Banda Aceh, Kabar SDGs – Penerbit Bandar Publishing berkolaborasi dengan 17 penulis di Aceh meluncurkan buku berjudul Refleksi 20 Tahun MoU RI-GAM: Berdamai Dari Senjata, Berkonflik Dalam UUPA. Acara peluncuran dijadwalkan pada Jumat (15/8/2025) malam pukul 20.20 WIB di Kafe Lhee, Lamgugob, Kota Banda Aceh.
“Kumpulan pikiran dalam buku ini memberi gambaran akan pentingnya, sekaligus mengajak semua pihak untuk berusaha merawat damai hingga abadi. Buku ini merupakan tradisi tahun keempat, di mana momentum damai dirayakan dengan kenduri pemikiran. Selain momentum damai, Bandar Publishing juga memiliki tradisi menutup tahun dengan sebuah buku. Menyambut tahun 2026, tradisi ini telah memasuki tahun keenam,” kata Mukhlisuddin Ilyas, Direktur Bandar Publishing.
Ia menekankan bahwa perdamaian sangat penting, tidak hanya bagi Aceh tetapi juga untuk republik. Menurutnya, hanya dengan agenda damai, kemanusiaan dapat dibangun dan dimuliakan. “Pemuliaan ini juga sama pentingnya dengan merawat perdamaian. Sebagaimana kumpulan pikiran dalam buku ini, yang mendialogkan dua-duanya (damai dan merawat damai),” ujarnya.
Mukhlisuddin menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam merawat damai. “Kami berterima kasih atas berbagai kontribusi dalam merawat damai tersebut, dengan berbagai cara. Salah satunya melalui buku,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa proses inisiasi buku ini memakan waktu delapan bulan hingga akhirnya siap dibaca publik. “Dalam rentang waktu tersebut, ada 17 tulisan yang masuk. Dengan proses review sederhana, sejumlah tulisan dilakukan perbaikan,” kata Mukhlisuddin.
Buku ini dieditori oleh Sulaiman Tripa, M Adli Abdullah, dan Mukhlisuddin Ilyas, dengan prolog ditulis oleh Fuad Mardhatillah serta epilog oleh Profesor Kamaruzzaman Bustamam Ahmad.
Adapun 17 penulis yang terlibat yaitu Saifuddin Bantasyam, M. Adli Abdullah, Sehat Ihsan Shadiqin, Afridal Darmi, Amrizal J. Prang, Adi Warsidi, Teuku Muttaqin Mansur, Rahmad Syah Putra, Afrizal Tjoetra, Danil Akbar Taqwadin, Cut Asmaul Husna, Zainal Abidin, Sulaiman Tripa, Taufiq A. Rahim, dan Muhammad Heikal Daudy.












Discussion about this post