Aceh Barat, Kabar SDGs – Pabrik karet remah milik PT Potensi Bumi Sakti (PBS) resmi beroperasi di Gampong Glee Siblah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, pada Selasa lalu (8/7). Peresmian dilakukan oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), bersama Direktur Utama Arsari Group, Hashim Djojohadikusumo.
Dalam sambutannya, Mualem menyatakan bahwa beroperasinya pabrik ini menjadi bukti konkret bahwa Aceh kini aman, damai, dan layak menjadi tujuan investasi. Selain itu, kehadiran pabrik dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk mengurangi angka pengangguran di daerah.
“Kehadiran PT PBS ini akan mengurangi angka pengangguran di Aceh. Ini bukti bahwa Aceh aman dan damai sehingga orang luar masuk ke Aceh membawa modal,” ujar Mualem.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kedatangan Hashim Djojohadikusumo dan menekankan bahwa pabrik ini sejalan dengan program Pemerintah Aceh dalam memperluas lapangan kerja, terutama bagi pemuda-pemudi daerah.
“Ini sesuai dengan visi kami, yakni menekan pengangguran. Tepat waktunya kita hadirkan lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda Aceh,” tambahnya.
Mualem juga mengungkapkan bahwa pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari gelombang investasi industri yang terus tumbuh di Aceh. Beberapa rencana investasi lain tengah disiapkan, termasuk pembangunan pabrik rokok di Aceh Utara, pabrik baterai di Aceh Besar, dan pengolahan baja di Aceh Selatan.
Di hadapan masyarakat, Mualem menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan demi keberlangsungan investasi.
“Mari kita jaga keamanan bersama. Kalau tidak aman, orang tidak akan datang berinvestasi ke tempat kita,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Arsari Group, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan rasa bangganya atas rampungnya pembangunan pabrik yang telah dirintis selama hampir 12 tahun. Menurutnya, pabrik ini menggunakan mesin berkapasitas tinggi dan akan memproduksi hingga 2.500 ton karet kering setiap bulan.
“Target produksi kami adalah 100 ton karet kering per hari. Jika bahan baku cukup, kapasitas pabrik akan kami ekspansi,” kata Hashim.
Pabrik berdiri di atas lahan seluas 25 hektare, dengan mesin berkapasitas 10 ton karet basah per jam atau setara 5 ton karet kering per jam.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, turut menyampaikan harapannya agar hasil produksi karet dari pabrik ini kelak bisa diekspor langsung dari wilayah Aceh Barat.
“Kami berharap ekspor bisa dilakukan langsung dari sini, meskipun saat ini kita masih terkendala ketersediaan pelabuhan,” ujarnya.
Pembangunan pabrik ini dimulai sejak 8 Oktober 2013, saat peletakan batu pertama dilakukan oleh Mualem yang kala itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh. Usai peresmian, Mualem dan Hashim meninjau langsung operasional pabrik yang kini menjadi salah satu harapan baru perekonomian Aceh Barat.












Discussion about this post