• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
9 Juli 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home OPINION

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia

by SDGS Admin
11 Februari 2026
Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia
28
SHARES
172
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Masalah Kebijakan (Policy Problem)

1. Distorsi Fungsi PTN
PTN dengan model PTNBH mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas menuju ranking global menjadi industri kursus kuliah massal.  Penerimaan mahasiswa baru PTN semakin menggila, satu kali penerimaan mahasiswa baru bisa mencapai 26 ribu setahun, seperti UNESA. PTN semakin berfungsi sebagai penyerap lulusan SMA secara masif, bukan produsen ilmu pengetahuan. Seperti terlihat dari gambar ini satu kali tarik Unesa menerima 26 ribu mahasiswa, UB 18,5 ribu mahasiswa, UGM 18,4 ribu mahasiswa.  Fenomena ini baru setelah PTN dan PTNBH harus mencari pendapatan sendiri dan mengerahkan tenaga menerima mahasiswa baru dalam jumlah sangat fantastis.
Ini tidak masuk akal dan sulit bagi bangsa ini untuk mendorong universitasnya unggul dalam riset dan bisa menjadi pemain di tingkat global dengan cara seperti itu, menjadi teaching university, yang megeruk pendapatan dari mahasiswa sebanyak mungkin.  PTN kemudian mengelola mahasiswa pada kisaran 60 ribu sampai 80 ribu mahasiswa.  Berapa jumlah mahasiswa kampus top dunia? Harvard hanya menampung 23 ribu mahasiswa berkualitas, Oxford juga tidak jauh berbeda, NUS mempunyai 35 ribu mahasiswa. Jadi jangan berharap Indonesia tampil dalam rangking dunia dengan cara mengerahkan tenaganya menjadi teaching university dan meninggalkan modal research university.
2. Daya saing global Rendah
Seperti terlihat di bawah ini, tidak ada kampus Indonesia terdepan yang mencapai ranking 100 dunia. Sementara itu, tetangga kita University of Malaya masuk dalam ranking 58 global dalam katagori QS ranking. Tetanggan kita Singapura kampusnya masuk ranking 8 (NUS) dan ranking 12 (NTU). Jadi kita tertinggal karena kampus-kampus negeri yang berada di depan hanya sibuk merup mahasiswa baru sebanyak-banyaknya untuk menaikkan income dalam rangka memenuhi biaya operasional kampus.
Kebijakan seperti ini membunuh pelan-pelan kampus PTN utama karena diberi beban menutup biaya operasional kampusnya.  Sementara itu, dana pendidikan 20 persen dicabik-cabik hilang masuk ke kegiatan-kegiatan yang dikait-kaitkan dengan pendidikan tetapi sebenarnya merupakan bidang  di luar  pendidikan.  Kebijakan ini sudah salam arah karena akan  menggerus mutu akademik dan melemahkan peran strategis PTN dan tertinggal jauh dari kampus-kampus negara tetangga Malaysia dan Singapura.
3. Ketimpangan PTN–PTS yang Tidak Sehat
Kebijakan negara menciptakan persaingan tidak setara dimana 125 PTN menampung mahasiswa 3,9 juta mahasiswa. Sementara itu 3000 kampus swasta menampung 4,5 juta mahasiswa.  Dengan PTN merebut mahasiswa dalam jumlah besar, maka PTS lambat laun mati.  Peranan masyarakat, organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah semakin terpinggirkan dengan kebijakan yang memperhadapkan PTN dan PTS dalam persaingan besar yang saling mematikan. Peran seharusnya PTN utama masuk ke ranking global tersendat karena harus menerima banyak mahasiswa untuk pembiayaan operasional kampusnya.
Persaingan tidak sehat PTN PTS
Indikator PTN PTS
Sumber dana APBN + UKT Mahasiswa
Rata-rata mahasiswa ±31.000 ±1.600
Posisi kebijakan Dominan Terpinggirkan
Negara secara tidak langsung melemahkan kampus masyarakat sipil (Muhammadiyah, NU, yayasan pendidikan) yang justru menyerap mayoritas mahasiswa nasional.  Peranan masyarakat yang sudah lama berjalan geringgirkan dengan kebijakan bersaing bebas seperti ini.
4. Riset Lemah akibat Salah Orientasi
Fokus PTN pada penerimahaan mahasiswa S1 secara massal, maka tak terhindarkan terjebak menjadi teaching university bukan lagi research university karena:
•beban mengajar dosen berlebihan,
•riset menjadi administratif,
•dana riset terfragmentasi,
•budaya akademik kalah oleh birokrasi struktural.
Akibatnya, kontribusi PTN terhadap inovasi nasional rendah. Dan seperti dijelaskan tadi daya saing globalnya rendah dan menjadi kampus kelas tiga di tingkat global.  Masalah ini struktural, masalah kebijkan bukan masalah yang bersifat teknis karena kampusnugtama terlempar dari katagore research university dan menjelma menjadi kampus pengajaran.
Dampaknya jika kebijakan ini tidak dikoreksi, maka seluruh elemen pendidikan tinggi terkenan akibatnya. Jika kebijakan saat ini berlanjut, maka:
  • PTN menjadi universitas besar tapi biasa,
  • PTS terus melemah dan banyak yang kolaps,
  • Indonesia gagal membangun universitas kelas dunia,
  • Ekonomi nasional kehilangan mesin inovasi.
5. Rekomendasi Kebijakan (Policy Options)
1. Pembatasan Terencana Mahasiswa S1 di PTN Besar
  • Tetapkan student cap nasional untuk PTN flagship
  • Prioritaskan selektivitas dan mutu, bukan volume
2. Reposisi PTN sebagai Universitas Riset

Alihkan ekspansi ke:

  • S2 dan S3 berbasis riset
  • postdoctoral program
  • kolaborasi riset internasional
3. Penguatan Sistemik PTS
  • Insentif fiskal & riset untuk PTS berkualitas
  • Skema matching fund negara–masyarakat
  • PTS menjadi tulang punggung GER nasional
4. Reformasi Insentif Dosen
Prioritasan:
  • Publikasi bereputasi,
  • Sitasi,
  • Paten,
  • Kolaborasi global
  • •Kurangi dominasi jabatan struktural
5. Pembangunan Klaster Riset Nasional
Fokus pada bidang strategis:
  • Energi,
  • Pangan,
  • Kesehatan,
  • Digital,
  • Kebijakan publik

 

BACA JUGA

Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

4 Juni 2026
Usulan Smart State Trading dan Tata Kelola Ekspor SDA Indonesia

Usulan Smart State Trading dan Tata Kelola Ekspor SDA Indonesia

27 Mei 2026
Dolar, Wakaf, dan Pembangunan Berkelanjutan: Peluang di Tengah Krisis

Dolar, Wakaf, dan Pembangunan Berkelanjutan: Peluang di Tengah Krisis

25 Mei 2026

Prof. Didik J Rachbini, PhD
(Rektor Universitas Paramadina)

Share11SendTweet7
Previous Post

Badung Perkuat Gerakan Bersih Pantai di Kedonganan

Next Post

Buka Rakernas PHRI, Menpar Minta Industri Perhotelan Kelola Sampah Secara Mandiri

Next Post
Buka Rakernas PHRI, Menpar Minta Industri Perhotelan Kelola Sampah Secara Mandiri

Buka Rakernas PHRI, Menpar Minta Industri Perhotelan Kelola Sampah Secara Mandiri

KPB Tegaskan Pembangunan Industri Selaras Budaya Lokal di Hari Kaseh Sultan Kutai

KPB Tegaskan Pembangunan Industri Selaras Budaya Lokal di Hari Kaseh Sultan Kutai

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Lapas Palangka Raya Panen Melon Premium

Lapas Palangka Raya Panen Melon Premium

9 Juli 2026
Honda Vario Evo 160 Hadir dengan Tampilan Baru

Honda Vario Evo 160 Hadir dengan Tampilan Baru

9 Juli 2026
Pertamina Perkuat Program Gizi Anak di Margasari

Pertamina Perkuat Program Gizi Anak di Margasari

9 Juli 2026
Bendali Sungai Ampal Diperkuat untuk Kurangi Banjir

Bendali Sungai Ampal Diperkuat untuk Kurangi Banjir

9 Juli 2026
Bupati Buleleng Fishing Tournament 2026 Perkuat Promosi Wisata Bahari dan Ekonomi Pesisir

Bupati Buleleng Fishing Tournament 2026 Perkuat Promosi Wisata Bahari dan Ekonomi Pesisir

8 Juli 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    1086 shares
    Share 434 Tweet 272
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    800 shares
    Share 320 Tweet 200
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    842 shares
    Share 337 Tweet 211
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    800 shares
    Share 320 Tweet 200

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.