Pidie Jaya, Kabar SDGs – Empat bulan setelah banjir melanda, sejumlah rumah warga di Kabupaten Pidie Jaya masih dipenuhi lumpur. Warga penyintas berupaya membersihkan sisa material secara mandiri dengan peralatan sederhana, meski sebagian lainnya mulai kelelahan dan pasrah dengan kondisi yang ada.
Akses jalan di kawasan permukiman kini sudah kembali terbuka dan dapat dilalui kendaraan. Meski demikian, kondisi jalan masih berdebu dan belum sepenuhnya bersih. Di beberapa titik, alat berat terlihat bekerja untuk menyingkirkan lumpur serta material kayu yang menutupi badan jalan.
Namun, kondisi di dalam rumah warga masih jauh dari bersih. Banyak warga harus mengandalkan alat seadanya seperti sekop, cangkul, dan gerobak sorong untuk mengangkat lumpur. Material yang dikumpulkan biasanya ditumpuk di depan rumah atau di pinggir jalan.
Nurdin, warga Meunasah Mancang, mengaku hingga kini rumah panggung milik orang tuanya masih dipenuhi lumpur, baik di bagian dalam maupun halaman. Ia bersama saudara-saudaranya berusaha membersihkan secara bertahap sesuai kemampuan.
“Kami bersihkan sedikit-sedikit. Lumpurnya sangat tebal, kami bersihkan dengan kemampuan dan alat seadanya. Seperti inilah walaupun sudah empat bulan pascabencana, lumpur di rumah kami belum bersih,” katanya.
Ia berharap adanya bantuan alat berat untuk membantu membersihkan halaman rumah yang masih dipenuhi lumpur tebal, serta mengangkut material yang sudah menumpuk.
“Kalau di dalam rumah biarlah kami bersihkan pelan-pelan. Tapi yang di halaman ini terlalu tebal. Belum lagi kalau hujan, lumpur yang sudah menumpuk pasti turun lagi ke halaman,” tuturnya.
Meski akses jalan sudah kembali normal, Nurdin berharap penanganan dilakukan lebih optimal agar tidak menimbulkan persoalan baru saat hujan turun.
“Jangan dua kali kerja, kami berharap pengerjaannya bisa fokus dikerjakan secara terstruktur dan terarah,” tegasnya.
Sementara itu, warga lainnya, Munzir, memilih berhenti membersihkan lumpur di halaman rumahnya karena keterbatasan tenaga. Ia hanya memastikan bagian dalam rumah sudah cukup layak untuk ditempati.
“Tidak sanggup lagi kalau kita bersihkan sendiri,” katanya pasrah.
Ia juga berharap pemerintah dapat turun tangan membersihkan sisa lumpur, baik di halaman rumah maupun di lingkungan sekitar.
“Itu saja yang kami mohon,” ujarnya.
Di sisi lain, Nasruddin, warga Desa Manyang Cut, menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih pascabencana. Meskipun bantuan seperti dana tunggu hunian dan fasilitas hunian sementara telah diterima, warga masih kesulitan untuk kembali bekerja.
“Alhamdulillah permukiman kami sekarang memang sudah bersih dan warga sudah mulai menempati huntara, tapi kalau untuk bekerja atau pemulihan ekonomi itu belum,” katanya.
Ia menyebut banyak lahan pertanian seperti sawah dan kebun masih tertimbun lumpur, sehingga belum bisa dimanfaatkan kembali. Karena itu, warga berharap adanya dukungan berupa bantuan modal usaha agar roda perekonomian dapat kembali bergerak.
“Bagaimana kami bangkit, pekerjaan tidak ada lagi. Sawah dan kebun masih tertimbun lumpur,” ujarnya.












Discussion about this post