Pandeglang, Kabar SDGs – Upaya konservasi Badak Jawa kembali menunjukkan perkembangan menggembirakan setelah kamera jebak merekam keberadaan seekor induk Badak Jawa bersama anaknya di Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Rekaman yang diperoleh Tim Monitoring dan Evakuasi Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa tersebut diambil pada 29 Januari 2026 pukul 22.17 WIB dan menjadi temuan anakan Badak Jawa pertama sepanjang tahun 2026.
Kemunculan induk dan anakan Badak Jawa ini memperkuat optimisme terhadap keberlanjutan populasi satwa langka tersebut di habitat alaminya. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa proses reproduksi Badak Jawa masih berlangsung secara alami di kawasan konservasi paling barat Pulau Jawa itu.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menyatakan bahwa temuan ini merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungan Badak Jawa. “Keberadaan induk dan anakan Badak Jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon masih terjaga dengan baik. Selain itu, pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan Badak Jawa berkembang biak secara alami,” ujar Satyawan pada Rabu (4/2).
Berdasarkan analisis awal tim monitoring, induk Badak Jawa yang terekam diduga merupakan individu bernama “ARUM” yang sebelumnya telah teridentifikasi dalam sistem pemantauan populasi. Sementara itu, anakan yang terekam merupakan individu baru dengan perkiraan usia kurang dari lima bulan, sehingga menambah daftar kelahiran Badak Jawa di kawasan tersebut.
Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Ujung Kulon memastikan pemantauan intensif akan terus dilakukan terhadap induk dan anakan tersebut, serta seluruh populasi Badak Jawa di kawasan. Langkah ini dilakukan melalui penguatan patroli lapangan, pemanfaatan teknologi pemantauan, pengelolaan habitat secara berkelanjutan, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra konservasi, lembaga swadaya masyarakat, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar kawasan.
Satyawan menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan dari seluruh pihak dalam menjaga kelestarian satwa endemik Indonesia tersebut. “Pemerintah mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian Badak Jawa sebagai salah satu satwa paling langka di dunia dan kebanggaan Indonesia, demi memastikan kelangsungan hidupnya bagi generasi mendatang,” pungkasnya.












Discussion about this post