Gianyar, Kabar SDGs – Penerapan sistem minapadi yang memadukan budidaya ikan dengan pertanian sawah berbasis kelembagaan subak mulai dikembangkan di Kabupaten Gianyar, Bali. Inovasi tersebut membuka peluang tambahan bagi petani melalui pemanfaatan lahan dan jaringan irigasi yang selama ini terutama digunakan untuk produksi padi.
Pengembangan minapadi tersebut diarahkan untuk kegiatan pendederan benih ikan nila. Benih berukuran 8–10 sentimeter nantinya dipasok untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan yang menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Batur, Kabupaten Bangli. Dengan pola tersebut, lahan pertanian tidak hanya menghasilkan komoditas pangan berupa padi, tetapi juga dapat berperan dalam mendukung rantai pasok perikanan air tawar di Bali.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. I Gede Sudiarta, M.Si., mengatakan program pengabdian kepada masyarakat tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi kawasan hulu irigasi subak tanpa mengurangi fungsi utama sawah sebagai lahan produksi padi.
“Kegiatan ini sudah berjalan dan dilaksanakan sejak awal Agustus lalu di lapangan. Pendekatan berbasis data ini penting agar pengembangan minapadi tidak berhenti sebagai inovasi demonstratif, tetapi berkembang menjadi usaha yang layak secara ekologis, teknis, dan ekonomi,” ujar Sudiarta saat dikonfirmasi di Denpasar, Jumat (21/8/2026).
Menurut Sudiarta, posisi geografis kawasan hulu irigasi di Gianyar yang memiliki keterkaitan dengan kawasan Danau Batur menciptakan peluang terbentuknya rantai pasok antardaerah. Melalui sistem tersebut, petani sawah dapat memanfaatkan air irigasi untuk menghasilkan benih nila dengan ukuran yang dibutuhkan oleh pembudidaya di kawasan Danau Batur.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Warmadewa dengan Program Studi S1 Biologi FMIPA Universitas Jember. Pelaksanaannya dipusatkan di Subak Dwi Eka Buana Pausan, Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.
Tahapan kegiatan dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan teknis yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan demonstrasi plot atau demplot sebagai sarana pembelajaran bersama bagi masyarakat. Antusiasme petani terhadap program tersebut turut mendorong penambahan lokasi demplot. Dari rencana awal dua lokasi, pelaksanaannya berkembang menjadi tiga lokasi dengan kapasitas awal sekitar 10.500 ekor benih.
Tidak hanya mengikuti program yang telah disiapkan, sejumlah petani juga mulai mengambil inisiatif secara mandiri. Salah satunya dengan melakukan penebaran benih nila hingga mencapai sekitar 50.000 ekor menggunakan pembiayaan dan pengelolaan secara swadaya.
Pekaseh Subak Dwi Eka Buana Pausan, I Ketut Adayana, menyambut positif penerapan teknologi pendederan ikan melalui sistem minapadi. Ia menilai integrasi budidaya ikan dengan kegiatan pertanian dapat menjadi pilihan bagi anggota subak untuk menambah sumber pendapatan tanpa harus mengurangi aktivitas utama berupa usaha tani padi.
“Kami mendukung pengembangan minapadi karena dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani tanpa meninggalkan usaha tani padi. Kalau demplot ini menunjukkan hasil yang baik, kami akan mendorong anggota subak lainnya untuk ikut mengembangkan,” kata Adayana.
Menurut Adayana, pemahaman mengenai hubungan antara budidaya ikan dan sistem irigasi juga penting untuk menghilangkan kekhawatiran petani mengenai kemungkinan terganggunya kebutuhan nutrisi tanaman padi. Aktivitas pendederan ikan dinilai dapat memberikan tambahan bahan organik serta unsur hara alami yang terbawa dalam sistem perairan irigasi.
“Hal ini penting untuk kami pahami dan jelaskan kepada anggota subak, terutama jika ada kekhawatiran bahwa penggunaan air untuk budidaya ikan akan mengganggu pertumbuhan padi,” tuturnya.
Pendampingan terhadap petani akan terus dilakukan melalui penguatan kemampuan teknis serta pencatatan berbagai parameter budidaya secara berkala. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menilai produktivitas dan kelayakan usaha minapadi secara lebih terukur.
Pengembangan minapadi berbasis kelembagaan subak di Gianyar pada akhirnya diharapkan tidak hanya memberikan alternatif pendapatan bagi petani, tetapi juga memperkuat hubungan produksi antara kawasan pertanian dan sentra budidaya ikan air tawar. Jika dapat dikembangkan secara konsisten, model tersebut berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok perikanan air tawar Bali yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.












Discussion about this post