Jakarta, KabarSDGs-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengapresiasi dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk industri sawit nasional. Pasalnya BPDP selalu mendorong pengusaha untuk terus berbenah dan memperbaiki diri demi keberlanjutan industri.
Khususnya tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) di dalam industri kelapa sawit nasional.
Dalam setahun terakhir, BPDP terus melakukan diskusi dan koordinasi dengan GAPKI untuk melakukan ragam inisiatif kolaboratif, demi membangun kesadaran, meningkatkan kondisi, membuka dialog melakukan yg lebih progresif dengan berbagai pihak termasuk karyawan.
Termasuk didalamnya melakukan kampanye poitif tentang sawit, karena akhir-akhir ini banyak sekali isu negatif yang menerjang industri kelapa sawit nasional.
“Ini tidak bisa diurus sendiri masalahnya banyak, kompleks, cakupannya luas. Jadi pilihannya kerja sama,” kata Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI, Sumarjono Saragih, dalam Diseminasi Hasil Riset Sawit dengan tema “Pengaruh Stres Peran, Emosi Negatif, dan Kecerdasan Emosi dalam Meminimalisir Penyimpangan Kerja pada Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit”, di Jakarta, Selasa (16/8/2025).
Menurutnya dukungan BPDP sudah cukup besar beberapa waktu terakhir ini. Dia berharap, dukungan itu lebih masif, sebab semakin banyak pembahasan isu sawit semakin luas pula permasalahan yang ditemukan.
“Isunya semakin kita bahas semakin luas.” kata dia.
GAPKI juga meyakinkan, bahwa pihaknya terus mendorong anggota untuk membangun kesadaran tentang Sumber Daya Manusia (SDM), keselamatan kerja, kesehatan kerja dan risiko stres kerja di industri sawit.
“Kami juga memfasilitasi dialog, agar isu-isu atau defisit standard kerja semakin dimengerti, setelah itu dipatuhi,” kata dia.
Namun dia mengakui masih banyak pekerjaan rumah khususnya tentang pekerja sawit yang harus dibenahi. Pihanya akan mendorong anggota GAPKI untuk memiliki kesadaran khususnya tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) di industri sawit.
“Kita hanya mendorong, tidak bisa memaksa orang untuk patuh. Tapi dengan inisiatif yang kita lakukan, lama-lama mereka akan sadar gitu ya. Sekarang mereka malu untuk tidak melakukan kepatuhan,” kata dia.
GAPKI juga aktif melakukan sosialisasi kepada semua pengusaha sawit, tidak hanya kepada anggotanya namun juga pelaku usaha sawit lainnya atau aktor di perkebunan sawit.
Hal ini dilakukan agar semya pelaku usaha sawit ini punya pemahaman yang sama, dan punya kepatuhan sehingga wajah sawit nasional utuh berkelanjutan.
Dia berharap kedepan di tiap provinsi terjangkau dan dijangkau dengan 4 buku inisiatif GAPKI, tentang perempuan, anak, Buruh Harian Lepas (BHL) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Jadi kita harapkan 15 cabang GAPKI mematuhi empat buku panduan yang sudah dipublikasi,” kata dia.











Discussion about this post