Banda Aceh, Kabar SDGs – Sastrawan Indonesia angkatan 66, Taufiq Ismail, hadir di SMAN 10 Banda Aceh untuk berbagi pengalaman dan pandangan mengenai dunia kepenulisan dalam kegiatan Puitika Nasional yang digelar pada Senin, 27 April 2026. Kegiatan ini diikuti ratusan siswa yang antusias menyimak langsung pemaparan dari tokoh sastra nasional tersebut.
Dalam kesempatan itu, Taufiq tidak hanya membacakan puisi, tetapi juga mengulas perjalanan panjang dalam proses kreatif menulis. Ia menegaskan bahwa kebiasaan membaca serta berdiskusi merupakan dasar penting sebelum seseorang mulai menghasilkan karya tulis.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh yang diwakili Kepala Bidang SMA dan PKLK, Syarwan Joni, menyampaikan bahwa kegiatan sastra memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Ia berharap kehadiran Taufiq Ismail dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk lebih dekat dengan dunia literasi, khususnya sastra.
Menurutnya, kegiatan literasi seperti ini sejalan dengan amanat undang-undang pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis. Ia menilai keterlibatan siswa secara langsung dalam aktivitas sastra mampu menjadi sarana efektif untuk melatih empati dan refleksi diri.
Pada sesi utama yang dimoderatori Fikar W Eda, Taufiq Ismail bersama LK Ara membacakan puisi di hadapan para peserta. Selain itu, Taufiq juga berbagi kisah perjalanan kepenulisannya, termasuk awal mula ketertarikannya pada sastra yang berangkat dari kebiasaan membaca dan berdiskusi.
Ia juga sempat menceritakan pengalamannya mencoba menulis novel, namun tidak berhasil karena prosesnya yang panjang, yang kemudian disambut tawa para siswa. Dalam pesannya, Taufiq menekankan pentingnya kesabaran dalam menulis serta tidak terburu-buru dalam mempublikasikan karya. Menurutnya, puisi yang berkualitas lahir dari proses panjang dan kejujuran dalam mengekspresikan pengalaman.
Lebih lanjut, ia mendorong pihak sekolah untuk memperkuat budaya literasi dengan menyediakan lebih banyak buku sastra di perpustakaan serta membangun ruang diskusi yang terbuka. Ia menilai membaca tanpa diiringi diskusi akan membuat pemahaman menjadi kurang mendalam.
Sementara itu, LK Ara turut memberikan motivasi kepada para siswa dengan menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan semangat dalam berkarya sebagai bagian dari proses menjadi seorang penulis.











Discussion about this post