Riau, Kabar SDGs – Anggota DPR RI daerah pemilihan Riau I Karmila Sari meluncurkan buku berjudul Perempuan di Pentas Politik di Balairung Tenas Effendy, Gedung Lembaga Adat Melayu Riau, Jumat (8/5/2026).
Peluncuran buku tersebut disaksikan sejumlah tokoh Melayu dan tokoh perempuan, di antaranya Ketua Umum MKA LAMR Raja Marjohan Yusuf, Ketua Umum DPH LAMR Taufik Ikram Jamil, serta Ketua DWP Riau Herawati Abdi.
Dalam sambutannya, Raja Marjohan Yusuf menyebut buku tersebut menjadi refleksi sekaligus penyemangat bagi perempuan di Tanah Melayu. Menurutnya, isi buku yang terdiri dari 142 halaman itu menggambarkan perjalanan, kontribusi, tantangan, serta harapan Karmila Sari dalam membangun Provinsi Riau.
“Buku ini tentu menggambarkan perjuangan Karmila dalam membangun Riau. Bagi orang Melayu, semangat adalah pemicu dan pemacu dalam berbuat sesuatu. Semangat ini sangat penting sekali,” kata Datuk Marjohan.
Ia juga menilai semangat menjadi bagian penting dalam perjalanan masyarakat Melayu hingga tetap dihormati dan bertahan sampai sekarang.
“Kami berharap dengan adanya tulisan ini, dapat mengangkat harkat dan martabat dan tuah Melayu. Tahniah, InsyaAllah Kami semua di sini mendukung Karmila untuk mengabdikan diri di Senayan,” katanya.
Sementara itu, Taufik Ikram Jamil menyampaikan apresiasi kepada Karmila Sari karena telah memilih Gedung Lembaga Adat Melayu Riau sebagai lokasi peluncuran buku tersebut.
“Kami berterima kasih sekaligus bangga, karena ini merupakan salah satu program LAM. Bagaimana memposisikan melayu dalam politik di daerah ataupun nasional. Meskipun, fungsi LAM bukan lembaga politik, tetapi kita juga tidak boleh buta pada politik. Seperti yang dikatakan Franz Kafka, bahwa seluruh dunia ini ditentukan oleh politik,” kata Datuk Taufik Ikram.
Menurutnya, tidak banyak anggota DPR RI yang meluncurkan buku selama menjabat di parlemen. Dari ratusan anggota DPR RI, hanya beberapa tokoh yang tercatat pernah menerbitkan buku, termasuk dua perempuan yakni Rieke Diah Pitaloka dan Ribka Tjiptaning.
“Karmila memberi wajah tersendiri dalam perempuan melayu. Mudah-mudanan Karmila dapat menjadi contoh bagi pergerakan wanita di Indonesia,” pungkasnya.
Dalam sekapur sirih yang ditulisnya, Karmila mengungkapkan dunia politik menjadi jalan pengabdian yang akhirnya dipilih untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Pilihan itu pada awalnya terasa berat, tetapi seiring waktu saya menyadari bahwa politik sebenarnya dapat menjadi ruang untuk menghadirkan perubahan yang nyata, terutama ketika dijalankan dengan niat yang tulus dan tanggung jawab yang besar,” tulisnya.










Discussion about this post