Denpasar, Kabar SDGs – TP PKK Provinsi Bali memperkuat sinergi kerja sama pemberdayaan perempuan dan program inklusi sosial bersama Konsulat Jenderal Australia di Denpasar. Penguatan kolaborasi tersebut mengemuka dalam pertemuan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, dengan Konsul Jenderal Australia, Jo Stevens, Selasa (3/3).
Dalam pertemuan itu, Ny. Putri Suastini Koster menegaskan pembagian peran antara perempuan dan laki-laki di Bali telah tumbuh sejak lama. Meski sistem patrilineal masih mengakar kuat, ia menilai isu gender bukan persoalan krusial karena masyarakat menjunjung tinggi sikap saling menghormati. Menurutnya, kontribusi perempuan menjadi fondasi penting dalam pembangunan daerah.
“Bali tidak akan berkembang tanpa perempuan. Dalam sektor ekonomi, perempuan sangat dominan, termasuk pada tenun tradisional. Kami terus mendorong kehadiran perempuan di ranah publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesetaraan perlu diwujudkan secara proporsional tanpa mengesampingkan peran perempuan di dalam keluarga. Peran domestik tetap penting karena anak membutuhkan pendampingan orang tua, khususnya ibu, dalam proses tumbuh kembangnya.
Sementara itu, Jo Stevens menegaskan bahwa kesetaraan gender menjadi prioritas Pemerintah Australia. Berbagai strategi dijalankan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi perempuan melalui kemitraan lintas sektor.
Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui Program INKLUSI atau Kemitraan Australia–Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif, inisiatif bilateral periode 2021–2029 yang berfokus pada penguatan masyarakat sipil, kesetaraan gender, dan perlindungan kelompok rentan. Di Bali, program ini dilaksanakan bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Yayasan BaKTI, Bali Sruti, dan KAPAL Perempuan.
Selain itu, dukungan peningkatan kapasitas perempuan juga dilakukan melalui pelatihan pemasaran digital bagi penenun dengan fasilitasi Indonesia–Australia Institute yang saat ini berlangsung di Kabupaten Klungkung. Pemerintah Australia turut menjalankan skema Direct Aid Program (DAP) berupa hibah bagi inisiatif lokal, termasuk pemberdayaan penyandang disabilitas.
Di sektor lingkungan, kolaborasi mencakup dukungan pengelolaan sampah di Karangasem serta pengembangan sumber daya manusia di Nusa Penida. Kerja sama ekonomi hijau juga digalakkan melalui PT Bamboo Creative Bali yang berfokus pada kerajinan bambu dan pemberdayaan komunitas, dengan dukungan riset dari Australian Centre for International Agricultural Research dalam pengembangan bambu berbasis konservasi dan ekonomi.
Menanggapi dukungan tersebut, Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan apresiasi sekaligus menegaskan komitmen Bali membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dengan target perubahan pola pikir masyarakat pada 2027. Ia juga membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk penguatan UMKM dan ekonomi kreatif melalui pengembangan platform digital serta promosi kain tradisional Bali ke pasar internasional.
Pertemuan ini diharapkan semakin mempererat hubungan Bali dan Australia, khususnya dalam mendorong pemberdayaan perempuan, inklusi sosial, dan pembangunan berkelanjutan berbasis kemitraan masyarakat.












Discussion about this post