• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
21 Februari 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home OPINION

Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa

by SDGS Admin
21 Februari 2026
Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa
24
SHARES
150
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Surabaya, KabarSDGs – Universitas Airlangga mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih peringkat #9 dunia dalam THE Impact Rankings 2025, bahkan meraih posisi #1 global untuk SDG 6 (Clean Water and Sanitation). UNAIR juga secara konsisten berpartisipasi dalam UI GreenMetric World University Rankings yang mengukur komitmen universitas terhadap sustainability melalui 39 indikator dalam enam kategori: Setting and Infrastructure, Energy and Climate Change, Waste Management, Water Management, Transportation, serta Education and Research.

Namun di balik prestasi tersebut, muncul pertanyaan: seberapa dalam kesadaran sustainability tertanam di kalangan mahasiswa? Sebagai mahasiswa, saya harus jujur bahwa sebagian besar dari kami bahkan tidak tahu apa itu UI GreenMetric. Sebagian besar tidak peduli bahwa kampus memiliki Sewage Treatment Plant canggih. Bahkan masih banyak yang membuang sampah plastik ke tempat sampah organik dengan alasan “ribet.” Ini refleksi jujur tentang gap yang perlu diakui, yaitu kesenjangan besar antara pencapaian administratif dengan kesadaran individual mahasiswa.

BACA JUGA

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia

11 Februari 2026
Polinela Dorong Minat Vokasi Lewat FIMASCO 2026

Polinela Dorong Minat Vokasi Lewat FIMASCO 2026

28 Januari 2026
Universitas Trisakti Dukung Rencana Kuliah Kedokteran Gratis

Universitas Trisakti Dukung Rencana Kuliah Kedokteran Gratis

24 Januari 2026

UI GreenMetric yang diinisiasi Universitas Indonesia sejak 2010 menggunakan enam kategori penilaian. Setting and Infrastructure menilai seberapa hijau kampus secara fisik. UNAIR memiliki Danau Cinta Airlangga, Campus Forest, dan Icon Park. Namun seberapa banyak mahasiswa yang memanfaatkan ruang hijau tersebut? Kebanyakan dari kami justru memilih kantin atau koridor gedung kampus dengan WiFi kencang. Campus Forest mungkin hanya dikunjungi setahun sekali untuk mengerjakan program kerja.

Energy and Climate Change memiliki bobot tertinggi (21 persen). UNAIR memiliki sistem otomasi, rainwater harvesting, dan bio-pore installations. Namun berapa mahasiswa yang tahu? Sebelum menulis ini, saya tidak tahu kampus punya sistem rainwater harvesting. AC di ruang kelas? Kami komplain kalau kurang dingin. Lampu menyala di ruangan kosong? Bukan urusan kami. Kami konsumen fasilitas, bukan steward yang menjaga resources.

Waste Management (18 persen) paling menyakitkan untuk diakui. UNAIR punya Bank Sampah Emas (diluncurkan BEM FISIP April 2024) dan tempat sampah terpisah. Namun di area makan malah ada botol plastik masuk tempat sampah organik, tissue anorganik. Dari pengalaman pribadi, teman-teman saya pernah tertawa saat saya memilah dengan benar: “Ribet banget. Toh nanti dicampur lagi.” Persepsi ini membuat usaha individual terasa sia-sia.

Water Management menilai volume air kampus. UNAIR punya water monitoring system dan water wheel technology. Tahun 2022 tercatat 322.488 meter kubik air masuk kampus. Namun di toilet, keran masih dibiarkan mengalir. Mahasiswa masih beli air kemasan padahal ada water dispenser. Membawa tumbler masih minim karena ada yang mikir kalau itu ribet, berat di tas. Convenience lebih penting dari conservation.

Transportation menilai rasio kendaraan terhadap populasi. UNAIR punya pedestrian pathways baik, namun parkiran motor selalu penuh. Mahasiswa yang kostnya cuman dua kilometer tetap naik motor. Saya pernah naik ojol dari gerbang ke sSikana yang cuman merupakan lima menit jalan kaki tapi malah “males.” Yang terpikirkan kaki lelah, bukan carbon footprint.

Education and Research seharusnya kategori mahasiswa paling terlibat. UNAIR punya SDGs Festival dan Airlangga Movement for SDGs Awareness. Namun berapa yang aktif lebih dari sekedar datang untuk absensi? Saya pernah hadiri SDGs Festival dengan booth menarik dan speaker kompeten. Setelah acara? Life goes on as usual. Mata kuliah yang pernah membahas sustainability? Hafalan teori untuk UTS/UAS, belum terinternalisasi.

Mengapa gap ini terjadi? Pertama, sustainability belum jadi campus culture organik. Kedua, tidak ada immediate consequences. Buang sampah sembarangan? Tidak ada hukuman. Ketiga, sustainability dianggap “effort” ekstra yang merepotkan sementara hidup mahasiswa sudah penuh tugas dan deadline. Keempat, disconnect antara top-down initiatives dengan bottom-up reality. Mahasiswa tidak ditanya, tidak empowered jadi bagian solusi.

Perubahan kesadaran saya tidak datang dari spanduk “Go Green” yang abstrak, melainkan pengalaman dari tinggal di kost dan bayar listrik sendiri membuat aware energy consumption. Berjalan ke Campus Forest untuk mengosongkan pikiran juga membuat sadar kalau tempat ini worth it untuk dijaga. Teman – teman mengajak diskusi ringan tanpa adanya sifat judgmental dan menunjukkan bahwa peer influence gentle lebih efektif dari propaganda yang bertebaran.

Usulan untuk kampus dari saya pribadi: Pertama, buat sustainability memiliki sifat personal. Komunikasikan “karena kamu pakai reusable bottle, kampus kurangi 10.000 plastik bulan ini.”

Kedua, berikan insentif seperti sistem poin yang bisa ditukar diskon kantin.
Ketiga, atasi faktor ribet, label tempat sampah jelas bergambar, water dispenser tiap lantai.

Keempat, ciptakan visible student champions yang relatable.
Kelima, integrasikan sustainability dalam keseharian. Keenam, akui gap ini ada dengan jujur.

UNAIR memiliki infrastruktur yang mendukung sustainability, kebijakan progresif, dan ranking yang hebat. Namun green campus akan tetap terlihat performative selama mahasiswa belum benar-benar ikut serta dalam aksinya dan sadar. UI GreenMetric mengukur indikator kuantitatif, namun ada satu indikator kualitatif yang susah diukur, yaitu seberapa besar sustainability mindset telah tertanam dalam kesadaran sivitas akademika. Mungkin suatu hari, mahasiswa UNAIR akan natural memilah sampah, membawa tumbler sesederhana membawa handphone, dan berjalan kaki sebagai opsi utama. Tetapi hari itu belum tiba saat ini.

Green campus bukan hanya tentang pohon dan taman. Green campus adalah tentang green mindset yang dijalani tiap hari oleh setiap orang yang menginjak kampus. Untuk mencapai itu, kita butuh culture shift yang dimulai dari mengakui di mana kita sebenarnya berada, bukan di mana kita berpura-pura berada. Sustainability sejati bukan yang tertulis di laporan tahunan, melainkan yang termanifestasi dalam kebiasaan kecil sehari-hari setiap individu di kampus.

Nawal Zamar Ikram

Mahasiswa Universitas Airlangga

Share10SendTweet6
Previous Post

Apresiasi Wali Kota untuk Petugas Kebersihan Pekanbaru

Next Post

RUKKI, TCSC IAKMI, dan CISDI Tekankan Perlunya Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum terhadap Rokok Elektronik

Next Post
RUKKI, TCSC IAKMI, dan CISDI Tekankan Perlunya Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum terhadap Rokok Elektronik

RUKKI, TCSC IAKMI, dan CISDI Tekankan Perlunya Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum terhadap Rokok Elektronik

Serambi Ramadan Hadirkan Buka Puasa Sambil Berbagi di Surabaya

Serambi Ramadan Hadirkan Buka Puasa Sambil Berbagi di Surabaya

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Bank Lampung Serahkan Hadiah Simpeda Rp200 Juta kepada Nasabah

Bank Lampung Serahkan Hadiah Simpeda Rp200 Juta kepada Nasabah

21 Februari 2026
Pasar Takjil Ramadan Semarakkan Prajurit Kulon Mojokerto

Pasar Takjil Ramadan Semarakkan Prajurit Kulon Mojokerto

21 Februari 2026
Serambi Ramadan Hadirkan Buka Puasa Sambil Berbagi di Surabaya

Serambi Ramadan Hadirkan Buka Puasa Sambil Berbagi di Surabaya

21 Februari 2026
RUKKI, TCSC IAKMI, dan CISDI Tekankan Perlunya Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum terhadap Rokok Elektronik

RUKKI, TCSC IAKMI, dan CISDI Tekankan Perlunya Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum terhadap Rokok Elektronik

21 Februari 2026
Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa

Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa

21 Februari 2026

POPULAR

  • Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa

    Ketika Hijau Kampus Belum Sampai ke Hati Mahasiswa

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • BRIN dan Royal Botanic Gardens Kew Inggris Berkolaborasi terkait Bank Benih

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Jaringan Konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera dan Kesiapan Tol Fungsional

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Imlek Nasional 2026 Angkat Harmoni Budaya Nusantara

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Garuda Indonesia Group Turunkan Harga Tiket Pesawat

    19 shares
    Share 8 Tweet 5

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.