April 2023, mereka mengadakan workshop di mana INAERO merakit produk drone kustom dari bahan busa yang siap digunakan untuk misi pemetaan presisi. Hal ini merupakan upaya BRIN dalam membangun kerjasama yang erat dengan industri untuk mendorong riset di Indonesia.












Discussion about this post