Jakarta, Kabar SDGs – Pemerintah memastikan telah mendapatkan investor untuk pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah atau crude storage di Indonesia. Proyek strategis tersebut disiapkan sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kapasitas cadangan minyak dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa proyek pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut akan didukung oleh skema investasi gabungan dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ujar Bahlil melalui keterangan resmi, Rabu (4/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa sumber pendanaan proyek tersebut berasal dari kombinasi investor domestik dan investor asing. Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa investor asing yang terlibat bukan berasal dari Amerika Serikat.
“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” ucap dia.
Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas tersebut dapat meningkatkan kapasitas cadangan minyak nasional secara signifikan. Jika saat ini cadangan minyak Indonesia hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 25 hingga 26 hari, pembangunan fasilitas penyimpanan baru diharapkan mampu meningkatkan kapasitas hingga setara kebutuhan selama 90 hari atau sekitar tiga bulan.
Menurut Bahlil, percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam rangka memperkuat kemandirian energi nasional.
“Bapak Presiden (Prabowo Subianto) memberikan arahan agar segera bangun (storage). Kita butuh survival. Kalau tidak, nanti kita tergantung terus,” ucap Bahlil.
Rencana pembangunan fasilitas tersebut juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan meningkat setelah pada Sabtu (28/2/2026) Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di wilayah Teheran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dunia, terutama setelah muncul laporan media Iran yang menyebut Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai penutupan jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi selat tersebut, sekaligus menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari negara-negara Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab.












Discussion about this post