Kalimantan Barat, Kabar SDGs – Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah prioritas dalam pengembangan mineral kritis nasional setelah Badan Industri Mineral (BIM) menetapkan Blok Melawi dan Blok Boyan Hulu sebagai kawasan yang memiliki potensi logam tanah jarang (LTJ) dan antimon. Penetapan tersebut membuka peluang bagi Kalimantan Barat untuk berperan dalam penguatan industri mineral strategis sekaligus mendukung pengembangan teknologi masa depan.
Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa kedua blok di Kalimantan Barat termasuk dalam delapan kawasan prioritas mineral kritis yang tengah dipetakan pemerintah.
“Kemudian juga yang berikutnya itu adalah Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana,” ujar Brian Yuliarto dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
Blok Melawi menjadi kawasan dengan potensi logam tanah jarang terbesar di Indonesia. Wilayah seluas sekitar 54.000 hektare tersebut tercatat memiliki kandungan logam tanah jarang dengan kadar total mencapai 81.720 parts per million (ppm), sehingga berpotensi menjadi sumber bahan baku penting bagi industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Sementara itu, Blok Boyan Hulu yang memiliki luas sekitar 8.492 hektare dipetakan menyimpan kandungan antimon berkadar tinggi, yakni antara 70 hingga 95 persen. Mineral tersebut dibutuhkan dalam industri semikonduktor, baterai, komponen elektronik, serta berbagai material industri berteknologi tinggi.
Meski memiliki prospek ekonomi yang besar, pengembangan kedua kawasan tersebut tetap menghadapi tantangan dari sisi lingkungan. Sekitar 20 persen wilayah Blok Melawi berada di kawasan hutan lindung, sedangkan sekitar 15 persen area Blok Boyan Hulu juga termasuk kawasan yang memerlukan perlindungan. Kondisi tersebut menjadi perhatian agar proses eksplorasi dan pengembangan dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan serta kelestarian lingkungan.
Pengembangan dua blok di Kalimantan Barat merupakan bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketersediaan mineral kritis. Selain Melawi dan Boyan Hulu, pemerintah juga memprioritaskan sejumlah kawasan lain di Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap logam tanah jarang yang menjadi bahan baku berbagai teknologi modern. Permintaan dunia terhadap unsur-unsur tanah jarang terus meningkat, sementara pasokan global masih didominasi oleh China, sehingga mendorong banyak negara memperkuat sumber daya mineral strategisnya.
Dengan potensi yang dimiliki, Kalimantan Barat dinilai memiliki peluang untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri teknologi global melalui pengembangan mineral kritis yang tetap memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.










Discussion about this post