• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
26 Oktober 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY PENDIDIKAN & IPTEK

Momen Gerhana Hibrida dapat Digunakan untuk Kolaborasi Lintas Disiplin

by SDGS Admin
9 April 2023
Momen Gerhana Hibrida dapat Digunakan untuk Kolaborasi Lintas Disiplin
38
SHARES
240
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

JAKARTA, KabarSDGs – Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging mengatakan, pada 20 April 2023 nanti akan ada Gerhana Matahari Hibrida. Ia menyebut, fenomena yang cukup langka terjadi ini menjadi momen yang baik untuk dilakukan riset antariksa.

Sungging juga menjelaskan, riset disiplin ilmu lain dapat memanfaatkan momen yang langka ini untuk penelitian terkait disiplin ilmu masing-masing.

BACA JUGA

BRIN Soroti Risiko Vape bagi Generasi Muda

BRIN Soroti Risiko Vape bagi Generasi Muda

1 Oktober 2026
Kemenhub dan BRIN Bangun Teknologi Smart Buoy Untuk Navigasi Pelayaran

Kemenhub dan BRIN Bangun Teknologi Smart Buoy Untuk Navigasi Pelayaran

15 Februari 2026
Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Kaji Penamaan Rupa Bumi di Nusantara

Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Kaji Penamaan Rupa Bumi di Nusantara

21 Oktober 2025

Ia mencontohkan, peneliti dari disiplin ilmu hayati dapat ikut meneliti apakah ada pengaruh proses terjadinya gerhana matahari terhadap perilaku makhluk hidup baik itu tumbuhan atau hewan. Menurutnya, peneliti disiplin ilmu lain dapat melakukan penelitian pengaruh gerhana matahari terhadap perilaku makhluk hidup baik itu hewan atau tumbuhan.

“Selain itu seperti di bidang ilmu sosial, peneliti di bidang tersebut juga dapat melakukan penelitian etnoastronomis, terkait bagaimana budaya yang timbul di masyarakat terkait adanya gerhana matahari hibrida. Adanya momen ini membawa kesempatan untuk melakukan kolaborasi lintas disiplin,” terangnya dalam Gelar Wicara Gerhana Matahari Hibrida 2023 (06/04/2023) yang diselenggarakan oleh Planetarium Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Rencananya, Sungging dan timnya akan melakukan pengamatan di Biak Numfor yang berada tepat di lintasan gerhana matahari. Ada tiga hal yang ia dan timnya akan lakukan, yaitu riset terkait korona, dampak gerhana pada ionosfer, dan perubahan kecerlangan.

Hal tersebut untuk mengukur korona akan menggunakan indeks flattening Ludendorf agar dapat melihat bentuk dan struktur korona. Nilai indeks yang dihasilkan akan diturunkan untuk mengidentifikasi aktivitas magnetik dan memprediksi siklus matahari.

Diketahui, indeks flattening Ludendorf sendiri merupakan parameter kuantitatif untuk menganalisis bentuk dan struktur korona global. Indeks ini juga menjadi salah satu indicator parameter medan magnetic Matahari dalam jangka panjang.

“Dengan menggunakan alat sederhana, kami akan mengukur dinamika ionosfer. Mengapa ionosfer menjadi penting, karena sangat berdampak pada akurasi GPS dan juga terkait komunikasi terutama komunikasi maritim yang menggunakan kanal HF (High Frequency). Kami akan melihat pada saat terjadinya gerhana ini ada gangguan atau tidak,” ungkap Sungging.

Gerhana Matahari Hibrida terjadi ketika dalam satu waktu fenomena gerhana ada daerah yang mengalami Gerhana Matahari Total dan ada pula yang mengalami Gerhana Matahari Cincin (tergantung dari lokasi pengamat). Kejadian tersebut disebabkan oleh kelengkungan Bumi. Indonesia sendiri, sudah mengalami gerhana matahari beberapa kali yaitu pada tahun 1983 terjadi Gerhana Matahari Total, Gerhana Matahari Cincin tahun 2019, dan Gerhana Matahari Total tahun 2016.

Gerhana Matahari Hibrida yang akan terjadi pada 20 April 2023 nanti akan berlangsung selama 3 jam 5 menit mulai dari durasi kontak awal hingga akhir jika diamati dari Biak, dengan durasi fase tertutup total 58 detik. Sementara itu jika diamati dari Jakarta, durasi dari kontak awal hingga akhir adalah 2 jam 37 menit. Namun jika diamati dari Jakarta, persentase tertutupnya matahari hanya sebesar 39 persen.

“Apalagi jika menggunakan peranti optis seperti binokuler atau teleskop, harus disertai dengan filter khusus matahari (solar filter). Pengamatan tanpa filter matahari dapat membuat gangguan kesehatan mata secara serius, bahkan pada taraf tertentu dapat menyebabkan kebutaan,” terang Sungging.

Terkait dengan kolaborasi riset, terkait fenomena Gerhana Matahari Hibrida ini, Premana menyebutkan pihaknya mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) untuk melakukan pengamatan gerhana matahari dari laut. Hal ini diharapkan akan membawa data-data baru mengenai pengamatan Gerhana Matahari dari tengah laut.

Sementara itu, Ketua Panitia Ekspedisi Jala Citra 3 Flores 2023, Kolonel Laut Priyo Dwi Saputro selaku perwakilan dari Pushidrosal menyebut pihaknya sedang mengkonsepkan lebih lanjut terkait kolaborasi riset yang akan dilaksanakan menyongsong Gerhana Matahari Hibrida tersebut.

“Kami tertarik untuk melihat apakah ada perubahan suara-suara yang dihasilkan biota dan mamalia laut selama terjadinya Gerhana Matahari Hibrida ini. Kami juga tertarik untuk melihat bagaimana dampak terpengaruhinya ionosfer bagi komunikasi HF, apalagi kami di laut cukup bergantung pada frekuensi ini,” pungkas Priyo.

Share15SendTweet10
Previous Post

BRI Finance Terapkan Triple Bottom Line dalam Melaksanakan Program CSR

Next Post

Kemenparekraf Gelar Pelatihan Peningkatan Kualitas Layanan Pelaku Usaha Pariwisata di Lombok

Next Post
Kemenparekraf Gelar Pelatihan Peningkatan Kualitas Layanan Pelaku Usaha Pariwisata di Lombok

Kemenparekraf Gelar Pelatihan Peningkatan Kualitas Layanan Pelaku Usaha Pariwisata di Lombok

BNPB Hadiri Konferensi PRIMO di Hawai, Berbagi Pengalaman dalam Penanganan Bencana

BNPB Hadiri Konferensi PRIMO di Hawai, Berbagi Pengalaman dalam Penanganan Bencana

Discussion about this post

NEWS UPDATE

ASDP Siapkan KMP Portlink III, Perkuat Kesiapan Layanan Penyeberangan Merak-Bakauheni

ASDP Siapkan KMP Portlink III, Perkuat Kesiapan Layanan Penyeberangan Merak-Bakauheni

26 Oktober 2026
InJourney Airports Turunkan Tarif Jasa Bandara Sebesar 50%

InJourney Airports Turunkan Tarif Jasa Bandara Sebesar 50%

26 Oktober 2026
Membumikan Kepemimpinan melalui Transportasi Publik

Membumikan Kepemimpinan melalui Transportasi Publik

26 Oktober 2026
Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

26 Oktober 2026
KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

26 Oktober 2026

POPULAR

  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    3965 shares
    Share 1586 Tweet 991
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    3930 shares
    Share 1572 Tweet 983
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    4019 shares
    Share 1608 Tweet 1005
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    4028 shares
    Share 1611 Tweet 1007
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3990 shares
    Share 1596 Tweet 998

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.